Minggu, 26 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Ancaman Iran Tutup Selat Hormuz Jika Blokade AS Berlanjut

Sebelumnya, Iran telah mengumumkan pembukaan kembali jalur tersebut untuk aktivitas pelayaran internasional.

HO//IST/Tangkap Layar/Khaberni
SELAT HORMUZ - Lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara tegas memperingatkan bahwa negaranya tidak akan segan menutup kembali Selat Hormuz jika blokade laut yang dilakukan oleh Amerika Serikat masih terus berlangsung.  

"Apakah selat itu terbuka atau tertutup, dan aturan yang mengaturnya, ditentukan di lapangan, bukan oleh media sosial," pungkasnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa Iran tidak akan menjadikan opini publik atau pernyataan politik sebagai acuan utama, melainkan kondisi nyata di lapangan sebagai dasar kebijakan.

Alasan Blokade Masih Dipertahankan oleh AS

Di sisi lain, Donald Trump memberikan penjelasan terkait keberlanjutan blokade yang dilakukan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat.

Ia menyebut bahwa langkah tersebut bersifat sementara dan merupakan bagian dari strategi diplomatik.

Dalam keterangannya kepada wartawan di Phoenix pada Jumat (17/4/2026), Donald Trump menyampaikan optimisme terhadap proses negosiasi yang sedang berlangsung dengan pihak Iran.

"Kami menjalani hari yang besar. Kita akan lihat bagaimana hasilnya, tetapi ini seharusnya baik. Kami telah melakukan beberapa diskusi yang sangat baik," ujar Trump.

Ia juga menanggapi isu adanya perbedaan signifikan antara kedua negara. Menurutnya, jika terdapat perbedaan, hal tersebut dapat diselesaikan melalui dialog.

"Jika ada, kita harus menyelesaikannya. Tapi saya rasa tidak ada terlalu banyak perbedaan yang signifikan," jelasnya.

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa meskipun situasi di lapangan masih tegang, jalur diplomasi tetap terbuka dan diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan dalam waktu dekat.

Dampak Penutupan Selat Hormuz terhadap Dunia

Meski Selat Hormuz telah kembali dibuka untuk kapal komersial, dampak dari penutupan sebelumnya masih dirasakan hingga saat ini.

Kondisi ini disampaikan oleh Wakil Presiden Kebijakan dan Advokasi dari International Rescue Committee, Kelly Razzouk.

Ia menjelaskan bahwa penutupan jalur pelayaran dan ruang udara selama beberapa minggu telah menyebabkan penumpukan barang dalam jumlah besar. Istilah “penumpukan” dalam konteks ini merujuk pada akumulasi barang logistik yang tertahan akibat terganggunya distribusi.

"Penutupan ruang udara dan rute pelayaran selama berminggu-minggu telah menciptakan simpanan signifikan yang kemungkinan akan memakan waktu berminggu-minggu, jika bukan berbulan-bulan, untuk diselesaikan," kata Razzouk.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved