Berita Ekbis Terkini
Rupiah Anjlok Tembus Rp 17.800 per Dolar AS, Ini Dampaknya bagi Harga BBM dan Daya Beli
Pelemahan rupiah mulai dikhawatirkan berdampak ke harga kebutuhan pokok, biaya hidup, hingga daya beli masyarakat kelas menengah.
“Investor global pasti menganggap sementara ini Indonesia kurang menjanjikan untuk investasi. Mereka memilih memegang aset dolar,” ujarnya, mengutip ums.ac.id, Rabu (27/5/2026).
Selain faktor global, pasar juga menyoroti kebijakan fiskal pemerintah yang dinilai belum konsisten.
Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih dianggap baik secara sosial, namun pasar meragukan kemampuan negara membiayainya dalam jangka panjang di tengah ruang fiskal yang semakin sempit.
Anton menyebut kenaikan belanja pemerintah hingga 21 persen menjadi perhatian pelaku pasar.
Di sisi lain, pemerintah juga dihadapkan pada dilema mempertahankan subsidi BBM saat harga minyak dunia meningkat.
“Kalau subsidi dilepas dan harga BBM naik, dampaknya pasti ke inflasi. Ketika daya beli turun, aktivitas ekonomi masyarakat ikut melambat. Itu yang dibaca pasar,” jelasnya.
Baca juga: Risiko PHK Makin Besar, Rupiah Terus Melemah ke Level Rp17.796 per Dolar AS
Kelas Menengah Paling Rentan
Sementara itu, Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Dr. Arie Sujito, S.S., M.Si., menilai kelompok kelas menengah menjadi pihak yang paling rentan menghadapi situasi saat ini.
Menurutnya, pelemahan rupiah bukan sekadar angka di pasar keuangan, tetapi ancaman nyata terhadap stabilitas ekonomi rumah tangga.
Arie mengatakan, masyarakat kini mulai menghitung ulang pengeluaran, mengurangi konsumsi kebutuhan sekunder, hingga menunda berbagai rencana hidup karena biaya hidup terus meningkat.
Situasi tersebut, perlahan menimbulkan rasa tidak aman akibat menurunnya nilai tabungan dan kemampuan ekonomi keluarga.
“Kalau negara tidak memiliki kemampuan mengatasi secara cepat, dampaknya akan beruntun,” ungkapnya, mengutip ugm.ac.id.
Ia mengingatkan tekanan ekonomi berkepanjangan dapat berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas apabila masyarakat mulai kesulitan memenuhi kebutuhan primer.
Baca juga: Rupiah Kembali Anjlok ke Rp17.793 per Dolar AS, Tembus Rp18.000 Tinggal Menunggu Waktu?
Menurut Arie, kondisi tersebut bisa memengaruhi stabilitas sosial hingga menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap negara.
“Kalau sudah masuk ke kebutuhan primer itu akan punya dampak secara sosial,” jelasnya.
Arie juga menyoroti berkurangnya kapasitas fiskal daerah akibat menurunnya transfer anggaran dari pemerintah pusat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260323_Rupiah_Dollar-AS.jpg)