Berita Ekbis Terkini
Rupiah Anjlok Tembus Rp 17.800 per Dolar AS, Ini Dampaknya bagi Harga BBM dan Daya Beli
Pelemahan rupiah mulai dikhawatirkan berdampak ke harga kebutuhan pokok, biaya hidup, hingga daya beli masyarakat kelas menengah.
Ringkasan Berita:
- Rupiah kembali anjlok hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Rabu siang.
- Konflik Iran-Israel hingga kekhawatiran pasar terhadap kebijakan ekonomi pemerintah disebut memicu tekanan besar pada rupiah.
- Pelemahan rupiah mulai dikhawatirkan berdampak ke harga kebutuhan pokok, biaya hidup, hingga daya beli masyarakat kelas menengah.
TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (27/5/2026).
Berdasarkan data Bloomberg siang ini, kurs rupiah tercatat berada di level Rp17.804,50 per dolar AS atau melemah sekitar 0,05 persen dibanding perdagangan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketegangan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Kondisi tersebut mendorong investor global memindahkan aset ke dolar AS yang dinilai lebih aman sehingga memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.834 per Dolar AS Hari Ini, Mayoritas Mata Uang Asia Justru Menguat
Nilai tukar tersebut tercatat mengalami kenaikan sebesar 9 poin atau sekitar 0,05 persen dibanding perdagangan sebelumnya.
Kenaikan USD/IDR ini menandakan rupiah kembali melemah terhadap dolar AS.
Pelemahan rupiah ini, melanjutkan tekanan yang sudah terjadi pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026), ketika dolar AS menguat 0,29 persen atau bertambah 52 poin ke level Rp17.795 per dolar AS.
Bahkan, kurs rupiah sebelumnya sempat menyentuh area Rp17.787 per dolar AS dan kini terus bergerak mendekati batas psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Apa Efeknya?
Pelemahan rupiah yang terus berlanjut ini memicu kekhawatiran luas di tengah masyarakat.
Kondisi tersebut bukan hanya berdampak pada pelaku usaha besar atau investor, tetapi mulai dirasakan langsung oleh masyarakat kelas menengah hingga warga desa melalui kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, hingga menurunnya daya beli.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., menilai pelemahan rupiah saat ini dipicu kombinasi tekanan global dan persoalan domestik yang terjadi bersamaan.
Konflik geopolitik antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya disebut menjadi salah satu faktor utama yang mengguncang pasar global.
Menurut Anton, ancaman penutupan Selat Hormuz dan kenaikan harga minyak dunia membuat investor global memilih memindahkan aset mereka ke dolar AS yang dianggap lebih aman.
Baca juga: Menaker Yassierli: Pemerintah Antisipasi Potensi PHK di Tengah Pelemahan Rupiah
Akibatnya, arus modal asing keluar dari Indonesia semakin besar dan memperlemah rupiah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260323_Rupiah_Dollar-AS.jpg)