Senin, 4 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Alasan Inggris Tegas Menolak Ikut Perang Iran Meski Diancam Donald Trump

Pemerintah Inggris menegaskan tidak akan ikut serta dalam perang melawan Iran meskipun mendapat tekanan kuat dari Presiden AS, Donald Trump.

Tayang: | Diperbarui:
Instagram whitehouse
TRUMP ANCAM INGGRIS - Foto Presiden AS, Donald Trump yang diunggah di akun Instagram whitehouse. Meski diancam Donald Trump, pemerintah Inggris menegaskan tidak akan ikut serta dalam perang melawan Iran, Kamis (16/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Inggris menolak bergabung dalam perang melawan Iran demi kepentingan nasional, keamanan warga, dan stabilitas ekonomi.
  • Presiden Trump mengecam keputusan tersebut dan mengancam meninjau ulang perjanjian dagang, serta mengkritik kebijakan domestik Inggris.
  • Pemerintah Inggris menegaskan hubungan dengan AS tetap kuat, dengan komunikasi bilateral aktif untuk meredam ketegangan.

TRIBUNKALTIM.CO - Pemerintah Inggris menegaskan tidak akan ikut serta dalam perang melawan Iran meskipun mendapat tekanan kuat dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Perdana Menteri Keir Starmer menyampaikan sikap resmi tersebut dalam sidang parlemen, Kamis (16/4/2026), dengan alasan keputusan itu tidak sesuai kepentingan nasional Inggris.

Starmer menekankan bahwa keterlibatan langsung dalam konflik Timur Tengah berisiko memperluas ketegangan regional dan mengancam keselamatan warga Inggris, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Baca juga: IMF Sebut Ekonomi Dunia Bisa Runtuh jika Perang Iran Berlanjut, Inggris Salahkan Donald Trump

Selain faktor stabilitas kawasan, mengutip dari Independent.co pertimbangan keamanan warga negara juga menjadi alasan penting. Inggris menilai keterlibatan dalam perang dapat meningkatkan risiko serangan balasan serta mengancam keselamatan warga Inggris, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Dari sisi ekonomi, Inggris juga mempertimbangkan dampak besar konflik terhadap stabilitas global, khususnya sektor energi.

INGGRIS TOLAK PERANG - Foto PM Inggris Keir Starmer saat menyambut kedatangan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Downing Street, 2 Maret 2025. Inggris menolak ikut perang Iran meski ditekan Trump. Ancaman dagang hingga kritik keras memicu ketegangan, namun London tetap jaga hubungan dengan AS.
INGGRIS TOLAK PERANG - Foto PM Inggris Keir Starmer saat menyambut kedatangan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Downing Street, 2 Maret 2025. Inggris menolak ikut perang Iran meski ditekan Trump. Ancaman dagang hingga kritik keras memicu ketegangan, namun London tetap jaga hubungan dengan AS. (Instagram/Instagram resmi PM Inggris Keir Starmer @keirstarmer)

Ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia, yang dapat memicu kenaikan harga energi dan berdampak langsung pada perekonomian Inggris.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, keputusan Inggris untuk menolak bergabung dalam perang Iran mencerminkan strategi yang berfokus pada deeskalasi, meskipun ada tekanan politik dan ancaman terhadap hubungan bilateral.

Sikap ini mencerminkan kebijakan luar negeri Inggris yang lebih independen, meski berpotensi menimbulkan gesekan dengan Washington. 

Baca juga: Setelah Keputusan Trump, Iran Ajukan Syarat untuk Longgarkan Pembatasan Selat Hormuz

“Inggris tidak akan terseret dalam perang yang tidak sesuai dengan kepentingan nasional,” tegas Starmer.

Trump Kecam Inggris

Di sisi lain, Presiden Donald Trump merespons keras keputusan tersebut.

Dalam wawancara media, ia mengkritik Inggris karena dianggap tidak mendukung sekutu saat dibutuhkan.

Pernyataan tersebut tidak hanya bersifat retoris, tetapi juga disertai ancaman konkret di bidang ekonomi.

Trump membuka kemungkinan untuk meninjau ulang perjanjian perdagangan antara kedua negara yang selama ini menjadi salah satu pilar penting hubungan bilateral.

Kesepakatan tersebut sebelumnya memberikan keuntungan signifikan, termasuk keringanan tarif bagi sektor industri seperti baja dan otomotif Inggris.

Namun, dengan nada tegas, Trump menyatakan bahwa perjanjian itu “selalu bisa diubah”, menandakan adanya tekanan politik terhadap pemerintah Inggris.

Baca juga: Dugaan Keterlibatan China Menguat, Iran Gunakan Satelit untuk Intai dan Serang Pangkalan AS

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved