Iran Vs Amerika Memanas
Donald Trump Hadapi Kondisi Pahit Imbas Perang dengan Iran
Lebih dari dua bulan setelah serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran, Presiden Donald Trump kini menghadapi kenyataan pahit.
"Trump memegang semua kendali dan memiliki semua waktu yang dibutuhkan untuk membuat kesepakatan terbaik,” tegasnya.
Iran yang Semakin Berani
Kekalahan terbesar dalam perang ini mungkin bukan terjadi di medan tempur, melainkan pada hilangnya kendali atas jalur pelayaran vital.
Sebelum perang, Selat Hormuz adalah jalur bebas bagi seperlima minyak dunia.
Kini, dengan kemampuan Iran untuk mencekik pengiriman di Selat Hormuz meski dalam keadaan militer yang lemah, posisi tawar Teheran justru dianggap lebih kuat dibandingkan sebelum konflik pecah.
“Iran menyadari, bahkan dalam keadaan lemah, mereka dapat menutup Selat Hormuz sesuka hati,” tutur Jon Alterman dari Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Ketidakpastian ini diperparah dengan munculnya kepemimpinan Iran yang jauh lebih garis keras.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kini diyakini mendominasi kekuasaan setelah terbunuhnya beberapa tokoh kunci, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Seruan Trump agar rakyat Iran menggulingkan pemerintahan mereka pun sejauh ini tampak tidak membuahkan hasil.
Risiko "Konflik Beku"
Di dalam internal pemerintahan AS, muncul opsi-opsi darurat jika kebuntuan ini terus berlanjut.
Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan blokade angkatan laut yang berkepanjangan selama berbulan-bulan untuk memaksa denuklirisasi.
Di saat yang sama, Komando Pusat AS (Centcom) juga disebut menyiapkan rencana serangan singkat dan dahsyat untuk merebut kembali sebagian Selat Hormuz.
Namun, para diplomat Eropa skeptis bahwa langkah ini akan segera mengakhiri ketegangan.
Ada kekhawatiran bahwa perang ini akan berubah menjadi "perang dingin", sebuah situasi di mana tidak ada perdamaian namun pertempuran skala besar juga berhenti.
Hal ini akan memaksa AS untuk tetap menempatkan pasukan dalam jumlah besar di Timur Tengah, sebuah langkah yang bertentangan dengan janji kampanye Trump untuk menghindari intervensi asing.
“Iran tidak terpecah belah atau menyerah, mereka sedang mengulur waktu,” kata peneliti senior di Center for International Policy, Sina Toossi.
Strategi menunggu ini tampaknya sengaja dilakukan Teheran untuk melihat seberapa kuat ekonomi AS menahan beban harga energi sebelum akhirnya Trump dipaksa menyerah oleh tekanan domestiknya sendiri. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com
| Trump Berkonflik dengan Kanselir Jerman, AS Tarik 5.000 Tentaranya dari Berlin |
|
|---|
| Trump Sebut AS 'Seperti Bajak Laut' di Tengah Memanasnya Konflik Iran di Selat Hormuz |
|
|---|
| Trump Tolak Tawaran Damai Iran, Negosiasi Buntu dan Konflik Terancam Memanas |
|
|---|
| Iran Siap Lanjutkan Perundingan di Pakistan Jika AS Terima Proposal Baru |
|
|---|
| AS Ancam Beri Sanksi, Larang Kapal Internasional Bayar Pungutan Tol di Selat Hormuz ke Iran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260408_Donald-trump.jpg)