Berita Kaltara Terkini
Tarakan Bebas Flu Burung, Ini Perbedaan dengan Penyakit Newcastle Disease pada Ayam
Tarakan masih bebas flu burung. Dinas jelaskan perbedaan dengan penyakit ND dan langkah antisipasi dini
Ringkasan Berita:
- Tarakan dinyatakan masih bebas kasus flu burung berdasarkan hasil monitoring aktif.
- Penyakit Newcastle Disease (ND) hanya menular antar unggas dan tidak berbahaya bagi manusia.
- Tingkat kematian ayam di Tarakan masih normal, berkisar 1-2 persen dari populasi
TRIBUNKALTIM.CO - Pihak medik veteriner dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Tarakan memastikan bahwa hingga saat ini wilayah Tarakan masih berstatus bebas dari kasus flu burung.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh drh Richard, Medik Veteriner pada Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (Keswan).
Menurutnya, pengawasan dilakukan secara aktif melalui sistem pelaporan berbasis masyarakat.
Pelibatan berbagai elemen seperti peternak, pelaku usaha, RT, RW, Babinkamtibmas, hingga Babinsa menjadi bagian penting dalam deteksi dini penyakit unggas.
“Monitoring dan pengawasan dilakukan berdasarkan laporan. Jika ada indikasi kematian ayam secara massal atau gejala mencurigakan, masyarakat diharapkan segera melapor,” jelasnya.
Baca juga: Pasar Tenguyun Tarakan Sepi Pembeli Ayam Usai Tersiar Kabar Flu Burung
Perbedaan Flu Burung dan Penyakit Newcastle Disease
Dalam penjelasannya, drh Richard menegaskan bahwa terdapat penyakit lain yang kerap disalahartikan sebagai flu burung, yakni Newcastle Disease (ND) atau yang dikenal sebagai penyakit ngorok.
Gejala awal kedua penyakit ini memang dapat terlihat serupa, seperti kematian ayam dalam jumlah banyak dan dalam waktu cepat. Namun, terdapat perbedaan mendasar terutama dari sisi dampaknya terhadap manusia.
“ND hanya menular antar unggas dan tidak bersifat zoonosis, artinya tidak menular ke manusia,” tegasnya.
Untuk memastikan diagnosis yang akurat, setiap laporan akan ditindaklanjuti dengan pengambilan sampel yang kemudian diuji di laboratorium terakreditasi, seperti UPTD Laboratorium Provinsi Kalimantan Utara maupun Balai Veteriner Banjarbaru.
Respons Cepat dan Langkah Biosekuriti
Kabid Peternakan dan Keswan, Paulus D, menambahkan bahwa pihaknya tidak hanya menunggu hasil uji laboratorium, tetapi juga langsung turun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan jika ditemukan kasus kematian unggas dalam jumlah signifikan.
Baca juga: Wawali Tarakan Wanti-wanti LPG Naik: Jangan Sampai Mahal Tapi Langka
Langkah biosekuriti juga diterapkan secara ketat guna mencegah penyebaran penyakit, termasuk pengawasan terhadap lalu lintas unggas yang masuk ke wilayah Tarakan.
Kondisi Peternakan Masih Stabil
Hingga saat ini, kondisi peternakan ayam di Tarakan dinilai masih dalam batas normal. Berdasarkan data terbaru, tingkat kematian ayam hanya berkisar antara 1 hingga 2 persen dari total populasi.
Pemerintah juga terus melakukan pendataan dan pemantauan langsung ke wilayah peternakan, termasuk kawasan Juata.
| Mulai Hari Ini, Susi Air Layani Rute Tanjung Selor–Long Apung, Jadwal dan Harga Tiketnya |
|
|---|
| Buron Selama 3 Bulan, Tersangka Kasus Korupsi Aplikasi ASITA Kaltara Diamankan di Sulsel |
|
|---|
| Sabu 3 Kg Gagal Dikirim ke Sulawesi Tengah Usai Diamankan Tim Polda Kaltara |
|
|---|
| Harga LPG Bright Gas Naik di Tarakan, Tabung 12 Kg Tembus Rp280 Ribu |
|
|---|
| Sampah Bulungan Melonjak Usai Lebaran 2026, DLH Catat Capai 85 Ton |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260424_Pedagang-Ayam-Unggas-Pasar-di-Kaltara-Tarakan.jpg)