Minggu, 7 Juni 2026

Berita Ekbis Terkini

Rupiah Melemah ke Rp 18.095, Pemerintah dan DPR Bahas Langkah Stabilisasi

Menteri Sesneg Prasetyo Hadi menegaskan komunikasi intens antara eksekutif dan legislatif merupakan bagian dari upaya memperkuat nilai tukar.

Tayang:
Kompas.com/MAULANA MAHARDHIKA
NILAI TUKAR RUPIAH - Ilustrasi nilai tukar rupiah, kurs rupiah dan dollar AS. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan komunikasi intens antara eksekutif dan legislatif merupakan bagian dari upaya memperkuat nilai tukar.(KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA) 

Ringkasan Berita:
  • Nilai tukar rupiah mencapai Rp 18.095 per dolar AS dan berpotensi melemah hingga Rp 19.000 jika sentimen negatif berlanjut.
  • Pemerintah, DPR, dan Bank Indonesia menyepakati dua langkah utama: menarik kembali modal asing dan menjaga likuiditas perbankan.
  • Menteri Keuangan menegaskan defisit APBN tetap terkendali di kisaran 2–3 persen.

TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah hingga menembus Rp 18.095 per dolar pada Sabtu (6/6/2026).

Pelemahan ini memicu rapat mendadak antara pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Dalam rapat tersebut, sejumlah pejabat hadir, termasuk Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Pertemuan digelar untuk membahas strategi menjaga stabilitas rupiah yang diprediksi bisa melemah lebih jauh ke level psikologis Rp 19.000 jika sentimen negatif berlanjut.

Baca juga: Purbaya Sebut Pelemahan Rupiah Dipicu Sentimen Negatif, Bukan Krisis Ekonomi

Dibahas Intens

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan komunikasi intens antara eksekutif dan legislatif merupakan bagian dari upaya memperkuat nilai tukar.

Namun, tidak semua komunikasi membawa hasil yang diharapkan.

“Ya kan bukan berarti kalau kemudian komunikasi intens terus belum menghasilkan seperti yang kita harapkan, kemudian kita tidak ada komunikasi kan enggak begitu juga. Ini kan semua bagian dari upaya,” kata Prasetyo, Sabtu.

Ia menjelaskan pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari faktor eksternal, termasuk ketergantungan impor yang menggunakan dolar AS sebagai alat pembayaran.

Salah satu pengaruhnya adalah ketergantungan impor, yang notabene menggunakan mata uang dollar AS untuk sarana pembayaran.

“Kemandirian kita secara ekonomi itu juga memengaruhi kekuatan mata uang kita. Ada beberapa yang masih ketergantungan impor itu juga akan memengaruhi. Makanya ini tidak bisa berdiri sendiri begitu loh,” tutur dia.

Baca juga: Biasanya Murah Senyum, Purbaya Kini Serius di DPR Saat Rupiah Tembus Rp18.000

Minta Kerja Sama

Oleh karena itu, ia menekankan, perlu kerja sama antarsemua pihak dalam menangani masalah tersebut, tidak terkecuali pemerintah dan bank sentral.

Senada, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan, koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter terus diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Sekaligus, kata dia, mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih menantang.

“Kami tegaskan bahwa koordinasi fiskal dan moneter selama ini sangat-sangat keras bagaimana sama-sama menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry.

Ia menyatakan, sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia selama ini telah berjalan erat.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved