Lifestyle
Cuaca Ekstrem Tingkatkan Risiko ISPA dan Pneumonia, Penyakit Paling Sering Muncul
Perubahan cuaca yang semakin tidak menentu belakangan ini berdampak langsung pada kesehatan paru-paru.
Ringkasan Berita:
- Cuaca ekstrem dapat menurunkan daya tahan tubuh dan memicu gangguan pernapasan seperti ISPA dan pneumonia.
- Musim hujan maupun kemarau sama-sama berisiko, baik karena kelembapan tinggi maupun paparan debu dan polusi.
- Partikel polutan PM 2,5 dapat masuk hingga ke alveoli paru dan menimbulkan gangguan kronis, bahkan memengaruhi kesehatan jantung.
TRIBUNKALTIM.CO – Perubahan cuaca yang semakin tidak menentu belakangan ini tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan paru-paru.
Dokter Spesialis Paru, dr. Santi Rahayu Dewayanti, Sp.P, MM, FCCP, menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem, yakni suhu yang sangat panas atau sangat dingin, dapat memicu gangguan pernapasan serius.
“Kalau kita sebut ekstrem biasanya kadang dingin sekali atau panas sekali. Nah, kenapa berdampak tidak baik pada kesehatan paru? Karena sesuatu yang ekstrem pasti tidak baik,” ujarnya dalam talkshow kesehatan virtual di akun Instagram Kementerian Kesehatan, Minggu (5/4/2026).
Baca juga: Musim Hujan Sampai Kapan? BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncak Agustus
Menurut dr. Santi, cuaca ekstrem dapat menurunkan daya tahan tubuh dan memicu peradangan pada saluran napas.
Gangguan yang paling sering muncul adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), ditandai dengan batuk, pilek, flu berkepanjangan, hingga demam ringan.
Jika tidak ditangani, ISPA bisa berkembang menjadi pneumonia, yaitu infeksi pada jaringan paru.
Selain ISPA, bronkitis juga kerap muncul akibat perubahan cuaca.
Pada musim hujan, kelembapan tinggi dapat memperburuk kondisi penderita asma karena saluran napas lebih mudah menyempit.
Baca juga: Baru Awal Kemarau, 77 Titik Panas Sudah Muncul di Kaltim
Sementara pada musim kemarau, debu dan polusi meningkat.
Partikel berbahaya seperti PM 2,5—zat polutan berukuran sangat kecil yang bisa masuk hingga ke alveoli (bagian terdalam paru)—berpotensi menimbulkan gangguan kronis.
“Apabila PM 2,5 yang banyak masuk akan bisa menyebabkan gangguan pernapasan jangka panjang,” jelasnya.
Ia menambahkan, paparan polusi tidak hanya berdampak pada paru, tetapi juga bisa memicu penyakit jantung.
Fenomena batuk bergantian di kantor atau rumah, menurut dr. Santi, sering dianggap sepele padahal bisa menjadi tanda menurunnya imunitas akibat cuaca ekstrem.
Kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan paru menjadi kunci agar tidak jatuh pada kondisi lebih berat. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Cuaca Ekstrem Bikin Paru 'Drop', Ini Penyakit Paling Sering Muncul Saat Hujan dan Panas Berlebihan
| Super Flu Masuk Indonesia: Ini Gejala, Cara Penanganan, dan Sebaran Kasus di 8 Provinsi |
|
|---|
| 24 Jam Berhenti Belanja! Rayakan Buy Nothing Day Setiap 26 November |
|
|---|
| 4 Khasiat Lentil yang Sanggup Turunkan Kolesterol Lebih Cepat dari Oat |
|
|---|
| 5 Manfaat Edamame yang Ternyata Ampuh Redakan Gejala Menopause |
|
|---|
| Rahasia Perawatan Rambut dengan Minyak Vitamin E, Berikut Cara Pakai dan Khasiatnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250725_Musim-Kemarau-di-Kutai-Timur-Juli-2025.jpg)