Berita Nasional Terkini
3 Faktor Pemicu Rupiah Menguat Terhadap Dollar AS, Modal Asing Kembali Masuk
Nilai tukar rupiah mencatatkan tren penguatan terhadap dollar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir.
Ringkasan Berita:
- Rupiah sukses bangkit dari keterpurukan! Setelah sempat bikin jantungan hingga menembus Rp18.000 per dollar AS, mata uang Garuda terbang tinggi ke level Rp17.860 pada penutupan Jumat (12/6/2026).
- Gebrakan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan BI Rate jadi 5,50 persen sukses jadi tameng sakti.
- Efeknya luar biasa, investor asing langsung kesetanan membanjiri pasar domestik dengan aliran modal tembus Rp45,92 triliun lewat instrumen SRBI, SBN, dan Obligasi Danantara!
TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah mencatatkan tren penguatan terhadap dollar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir.
Mata uang Indonesia ini berhasil bangkit dari tekanan hebat yang sebelumnya sempat memaksa rupiah jeblok hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dollar Amerika Serikat (AS).
Pada sesi penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026), rupiah sukses bertengger di posisi Rp17.860 per dollar AS, atau mengalami penguatan sebesar 129 poin (0,71 persen) dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.989 per dollar AS.
Baca juga: Rupiah Melemah, Walikota Andi Harun Ungkap Nasib Pembangunan dan Daya Beli di Samarinda
Kinerja impresif ini juga selaras dengan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) yang merangkak naik ke level Rp17.921 per dollar AS dari yang semula Rp17.981 per dollar AS.
Apresiasi mata uang lokal ini dipicu oleh respons taktis bank sentral dalam menetapkan kebijakan moneter.
Kenaikan BI Rate dinilai menjadi tameng utama yang menopang ketahanan kurs domestik.
Langkah berani diambil oleh BI dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026, yang diikuti oleh kenaikan suku bunga Deposit Facility ke level 4,50 persen dan Lending Facility menjadi 6,25 persen.
Baca juga: Walikota Samarinda Andi Harun Siapkan Mitigasi Efisiensi Anggaran Hadapi Pelemahan Rupiah
Gubernur BI, Perry Warjiyo, memberikan penjelasan resmi mengenai landasan di balik pengetatan moneter tersebut.
"kenaikan suku bunga dilakukan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global, terutama akibat perang di Timur Tengah."
Kebijakan agresif ini dinilai tepat sasaran oleh para pelaku pasar hulu.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, melihat bahwa keputusan menaikkan suku bunga tersebut efektif menjadi bantalan bagi penguatan rupiah.
Baca juga: Rupiah Menguat ke Rp17.860 per Dolar AS, Naik 0,98 Persen dalam Sepekan
Sinergi kebijakan moneter ketat dengan pengelolaan fiskal dari pemerintah terbukti mampu meredam kekhawatiran pasar secara menyeluruh.
"Defisit APBN masih terkendali, keseimbangan primer surplus, dan pendapatan negara tumbuh cukup kuat," ujar Josua.
Dampak positif lain dari naiknya BI Rate adalah melonjaknya daya tarik instrumen investasi hibrida berbasis rupiah di mata investor global, khususnya pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, memaparkan bahwa indikator aliran modal asing langsung bergerak ke zona positif pasca-pengumuman kenaikan suku bunga.
Baca juga: Buntut Kenaikan Harga BBM dan Pelemahan Rupiah, Mahasiswa Siapkan Aksi Menuju Indonesia Bangkrut
| Jelang Pengangkatan Jokowi Sebagai Dewan Pembina PSI, PDIP Sentil Soal Petugas Partai |
|
|---|
| PDIP Balas PSI, Sebut Jokowi Bukan Keluar Tapi Dipecat karena Melanggar Konstitusi |
|
|---|
| Inilah Penyebab Rupiah Menguat ke Bawah Rp 18.000 per Dollar AS dan Prediksi Pergerakannya ke Depan |
|
|---|
| Jokowi Segera Jadi Dewan Pembina PSI, Pengamat Singgung Kepastian Status dan Porsi Kewenangan |
|
|---|
| 52 Persen BUMN Merugi, Danantara Pangkas Jumlah BUMN dari 1.077Jadi 200-300 Perusahaan Saja |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260528_rupiah_dollar-AS_nilai-tukar_ekspor-satu-pintu_DSI.jpg)