Minggu, 19 April 2026

BBM Nonsubsidi Naik

BBM Industri Naik, APINDO Kaltara Ingatkan Dampak Besar hingga Ancaman PHK

Kenaikan BBM industri mulai menekan dunia usaha di Kaltara, APINDO memperingatkan dampak meluas hingga potensi efisiensi dan PHK.

|
HO
DAMPAK KENAIKAN BBM - Ketua Dewan Pimpinan Provinsi Asosiasi Pengusaha Indonesia (DPP APINDO) Kaltara, Peter Setiawan, menyebut meski belum ada kepastian kenaikan BBM secara umum di Kaltara, dampak dari kenaikan BBM untuk sektor industri sudah mulai terasa di lapangan. (HO) 

Ringkasan Berita:
  • Kenaikan BBM industri picu lonjakan biaya logistik dan operasional usaha.
  • Sektor seperti perkayuan dan perikanan paling terdampak karena harga jual stagnan.
  • APINDO Kaltara ingatkan potensi efisiensi hingga ancaman PHK jika kondisi berlanjut.

TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri mulai memberi tekanan besar terhadap dunia usaha di Kalimantan Utara (Kaltara), bahkan berpotensi memicu efisiensi hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ketua Dewan Pimpinan Provinsi Asosiasi Pengusaha Indonesia atau APINDO Kaltara, Peter Setiawan, menyebut meski belum ada kepastian kenaikan BBM secara umum di Kalimantan Utara, dampak dari kenaikan BBM untuk sektor industri sudah mulai terasa di lapangan.

“Sementara ini belum ada informasi kenaikan. Cuma yang naik itu kan BBM untuk industri ya. Sementara industri yang naik tinggi ya, itu dampaknya memang banyak, pengaruh besar sekali,” ujar Peter, Minggu (18/4/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan biaya di sektor industri berdampak langsung pada lonjakan ongkos logistik, terutama untuk pengiriman hasil produksi.

Baca juga: DPR Peringatkan Pemerintah, Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Jangan Merembet ke Harga Kebutuhan Pokok

Salah satu contohnya adalah biaya kontainer untuk pengiriman komoditas perikanan seperti udang ke Surabaya yang mengalami kenaikan signifikan.

“Kontainer sudah naik sekarang. Dari biasanya Rp37 juta naik jadi Rp39,5 juta. Itu kontainer pendingin untuk muat udang,” jelasnya.

Kondisi tersebut dinilai semakin berat karena kenaikan biaya tidak diikuti penyesuaian harga jual produk.

Hal ini membuat margin keuntungan pelaku usaha semakin tertekan.

Baca juga: Harga BBM Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Bahlil: Itu untuk Orang Mampu

Peter menyoroti sektor perkayuan sebagai salah satu yang paling terdampak.

Menurutnya, harga jual kayu relatif stagnan, sementara biaya operasional terus meningkat.

“Kalau yang di perkayuan, harga kayu enggak naik, tapi paceknya sudah naik. Sekarang naik lagi minyak. Ini dampaknya besar sekali, saya takutnya ada PHK,” ungkapnya.

Ia menegaskan, kondisi ini berpotensi membuat perusahaan kesulitan bertahan apabila tidak ada penyesuaian kebijakan.

Baca juga: Harga 3 Jenis BBM Nonsubsidi Naik, Perbandingan Harga BBM di SPBU Pertamina, BP, Vivo dan Shell

Efisiensi menjadi langkah yang hampir tidak terhindarkan.

“Kalau perusahaan tidak bisa jalan dengan harga yang dikerjakan enggak naik-naik, cuma bahan bakunya naik semua, itu bahaya sekali,” tegasnya.

Sebagai organisasi yang menaungi berbagai sektor usaha, mulai dari pertambangan, perkayuan, perikanan hingga cold storage, APINDO menilai dampak kenaikan biaya ini tidak merata.

Sumber: Tribun kaltara
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved