Sabtu, 23 Mei 2026

Berita Ekbis Terkini

Harga BBM Pertamina Hari Ini 23 Mei 2026 di Seluruh SPBU, dari Pertamax hingga Dexlite

Harga BBM Pertamina hari ini, Sabtu (23/5/2026) masih sama dengan hari sebelumnya.

Tayang:
TRIBUNKALTIM.CO/BUDI SUSILO
HARGA BBM - ILUSTRASI, Antrean panjang konsumen mengisi bahan bakar minyak di SPBU Pertamina dekat Grand City Balikpapan, Kalimantan Timur pada Selasa (14/4/2026) siang. Harga BBM Pertamina hari ini, Sabtu (23/5/2026) masih sama dengan hari sebelumnya. (TRIBUNKALTIM.CO/BUDI SUSILO) 

18. Provinsi Jawa Timur

Pertamax: Rp12.300
Pertamax Turbo: Rp19.900
Pertamax Green: Rp12.900
Pertamina Dex: Rp27.900
Dexlite: Rp26.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

Baca juga: Bukan Hanya Skema Baru Pembatasan BBM Subsidi, Pemerintah Juga akan Ubah Penyaluran Elpiji 3 Kg

19. Provinsi Bali

Pertamax: Rp12.300
Pertamax Turbo: Rp19.900
Pertamina Dex: Rp27.900
Dexlite: Rp26.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

20. Provinsi Nusa Tenggara Barat

Pertamax: Rp12.300
Pertamax Turbo: Rp19.900
Pertamina Dex: Rp27.900
Dexlite: Rp26.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

21. Provinsi Nusa Tenggara Timur

Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

22. Provinsi Kalimantan Barat

Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

23. Provinsi Kalimantan Tengah

Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

24. Provinsi Kalimantan Selatan

Pertamax: Rp12.900
Pertamax Turbo: Rp20.750
Pertamina Dex: Rp29.100
Dexlite: Rp27.150
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

25. Provinsi Kalimantan Timur

Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

26. Provinsi Kalimantan Utara

Pertamax: Rp12.900
Pertamax Turbo: Rp20.750
Pertamina Dex: Rp29.100
Dexlite: Rp27.150
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

27. Provinsi Sulawesi Utara

Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

28. Provinsi Gorontalo

Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

29. Provinsi Sulawesi Tengah

Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

30. Provinsi Sulawesi Tenggara

Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

31. Provinsi Sulawesi Selatan

Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

32. Provinsi Sulawesi Barat

Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

33. Provinsi Maluku

Pertamax: Rp12.600
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

34. Provinsi Maluku Utara

Pertamax: Rp12.600
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

35. Provinsi Papua

Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

36. Provinsi Papua Barat

Pertamax: Rp12.600
Pertamina Dex: Rp28.550
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

37. Provinsi Papua Selatan

Pertamax: Rp12.600
Dexlite: Rp26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

38. Provinsi Papua Pegunungan

Pertamax: Rp12.600
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

39. Provinsi Papua Tengah

Pertamax: Rp12.600
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

40. Provinsi Papua Barat Daya

Pertamax: Rp12.600
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800

Inilah harga BBM terbaru di seluruh Indonesia, semoga membantu! 

Jaga Subsidi BBM

Pengamat energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai kebijakan mempertahankan subsidi BBM masih menjadi pilihan paling realistis di tengah ketidakpastian global dan tekanan inflasi.

“Jika melihat harga internasional dan sentimen domestik akibat pelemahan rupiah, idealnya pemerintah tetap menjaga subsidi BBM sebagai bantalan daya beli masyarakat yang terus tertekan inflasi global,” ujar Yayan, Kamis (21/5/2026).

Menurutnya, kebijakan menahan harga BBM sangat penting karena kondisi ekonomi domestik saat ini masih lemah. Ia melihat adanya ketimpangan, di mana konsumsi rumah tangga melambat sementara sektor komoditas berbasis ekspor justru menikmati keuntungan besar akibat kenaikan harga global.

Yayan menilai sektor-sektor seperti mineral dan kelapa sawit tengah menikmati windfall profit dari lonjakan harga komoditas dunia.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat penerimaan negara sekaligus menjaga keseimbangan fiskal melalui deregulasi dan perbaikan iklim investasi.

Ia juga memproyeksikan akan ada perbedaan pendekatan kebijakan terhadap BBM subsidi Pertalite dan BBM nonsubsidi Pertamax dalam beberapa bulan ke depan.

Menurutnya, pemerintah kemungkinan tetap mempertahankan harga Pertalite hingga akhir tahun sesuai komitmen awal.

Sementara itu, harga Pertamax juga dinilai sebaiknya belum dinaikkan dalam waktu dekat guna mencegah perpindahan konsumsi masyarakat secara besar-besaran ke BBM subsidi.

“Pertamax idealnya ditahan dulu sampai harga minyak mulai turun secara bertahap, kemungkinan dalam dua hingga tiga bulan ke depan ketika eskalasi perang mulai mereda atau berakhir,” jelasnya.

Tonton: Heboh Amplop Kode 1 di Kasus Bea Cukai, Siapa Pejabat Misteriusnya

Di sisi lain, wacana pembatasan volume penyaluran Pertalite dinilai belum tepat diterapkan saat ini.

Yayan berpandangan pembatasan BBM subsidi sebaiknya dilakukan ketika harga minyak dunia sudah kembali stabil agar tidak menambah tekanan terhadap masyarakat.

Ia mengusulkan skema subsidi berbasis public goods earmarking, di mana penerima subsidi BBM adalah masyarakat yang membayar Pajak Kendaraan Bermotor (PKB).

Menurutnya, konsep tersebut dapat membantu menekan konsumsi BBM sekaligus meningkatkan penerimaan pajak negara.

Dampak Lonjakan Harga Minyak terhadap Ekonomi RI

  • Harga minyak naik berdampak pada beban subsidi energi meningkat
  • Rupiah melemah berdampak pada biaya impor energi bertambah
  • Inflasi global berdampak pada daya beli masyarakat tertekan
  • Konsumsi rumah tangga melambat berdampak pada pertumbuhan ekonomi tertahan
  • Komoditas ekspor naik berdampak pada sektor sawit dan mineral untung besar (*)

Sebagian artikel ini telah tayang di Kontan.co.id 

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved