Senin, 8 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Dampak Perang Iran Mulai Dirasakan, Mayoritas Warga AS Nilai Lebih Banyak Bawa Dampak Negatif

100 hari sejak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026, dukungan publik terhadap konflik tersebut masih rendah.

Tayang:
HO//ST/Tangkap Layar/Khaberni
PERANG IRAN - Kobaran api dari ledakan yang menghantam sebuah depot bahan bakar minyak di Teheran, Iran, Sabtu (7/3/2026) malam. Seratus hari sejak perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026, dukungan publik terhadap konflik tersebut masih rendah. Survei terbaru menunjukkan mayoritas warga AS menilai perang lebih merugikan daripada menguntungkan kepentingan nasional. 

Ringkasan Berita:
  • Survei menunjukkan mayoritas warga AS menilai perang Iran lebih merugikan daripada menguntungkan kepentingan nasional.
  • Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu lonjakan harga energi, membuat 79 persen pemilih AS merasa biaya hidup mereka terdampak.
  • Rendahnya dukungan publik dan tekanan ekonomi berpotensi menjadi beban politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu.

TRIBUNKALTIM.CO -  Seratus hari sejak perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026, dukungan publik terhadap konflik tersebut masih rendah.

Survei terbaru menunjukkan mayoritas warga AS menilai perang lebih merugikan daripada menguntungkan kepentingan nasional.

Jajak pendapat Critical Issues dari Universitas Maryland yang dirilis Kamis (4/6/2026) mencatat hanya 16 persen pemilih percaya AS telah memenangkan atau sedang memenangkan perang.

Baca juga: Putin: Tidak Ada Tindakan Iran yang Bisa Membenarkan Serangan Amerika Serikat

Temuan ini menunjukkan klaim kemenangan yang berulang kali disampaikan Presiden Donald Trump belum diterima publik.

Survei juga menemukan mayoritas responden, termasuk 33 persen pemilih Partai Republik, menilai perang lebih banyak membawa dampak negatif.

Sebaliknya, hanya 12 persen responden yang menilai perang memberi manfaat lebih besar.

Profesor Shibley Telhami dari Universitas Maryland menyebut hal ini sebagai titik balik penting, terutama karena sebagian pemilih Republik mulai menganggap perang merugikan kepentingan AS.

“Yang benar-benar jelas adalah bahwa hanya sedikit warga Amerika yang berpikir bahwa perang dengan Iran ini melayani kepentingan Amerika,” kata Profesor Perdamaian dan Pembangunan Universitas Maryland, Shibley Telhami, dilansir Al Jazeera.

Menurut Telhami, temuan tersebut menunjukkan perang Iran belum berhasil memperoleh legitimasi politik yang kuat di mata publik AS.

Ia bahkan menyebut perubahan sikap sebagian pemilih Republik sebagai perkembangan penting.

“Penilaian bahwa perang kini menjadi lebih merugikan kepentingan Amerika di kalangan Partai Republik merupakan titik balik penting karena tampaknya berlaku bagi anggota Partai Republik yang lebih tua maupun yang lebih muda,” ujar Telhami.

“Saya pikir itu pertanda buruk bagi Trump di masa mendatang.”

Baca juga: Balas Serangan, Iran Gempur Pangkalan Militer AS di Kuwait dan Bahrain

Dampak Konflik Mulai Terasa di Dalam Negeri

Al Jazeera melaporkan perang dimulai pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Konflik kemudian berkembang menjadi saling serang antara kedua pihak dan memicu gangguan di kawasan Teluk.

Iran menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia, sehingga memicu lonjakan harga minyak dan gas global.

Meski gencatan senjata tercapai pada 6 April, ketegangan di kawasan belum sepenuhnya berakhir. Blokade Iran di Selat Hormuz masih berlangsung, sementara Amerika Serikat mempertahankan tekanan maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Baca juga: Trump Akui Iran Kuat dan Punya Harga Diri Tinggi Meski Fasilitas Militer Hancur

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved