Iran Vs Amerika Memanas
Survei 100 Hari Perang Iran: Mayoritas Warga AS Nilai Konflik Lebih Merugikan daripada Menguntungkan
Seratus hari sejak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pecah, Presiden AS Donald Trump masih menghadapi tantangan besar di dalam negeri.
Ringkasan Berita:
- Survei terbaru menunjukkan mayoritas warga AS menilai perang Iran lebih merugikan daripada menguntungkan, bahkan sebagian pemilih Partai Republik mulai berbalik arah.
- Dampak perang disebut mulai terasa di kantong masyarakat setelah harga energi dan biaya hidup meningkat akibat konflik di kawasan Teluk.
- Analis menilai rendahnya dukungan publik terhadap perang berpotensi menjadi beban politik bagi Donald Trump dan Partai Republik jelang pemilu paruh waktu.
TRIBUNKALTIM.CO - Seratus hari sejak perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran pecah, Presiden AS Donald Trump masih menghadapi tantangan besar di dalam negeri.
Sejumlah survei terbaru menunjukkan mayoritas warga Amerika belum melihat konflik tersebut sebagai kemenangan yang menguntungkan kepentingan nasional mereka.
Hasil jajak pendapat yang dirilis berbagai lembaga riset mengindikasikan dukungan publik terhadap perang Iran tetap rendah.
Bahkan, sebagian pemilih dari Partai Republik mulai menilai dampak konflik tersebut lebih banyak menimbulkan kerugian dibandingkan manfaat bagi Amerika Serikat.
Baca juga: Dampak Perang Iran Mulai Dirasakan, Mayoritas Warga AS Nilai Lebih Banyak Bawa Dampak Negatif
Al Jazeera melaporkan sejumlah survei terbaru menunjukkan mayoritas warga Amerika menilai perang tersebut lebih merugikan daripada menguntungkan kepentingan nasional AS.
Kondisi itu dinilai para analis dapat menjadi beban politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu November mendatang.
Jajak pendapat Critical Issues dari Universitas Maryland yang dirilis Kamis (4/6/2026) menunjukkan hanya 16 persen pemilih AS yang percaya AS telah memenangkan atau sedang memenangkan perang melawan Iran.
Temuan tersebut mengindikasikan publik belum menerima klaim kemenangan yang berulang kali disampaikan Trump sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu.
Survei yang sama juga menemukan mayoritas responden, termasuk 33 persen pemilih Partai Republik, menilai perang tersebut lebih banyak memberikan dampak negatif dibandingkan dampak positif bagi kepentingan Amerika Serikat.
Sebaliknya, hanya 12 persen responden, termasuk seperempat pemilih Republik, yang menilai perang membawa manfaat lebih besar daripada kerugiannya.
“Yang benar-benar jelas adalah bahwa hanya sedikit warga Amerika yang berpikir bahwa perang dengan Iran ini melayani kepentingan Amerika,” kata Profesor Perdamaian dan Pembangunan Universitas Maryland, Shibley Telhami, dilansir Al Jazeera.
Menurut Telhami, temuan tersebut menunjukkan perang Iran belum berhasil memperoleh legitimasi politik yang kuat di mata publik AS.
Baca juga: Putin: Tidak Ada Tindakan Iran yang Bisa Membenarkan Serangan Amerika Serikat
Ia bahkan menyebut perubahan sikap sebagian pemilih Republik sebagai perkembangan penting.
“Penilaian bahwa perang kini menjadi lebih merugikan kepentingan Amerika di kalangan Partai Republik merupakan titik balik penting karena tampaknya berlaku bagi anggota Partai Republik yang lebih tua maupun yang lebih muda,” ujar Telhami.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260314_Minyak-Iran.jpg)