Berita Ekbis Terkini
Harga BBM Pertamina Hari Ini 23 Mei 2026 di Seluruh SPBU, dari Pertamax hingga Dexlite
Harga BBM Pertamina hari ini, Sabtu (23/5/2026) masih sama dengan hari sebelumnya.
18. Provinsi Jawa Timur
Pertamax: Rp12.300
Pertamax Turbo: Rp19.900
Pertamax Green: Rp12.900
Pertamina Dex: Rp27.900
Dexlite: Rp26.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Baca juga: Bukan Hanya Skema Baru Pembatasan BBM Subsidi, Pemerintah Juga akan Ubah Penyaluran Elpiji 3 Kg
19. Provinsi Bali
Pertamax: Rp12.300
Pertamax Turbo: Rp19.900
Pertamina Dex: Rp27.900
Dexlite: Rp26.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
20. Provinsi Nusa Tenggara Barat
Pertamax: Rp12.300
Pertamax Turbo: Rp19.900
Pertamina Dex: Rp27.900
Dexlite: Rp26.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
21. Provinsi Nusa Tenggara Timur
Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
22. Provinsi Kalimantan Barat
Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
23. Provinsi Kalimantan Tengah
Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
24. Provinsi Kalimantan Selatan
Pertamax: Rp12.900
Pertamax Turbo: Rp20.750
Pertamina Dex: Rp29.100
Dexlite: Rp27.150
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
25. Provinsi Kalimantan Timur
Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
26. Provinsi Kalimantan Utara
Pertamax: Rp12.900
Pertamax Turbo: Rp20.750
Pertamina Dex: Rp29.100
Dexlite: Rp27.150
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
27. Provinsi Sulawesi Utara
Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
28. Provinsi Gorontalo
Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
29. Provinsi Sulawesi Tengah
Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
30. Provinsi Sulawesi Tenggara
Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
31. Provinsi Sulawesi Selatan
Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
32. Provinsi Sulawesi Barat
Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
33. Provinsi Maluku
Pertamax: Rp12.600
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
34. Provinsi Maluku Utara
Pertamax: Rp12.600
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
35. Provinsi Papua
Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
36. Provinsi Papua Barat
Pertamax: Rp12.600
Pertamina Dex: Rp28.550
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
37. Provinsi Papua Selatan
Pertamax: Rp12.600
Dexlite: Rp26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
38. Provinsi Papua Pegunungan
Pertamax: Rp12.600
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
39. Provinsi Papua Tengah
Pertamax: Rp12.600
Dexlite: Rp 26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
40. Provinsi Papua Barat Daya
Pertamax: Rp12.600
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Inilah harga BBM terbaru di seluruh Indonesia, semoga membantu!
Jaga Subsidi BBM
Pengamat energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai kebijakan mempertahankan subsidi BBM masih menjadi pilihan paling realistis di tengah ketidakpastian global dan tekanan inflasi.
“Jika melihat harga internasional dan sentimen domestik akibat pelemahan rupiah, idealnya pemerintah tetap menjaga subsidi BBM sebagai bantalan daya beli masyarakat yang terus tertekan inflasi global,” ujar Yayan, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, kebijakan menahan harga BBM sangat penting karena kondisi ekonomi domestik saat ini masih lemah. Ia melihat adanya ketimpangan, di mana konsumsi rumah tangga melambat sementara sektor komoditas berbasis ekspor justru menikmati keuntungan besar akibat kenaikan harga global.
Yayan menilai sektor-sektor seperti mineral dan kelapa sawit tengah menikmati windfall profit dari lonjakan harga komoditas dunia.
Karena itu, pemerintah dinilai perlu memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat penerimaan negara sekaligus menjaga keseimbangan fiskal melalui deregulasi dan perbaikan iklim investasi.
Ia juga memproyeksikan akan ada perbedaan pendekatan kebijakan terhadap BBM subsidi Pertalite dan BBM nonsubsidi Pertamax dalam beberapa bulan ke depan.
Menurutnya, pemerintah kemungkinan tetap mempertahankan harga Pertalite hingga akhir tahun sesuai komitmen awal.
Sementara itu, harga Pertamax juga dinilai sebaiknya belum dinaikkan dalam waktu dekat guna mencegah perpindahan konsumsi masyarakat secara besar-besaran ke BBM subsidi.
“Pertamax idealnya ditahan dulu sampai harga minyak mulai turun secara bertahap, kemungkinan dalam dua hingga tiga bulan ke depan ketika eskalasi perang mulai mereda atau berakhir,” jelasnya.
Tonton: Heboh Amplop Kode 1 di Kasus Bea Cukai, Siapa Pejabat Misteriusnya
Di sisi lain, wacana pembatasan volume penyaluran Pertalite dinilai belum tepat diterapkan saat ini.
Yayan berpandangan pembatasan BBM subsidi sebaiknya dilakukan ketika harga minyak dunia sudah kembali stabil agar tidak menambah tekanan terhadap masyarakat.
Ia mengusulkan skema subsidi berbasis public goods earmarking, di mana penerima subsidi BBM adalah masyarakat yang membayar Pajak Kendaraan Bermotor (PKB).
Menurutnya, konsep tersebut dapat membantu menekan konsumsi BBM sekaligus meningkatkan penerimaan pajak negara.
Dampak Lonjakan Harga Minyak terhadap Ekonomi RI
- Harga minyak naik berdampak pada beban subsidi energi meningkat
- Rupiah melemah berdampak pada biaya impor energi bertambah
- Inflasi global berdampak pada daya beli masyarakat tertekan
- Konsumsi rumah tangga melambat berdampak pada pertumbuhan ekonomi tertahan
- Komoditas ekspor naik berdampak pada sektor sawit dan mineral untung besar (*)
Sebagian artikel ini telah tayang di Kontan.co.id
| Menkeu Purbaya Sebut Narasi Ekonomi Lesu Dipengaruhi 'Ekonom TikTok' |
|
|---|
| BI Rate Naik Jadi 5,25 Persen, Apa Dampaknya bagi Cicilan Rumah dan Kredit Masyarakat? |
|
|---|
| Mengapa Ringgit Malaysia Terus Menguat terhadap Dolar AS? Ini Faktor Pendorongnya |
|
|---|
| Alasan Rosan Roeslani Tunjuk WNA Australia Jadi Direktur Danantara yang Kelola Ekspor |
|
|---|
| Purbaya Yakin Rupiah Menguat ke Rp 15.000 per Dollar AS, Imbau Jangan Takut Krisis 1998 Terulang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260415_SPBU-di-Grand-City-Balikpapan-2026.jpg)