Iran Vs Amerika Memanas
Intelijen AS: Mojtaba Khamenei Terlibat Strategi Perang Iran meski Tak Muncul di Publik
Badan intelijen AS meyakini Mojtaba Khamenei memiliki peran penting dalam menentukan strategi perang Iran serta negosiasi dengan Trump.
Ringkasan Berita:
- Intelijen Amerika Serikat yakini Mojtaba Khamenei ikut atur strategi perang Iran meski jarang muncul di publik
- Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas usai bentrokan kapal perang AS dan Iran
- Donald Trump klaim gencatan senjata masih berlaku, tapi negosiasi dengan Iran disebut penuh ketidakpastian
TRIBUNKALTIM.CO - Badan intelijen Amerika Serikat meyakini Mojtaba Khamenei memiliki peran penting dalam menentukan strategi perang Iran serta negosiasi dengan pemerintahan Donald Trump, meski ia tidak muncul di hadapan publik setelah mengalami cedera dalam konflik terbaru.
Laporan yang dikutip dari Anadolu Agency menyebutkan, sumber-sumber intelijen AS menilai Mojtaba Khamenei tetap aktif berkomunikasi melalui kurir terpercaya dan kontak langsung selama masa pemulihan akibat luka bakar serta serpihan ledakan.
Namun demikian, pejabat Iran membantah spekulasi soal kondisi kesehatannya. Kepala protokol kantor pemimpin tertinggi Iran, Mazaher Hosseini, mengatakan kondisi Mojtaba terus membaik.
Sumber-sumber yang mengetahui penilaian intelijen AS, mengatakan bahwa masih ada ketidakpastian mengenai seberapa besar otoritas yang saat ini dijalankan Khamenei dalam struktur kepemimpinan Iran setelah serangan dalam perang tersebut menewaskan beberapa pejabat senior, termasuk ayahnya yakni Ali Khamenei.
Baca juga: Selat Hormuz Kian Memanas, Jet Tempur AS Tembaki Kapal Tanker, Iran Ungkit Soal Bom Atom
Para pejabat AS dilaporkan meyakini bahwa Mojtaba Khamenei terus berkomunikasi melalui kurir tepercaya dan kontak langsung saat pulih dari cedera yang meliputi luka bakar dan luka akibat pecahan peluru.
Sementara itu, para pejabat Iran bersikeras bahwa Mojtaba Khamenei pulih dengan baik.
Mazaher Hosseini, kepala protokol di kantor pemimpin tertinggi, mengatakan pada Jumat (8/5/2026) bahwa kondisi Khamenei telah membaik dan menepis spekulasi seputar kesehatannya.
Laporan juga menyebutkan bahwa penilaian intelijen AS menemukan kemampuan militer Iran telah melemah tetapi tidak sepenuhnya hilang akibat serangan Amerika, dengan banyak peluncur rudal yang masih beroperasi.
Ditambahkan pula bahwa anggota senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf diyakini menangani sebagian besar operasi harian pemerintah, sementara upaya diplomatik dengan pemerintahan Trump terus berlanjut.
Baca juga: Rusia dan China Siap Tolak Resolusi PBB Usulan AS dan Bahrain, Dinilai Terlalu Sudutkan Iran
Trump Tegaskan Gencatan Senjata Masih Berlaku
Pasukan AS dan Iran bentrok di Teluk, dan Uni Emirat Arab (UEA) kembali diserang, membahayakan gencatan senjata yang telah berlangsung selama sebulan dan mengguncang harapan akan solusi diplomatik untuk krisis tersebut.
Peningkatan intensitas pertempuran terjadi ketika Washington menunggu tanggapan dari Teheran atas proposalnya untuk mengakhiri konflik, yang dimulai dengan serangan udara gabungan AS-Israel di seluruh Iran pada 28 Februari 2026.
Presiden AS Donald Trump mengatakan tiga kapal perusak Angkatan Laut AS diserang saat mereka melintasi selat tersebut, jalur bagi sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair dunia yang hampir sepenuhnya ditutup oleh Iran sejak konflik dimulai.
“Tiga kapal perusak Amerika kelas dunia baru saja berhasil melewati Selat Hormuz, di bawah tembakan musuh."
"Tidak ada kerusakan pada ketiga kapal perusak tersebut, tetapi kerusakan besar dialami oleh penyerang Iran,” ungkap Trump di Truth Social, Kamis (7/5/2026).
Trump kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa gencatan senjata masih berlaku dan berusaha untuk mengecilkan insiden tersebut.
“Mereka mempermainkan kita hari ini. Kita menghancurkan mereka,” kata Trump di Washington.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas AS dan Iran Saling Serang di Selat Hormuz
Dilansir Al Arabiya, komando militer gabungan tertinggi Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata dengan menargetkan sebuah kapal tanker minyak Iran dan kapal lainnya, serta melakukan serangan udara terhadap daerah sipil di Pulau Qeshm di selat dan daerah pesisir terdekat.
Militer mengatakan mereka menanggapi dengan menyerang kapal-kapal militer AS di sebelah timur selat dan selatan pelabuhan Chabahar.
Seorang juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran mengatakan serangan Iran menimbulkan "kerusakan signifikan," tetapi Komando Pusat AS mengatakan tidak ada aset mereka yang terkena serangan.
Press TV Iran kemudian melaporkan bahwa, setelah beberapa jam terjadi baku tembak, “situasi di pulau-pulau dan kota-kota pesisir Iran di Selat Hormuz kini kembali normal.”
Kedua pihak sesekali saling baku tembak sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 7 April, dengan Iran menyerang target di negara-negara Teluk termasuk Uni Emirat Arab.
Di sisi lain, sejak perang dimulai, Iran sering menargetkan UEA dan negara-negara Teluk lainnya, yang menjadi lokasi pangkalan AS.
Trump mengisyaratkan bahwa pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Teheran tetap sesuai rencana meskipun terjadi permusuhan pada hari Kamis, dengan mengatakan kepada wartawan, "Kami sedang bernegosiasi dengan Iran."
Sebelum serangan terbaru, AS telah mengemukakan proposal yang secara resmi akan mengakhiri konflik tersebut, tetapi tidak membahas tuntutan utama AS agar Iran menangguhkan program nuklirnya dan membuka kembali selat tersebut.
Teheran mengatakan belum mengambil keputusan mengenai rencana yang sedang disusun itu.
Meskipun demikian, Trump mengatakan Teheran telah mengakui tuntutannya bahwa Iran tidak akan pernah bisa mendapatkan senjata nuklir, sebuah larangan yang menurutnya telah dijelaskan secara rinci dalam proposal AS.
“Tidak ada peluang sama sekali. Dan mereka tahu itu, dan mereka telah menyetujuinya. Mari kita lihat apakah mereka bersedia menandatanganinya,” kata Trump.
Ketika ditanya kapan kesepakatan mungkin tercapai, Trump berkata, “Mungkin tidak akan terjadi, tetapi bisa terjadi kapan saja. Saya percaya mereka lebih menginginkan kesepakatan daripada saya.”
Perang tersebut telah menguji hubungan Trump dengan basis pendukungnya di AS, setelah ia berkampanye menentang keterlibatan Amerika Serikat dalam perang asing dan berjanji untuk menurunkan harga bahan bakar. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Meski Tak Tampil di Publik, Intelijen AS Yakin Mojtaba Khamenei Terlibat dalam Strategi Perang Iran
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260310_Pemimpin-Tertinggi-Iran_Mojtaba-Khamenei_pengganti-Ali-Khamenei.jpg)