Selasa, 9 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

100 Hari Perang AS–Iran: Dampak Ekonomi Global, Pasar Saham, dan Harga Minyak

Perang AS–Iran yang telah berlangsung 100 hari memicu volatilitas besar di pasar keuangan global, terutama sektor energi dan obligasi.

Tayang:
HO//ST/Tangkap Layar/Khaberni
100 HARI PERANG IRAN - Kobaran api dari ledakan yang menghantam sebuah depot bahan bakar minyak di Teheran, Iran, Sabtu (7/3/2026) malam. Perang AS–Iran yang telah berlangsung 100 hari memicu volatilitas besar di pasar keuangan global, terutama sektor energi dan obligasi. 
Ringkasan Berita:
  • Perang AS–Iran yang telah berlangsung 100 hari memicu volatilitas besar di pasar keuangan global, terutama sektor energi dan obligasi.
  • Wall Street justru mencatat rekor tertinggi berkat optimisme terhadap perkembangan AI, sementara pasar Eropa lebih tertekan oleh biaya energi.
  • Penutupan Selat Hormuz dan terbatasnya pasokan energi mendorong inflasi global, dengan harga minyak tetap tinggi meski sempat turun dari puncaknya.

TRIBUNKALTIM.CO - Perang AS–Iran yang telah berlangsung 100 hari memicu volatilitas besar di pasar keuangan global, terutama sektor energi dan obligasi.

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah memasuki hari ke-100 pada Minggu (7/6/2026).

Perang ini menimbulkan gejolak besar di pasar keuangan dunia, dengan volatilitas (pergerakan harga yang sangat fluktuatif) melanda berbagai kelas aset.

Baca juga: Trump tak Akan Cairkan Aset Iran, Minta Kesepakatan Damai Didahulukan, Teheran: Ini Uang Kami

Upaya perdamaian masih menemui jalan buntu karena negosiasi antara Washington dan Teheran belum menghasilkan kesepakatan yang langgeng.

Meski gencatan senjata rapuh masih berlaku untuk memberi ruang diplomasi, kedua pihak tetap melancarkan serangan militer secara berkala.

Kondisi ini menambah tekanan terhadap ekonomi global, terutama sektor energi dan pasar modal.

Wall Street Tunjukkan Trend Berbeda

Pasar saham dunia sempat tertekan, namun Wall Street justru menunjukkan tren berbeda.

Indeks S&P 500 mencatat rekor tertinggi sepanjang masa, didorong optimisme investor terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). 

Kepala investasi Netwealth, Iain Barnes, menilai pasar saham bergerak dengan asumsi perang akan mengubah kondisi ekonomi global dari disinflasi (penurunan inflasi) menjadi stagflasi (gabungan inflasi tinggi dan pertumbuhan rendah).

Optimisme atas kekuatan disruptif AI di masa depan dan latar belakang yang menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan AS juga menjadi fokus perhatian.

Baca juga: Dampak Perang Iran Mulai Dirasakan, Mayoritas Warga AS Nilai Lebih Banyak Bawa Dampak Negatif

“Hal ini menyebabkan pasar saham melonjak lebih tinggi, tetapi jelas dipimpin oleh perusahaan-perusahaan di pasar AS dan Asia yang dianggap sebagai penerima manfaat langsung dari pengeluaran untuk AI,” kata dia dikutip dari CNBC, Senin (8/6/2026).

“Saham-saham Eropa lebih lesu karena dampak kenaikan biaya energi lebih bermasalah,” imbuh dia.

Kepala investasi BRI Wealth Management, Toni Meadows menjelaskan, pengeluaran untuk infrastruktur AI telah mengidentifikasi sejumlah potensi hambatan.

Hal itu terutama permintaan yang tak pernah puas akan kapasitas komputasi yang mendorong harga saham perusahaan semikonduktor.

“Pasar dan seluruh perekonomian seperti Korea Selatan dan Taiwan mendapatkan peningkatan pertumbuhan karena hal itu,” ucap dia.

Meadows mengungkapkan, ketika Selat Hormuz tetap tertutup, inflasi kemungkinan akan meningkat. Namun, investor tampaknya bersedia percaya, baik Trump maupun Iran tidak ingin memperpanjang konflik ini.

"Meskipun demikian, pada titik tertentu dampak konflik, jika tidak terselesaikan, akan menyebabkan penurunan permintaan yang tidak dapat diabaikan oleh investor," ucap dia.

Baca juga: Perang AS-Iran Kian Panas, Drone Iran Ditembak Jatuh hingga Serangan Balasan ke Kuwait dan Bahrain

Imbal Hasil Obligasi Melonjak

Obligasi pemerintah telah berfluktuasi sejak perang pecah, tetapi imbal hasil utang negara tetap tinggi.

Imbal hasil obligasi dan harganya bergerak berlawanan arah, sehingga imbal hasil yang tinggi berarti tekanan ke bawah pada nilai aset tetap ada.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS termasuk di antara yang melonjak setelah perang.

Pasalnya, investor bergegas memperhitungkan inflasi yang lebih tinggi dan kebijakan moneter yang ketat.

Bulan lalu, imbal hasil obligasi pemerintah AS 30 tahun mencapai level tertinggi sejak sebelum masa krisis keuangan.

Banyak negara dengan perekonomian besar telah melihat pola serupa.

Sebagai contoh, Inggris, yang juga dilanda gejolak politik domestik, telah menyaksikan obligasi pemerintahnya yang dikenal sebagai gilts mengalami penurunan dan dijual secara sangat agresif.

Kepala bagian investasi di Premier Miton Investors, Neil Birrell mengatakan, pasar obligasi berpandangan ada sesuatu yang nyata untuk dikhawatirkan.

Hal itu merujuk pada kekhawatiran tentang inflasi yang lebih tinggi, pertumbuhan yang lebih rendah, dan gangguan rantai pasokan.

"Lamanya inflasi dan suku bunga yang lebih tinggi mungkin lebih penting daripada puncak absolut yang dicapainya, jadi dengan situasi saat ini yang tampaknya akan berlangsung lama, pertumbuhan ekonomi akan terganggu dan imbal hasil obligasi kemungkinan akan tetap tinggi, sehingga menyulitkan saham untuk mempertahankan levelnya,” kata dia.

Harga Minyak Turun, Pasar Masih Was-was

Selat Hormuz sebagai jalur pengiriman minyak yang sangat penting di Timur Tengah pada dasarnya telah ditutup selama perang berlangsung.

Kondisi itu mengakibatkan fluktuasi harga minyak yang besar karena para pedagang bereaksi terhadap berita utama seputar serangan rudal, perundingan perdamaian, dan gencatan senjata.

Meskipun harga telah turun secara signifikan dari harga tertinggi selama masa perang, harga tersebut tetap jauh lebih tinggi daripada sebelum konflik dimulai.

Patokan global harga minyak mentah Brent berjangka diperdagangkan sekitar 36 persen di atas harga sebelum perang.

Sementara itu harga berjangka West Texas Intermediate AS masih naik hampir 50 persen.

Sedikit catatan, blokade Selat Hormuz, bersamaan dengan kerusakan dan penutupan fasilitas produksi energi utama di Timur Tengah telah menciptakan kendala pasokan yang parah.

Masalah pasokan telah memaksa importir minyak untuk mencari pemasok alternatif.

Dalam 100 hari terakhir pasar telah menyaksikan peningkatan ekspor minyak mentah AS.

Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga menjelaskan, peristiwa itu merupakan salah satu faktor mitigasi yang tampak menghambat kenaikan harga yang signifikan di pasar minyak mentah.

“Ini termasuk pelepasan Cadangan Minyak Strategis , pencabutan sanksi terhadap minyak Iran dan Rusia yang masih berada di laut, pengurangan impor minyak China, rute alternatif untuk mengirim minyak dari Teluk Persia ke Asia dan Eropa, peningkatan ekspor minyak mentah dan produk olahan AS, dan akhirnya, penghancuran permintaan,” urai dia.

Kendati demikian, ia menambahkan jika persediaan minyak terus menipis sepanjang Juni, persediaan tersebut akan mencapai tingkat operasional kritis dan persaingan untuk mengamankan pasokan akan semakin intensif.

Saat itu terjadi, katanya, penurunan harga di atas 100 dollar AS akan segera terjadi.

“Sangat penting agar Selat Taiwan dibuka kembali sesegera mungkin untuk mengurangi kekurangan pasokan dan, akibatnya, tekanan inflasi,” tambah Varga.

Inflasi Meningkat

Data ekonomi mulai menunjukkan dampak yang lebih luas dari perang ini di luar pasar keuangan.

Akibat perang yang sedang berlangsung terus menekan biaya energi, angka inflasi di berbagai ekonomi utama mulai menunjukkan kenaikan harga. Kondisi itu didorong oleh melonjaknya biaya minyak, gas, bahan bakar jet, dan bensin.

Di AS, indeks harga konsumen mencapai tingkat tahunan 3,8 persen pada April, atau mencapai level tertinggi dalam hampir tiga tahun.

Menipisnya pasokan energi dari Timur Tengah telah menjadi pendorong utama kenaikan inflasi.

Di sisi lain, lonjakan harga telah memicu intervensi pemerintah dari beberapa negara, termasuk Jerman dan India.

Direktur Pelaksana Kingswood Group, Paul Surguy mempertanyakan, apakah pasar telah menjadi mati rasa secara kolektif terhadap perang global.

“Yang kita lihat adalah dukungan terhadap perang di AS berada pada titik terendah sepanjang masa, pendanaan militer berada pada titik tertinggi sepanjang masa, dan kedua belah pihak jelas-jelas mencari jalan keluar yang menyelamatkan muka," ujar dia.

"Hal ini, dan bukan situasi saat ini, kemungkinan besar akan berdampak pada harga minyak dalam jangka panjang. Tidak ada yang ingin berada di sini dalam enam bulan ke depan,” tutup dia. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved