Minggu, 31 Mei 2026

Oleh Oleh Wartawan Tribun dari Australia

Di Australia Murid Dilarang Akses Medsos, Cari Pacar Kutu Buku dan HP Jadul

MURID-murid sekolah dasar di Australia mengaku belum tahu bermedia sosial, dan belum pernah.  Undang-undang membatasi usia memiliki akun medsos.

Tayang:
Penulis: domuambarita | Editor: Sumarsono
TRIBUNKALTIM.CO/domuambarita
BERDISKUSI - Delegasi wartawan Indonesia berdiskusi tentang isu-isu Asia, termasuk Indonesia, di kampus Universitas RMIT (Royal Melbourne Institute of Technology), Melbourne, Australia, Jumat (22/5/2026). (Tribun Network/Domu D. Ambarita) 

TRIBUNKALTIM.CO - MURID-murid sekolah dasar di Australia mengaku belum tahu bermedia sosial, dan belum pernah.  Mereka sadar, Undang-undang membatasi usia memiliki akun medsos, minimum 16 tahun. 

Sementara kalangan mahasiswa, muncul kesadaran baru menjaga kesehatan mental dengan mencegah kecanduan smartphone, beralih ke telepon zaman dulu (jadul/dumbphone), dan gemar membaca buku berbahan kertas.

***

PAGI itu, langit cerah. Cuaca dingin, 12 derajat Celsius. Sekira pukul 09.00 waktu Perth, sama dengan Waktu Indonesia Tengah (Wita), sejumlah wartawan delegasi Australia-Indonesia Senior Editors Program, menumpang minibus Mercedes-Benz. 

Kunjungan ini difasilitasi Kedubes Australia untuk Indonesia. Delegasi mendatangi Bertram Primary School, semacam sekolah dasar negeri. Sekolah ini mendidik siswa Taman Kanak-kanak hingga Kelas 6. Letaknya di pinggiran Kota Bertram, arah selatan Perth, Australia Barat.

Di ruangan kelas belajar, terdapat 13 murid, gabungan kelas 3 sampai kelas 6. Warna kulit mereka beragam, ada putih ala ras Eropa, ada juga agak legam khas India, juga sawo matang. Nuansa Indonesia terasa kental di ruangan. Awakan (badan wayang) khas Jawa tergeletak di meja. Miniatur becak di meja lain. 

Baca juga: Dubes Australia Kunjungi Balikpapan, Dukung Program Inklusi di Kota Minyak

Alat musik khas Sunda yang terbuat dari bambu, angklung di meja lainnya. Gambar-bambar sosok-sosok pewayangan berupa kartun digunting, peta wilayah Indonesia, slogan-slogan Indonesia terpampang di empat sisi dinding.

Tempelan tulisan-tulisan seperti ‘Halo, Pak, Bu’. ‘Siapa nama kamu?’ di bawahnya basaha Inggris, ‘What is your name?’. ‘Nama Saya Bob. My name is Bob’. 

Ada pula ucapan salam, ‘Selamat malam’, ‘Selamat sore’, pun poster ‘Ayo berhitung’, dan ‘Nama-nama hari’. 

Juga mengenai alam. ‘Air, water’, ‘api, fire’, ‘bumi, earth’, ‘angin, wind’. ‘Bagus’, ‘Baik sekali’, ‘menarik’, ‘fantastik’, ‘luar biasa’, ‘hebat’, dan masih banyak lagi.

Gambar orang sedang mengayuh becak, gambar penari, kerajinan batik, topeng khas Bali. 

Lembar-lembar kertas mewarnai gambar satwa endemik Australia maupun asal Indonesia disertai kesan-pesan dalam Bahasa Inggris, kemudian dibubuhi nama murid SD Negeri dari Bandung pun ditempeli di kaca. 

Tulisian sahabat pena. Sekolah Dasar Negeri Bertram Austalia rupanya bermitra dengan SD Negeri 023 Pajagalan Kota Bandung, Astana Anyar, Bandung, Jawa Barat.

Murid-murid lalu memperkenalkan diri menggunakan Bahasa Indonesia. Ya, mereka praktik percakapan Bahasa Indonesia. 

Sebagian besar mereka mengaku pernah liburan ke Pulau Bali, dan mempraktikkan Bahasa Indonesia. 

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved