Berita Ekbis Terkini
Mengapa Ringgit Malaysia Terus Menguat terhadap Dolar AS? Ini Faktor Pendorongnya
Ringgit Malaysia terus menguat terhadap dolar AS dan mata uang Asia lain, ditopang meredanya tensi Timur Tengah serta ekonomi domestik yang membaik.
Ringkasan Berita:
- Ringgit Malaysia terus menguat terhadap dolar AS dan mata uang Asia lain, ditopang meredanya tensi Timur Tengah serta ekonomi domestik yang membaik.
- Malaysia diuntungkan gelombang investasi teknologi “China Plus One”, termasuk ekspansi Intel dan AMD di Penang.
- Disiplin fiskal, arus modal asing, hingga lonjakan pariwisata disebut jadi faktor utama penguatan ringgit hingga 2026.
TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar ringgit Malaysia kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan sejumlah mata uang utama dunia pada perdagangan Jumat (22/5/2026).
Penguatan mata uang Negeri Jiran ini ditopang meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah serta membaiknya kondisi fundamental ekonomi Malaysia.
Data perdagangan menunjukkan ringgit bergerak lebih kuat terhadap dolar AS dibanding penutupan sebelumnya.
Penguatan tersebut juga terjadi terhadap euro, poundsterling Inggris, yen Jepang, hingga sejumlah mata uang regional Asia Tenggara, termasuk rupiah Indonesia dan dolar Singapura.
Baca juga: Ringgit Jadi Mata Uang Terkuat di Asia Awal 2026, Ini Peringkat Rupiah Indonesia
Pada pukul 08.00 waktu setempat, ringgit menguat menjadi 3,9550/9645 (kurs beli/jual) terhadap dolar AS dari penutupan Kamis di level 3,9595/9630.
Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Mohd Afzanizam Abdul Rashid, mengatakan optimisme bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran akan segera mencapai resolusi damai terus meningkat.
Ia mengatakan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dan Brent turun masing-masing 1,49 persen dan 2,32 persen menjadi 97,79 dolar AS per barel dan 102,58 dolar AS per barel.
“Menurut kantor berita Iran, Teheran sedang mengevaluasi proposal dari AS yang telah mempersempit kesenjangan sampai batas tertentu,” katanya kepada Bernama.
Ia juga menyebut ringgit diperkirakan tetap berada dalam posisi yang kuat di tengah latar belakang makroekonomi Malaysia yang positif, terutama karena surplus neraca transaksi berjalan meningkat menjadi 3,0 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I 2026, dari 0,5 persen pada kuartal sebelumnya.
“Selain itu, posisi fiskal pemerintah terus membaik, dengan defisit fiskal menyempit menjadi 17,1 miliar ringgit Malaysia atau 3,3 persen dari PDB pada kuartal I 2026, dari 21,9 miliar ringgit Malaysia atau 4,5 persen dari PDB pada periode yang sama tahun 2025. Oleh karena itu, ringgit diperkirakan tetap mendapat dukungan kuat di kisaran 3,95 hingga 3,96 terhadap dolar AS hari ini,” katanya.
Baca juga: Purbaya Yakin Rupiah Menguat ke Rp 15.000 per Dollar AS, Imbau Jangan Takut Krisis 1998 Terulang
Pada pembukaan perdagangan, ringgit juga diperdagangkan lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang utama.
Ringgit menguat terhadap poundsterling Inggris menjadi 5,3120/3247 dari 5,3220/3267 pada penutupan Kamis, menguat terhadap euro menjadi 4,5945/6056 dari 4,6037/6078 sebelumnya, dan naik terhadap yen Jepang menjadi 2,4866/4928 dari 2,4906/4929.
Selain itu, ringgit juga menguat terhadap mata uang regional.
Ringgit menguat terhadap dolar Singapura menjadi 3,0949/1026 dari sebelumnya 3,0967/0997 dan menguat terhadap baht Thailand menjadi 12,1286/1648 dari sebelumnya 12,1304/1468.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260504_rupiah-terlemah_dollar-AS_nilai-tukar-mata-uang-sekawasan.jpg)