Iran Vs Amerika Memanas
Alasan Inggris Tegas Menolak Ikut Perang Iran Meski Diancam Donald Trump
Pemerintah Inggris menegaskan tidak akan ikut serta dalam perang melawan Iran meskipun mendapat tekanan kuat dari Presiden AS, Donald Trump.
Ringkasan Berita:
- Inggris menolak bergabung dalam perang melawan Iran demi kepentingan nasional, keamanan warga, dan stabilitas ekonomi.
- Presiden Trump mengecam keputusan tersebut dan mengancam meninjau ulang perjanjian dagang, serta mengkritik kebijakan domestik Inggris.
- Pemerintah Inggris menegaskan hubungan dengan AS tetap kuat, dengan komunikasi bilateral aktif untuk meredam ketegangan.
TRIBUNKALTIM.CO - Pemerintah Inggris menegaskan tidak akan ikut serta dalam perang melawan Iran meskipun mendapat tekanan kuat dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Perdana Menteri Keir Starmer menyampaikan sikap resmi tersebut dalam sidang parlemen, Kamis (16/4/2026), dengan alasan keputusan itu tidak sesuai kepentingan nasional Inggris.
Starmer menekankan bahwa keterlibatan langsung dalam konflik Timur Tengah berisiko memperluas ketegangan regional dan mengancam keselamatan warga Inggris, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Baca juga: IMF Sebut Ekonomi Dunia Bisa Runtuh jika Perang Iran Berlanjut, Inggris Salahkan Donald Trump
Selain faktor stabilitas kawasan, mengutip dari Independent.co pertimbangan keamanan warga negara juga menjadi alasan penting. Inggris menilai keterlibatan dalam perang dapat meningkatkan risiko serangan balasan serta mengancam keselamatan warga Inggris, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Dari sisi ekonomi, Inggris juga mempertimbangkan dampak besar konflik terhadap stabilitas global, khususnya sektor energi.
Ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia, yang dapat memicu kenaikan harga energi dan berdampak langsung pada perekonomian Inggris.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, keputusan Inggris untuk menolak bergabung dalam perang Iran mencerminkan strategi yang berfokus pada deeskalasi, meskipun ada tekanan politik dan ancaman terhadap hubungan bilateral.
Sikap ini mencerminkan kebijakan luar negeri Inggris yang lebih independen, meski berpotensi menimbulkan gesekan dengan Washington.
Baca juga: Setelah Keputusan Trump, Iran Ajukan Syarat untuk Longgarkan Pembatasan Selat Hormuz
“Inggris tidak akan terseret dalam perang yang tidak sesuai dengan kepentingan nasional,” tegas Starmer.
Trump Kecam Inggris
Di sisi lain, Presiden Donald Trump merespons keras keputusan tersebut.
Dalam wawancara media, ia mengkritik Inggris karena dianggap tidak mendukung sekutu saat dibutuhkan.
Pernyataan tersebut tidak hanya bersifat retoris, tetapi juga disertai ancaman konkret di bidang ekonomi.
Trump membuka kemungkinan untuk meninjau ulang perjanjian perdagangan antara kedua negara yang selama ini menjadi salah satu pilar penting hubungan bilateral.
Kesepakatan tersebut sebelumnya memberikan keuntungan signifikan, termasuk keringanan tarif bagi sektor industri seperti baja dan otomotif Inggris.
Namun, dengan nada tegas, Trump menyatakan bahwa perjanjian itu “selalu bisa diubah”, menandakan adanya tekanan politik terhadap pemerintah Inggris.
Baca juga: Dugaan Keterlibatan China Menguat, Iran Gunakan Satelit untuk Intai dan Serang Pangkalan AS
| PM Italia Tangguhkan Kerja Sama Pertahanan dengan Israel, Respons Ketegangan di Lebanon dan Gaza |
|
|---|
| Setelah Keputusan Trump, Iran Ajukan Syarat untuk Longgarkan Pembatasan Selat Hormuz |
|
|---|
| Ancaman Iran Bikin Dunia Waswas! Senjata Baru Disiapkan, Perang Berpotensi Meluas ke Banyak Negara |
|
|---|
| Dugaan Keterlibatan China Menguat, Iran Gunakan Satelit untuk Intai dan Serang Pangkalan AS |
|
|---|
| Analis Singgung Standar Ganda Nuklir, Iran Diawasi Ketat, Israel Diduga Punya 200 Hulu Ledak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260414_Presiden-AS_Donald-Trump_mantan-Direktur-CIA-serukan-penggulingan_.jpg)