Berita Ekbis Terkini
Rupiah Menguat ke Rp17.708 per Dolar AS, Dipicu Harga Minyak Turun dan Konflik Timur Tengah Mereda
Nilai tukar rupiah kembali mencatat penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (15/6/2026).
Ringkasan Berita:
- Rupiah ditutup menguat tajam ke level Rp17.708 per dolar AS pada perdagangan Senin.
- Penurunan harga minyak dan meredanya konflik Timur Tengah disebut jadi pendorong penguatan rupiah.
- Pasar kini menanti langkah Bank Indonesia usai kebijakan suku bunga terbaru.
TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah kembali mencatat penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (15/6/2026).
Pergerakan positif mata uang Garuda tersebut terjadi di tengah membaiknya kondisi pasar global setelah tekanan geopolitik mulai mereda.
Penguatan rupiah dipengaruhi oleh sejumlah sentimen eksternal dan domestik, mulai dari penurunan harga minyak mentah dunia, optimisme terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah, hingga kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat tajam 151 poin, sebelumnya sempat menguat 185 poin di level Rp 17.708 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.860," ungkap Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi kepada Wartawan, Senin (15/6/2026).
Baca juga: Efek Isu Damai Amerika Serikat-Iran, Rupiah Menunjukkan Kinerja Positif dan Diprediksi Terus Menguat
Ibrahim menilai, turunnya harga minyak mentah dunia ke bawah level 80 dolar AS per barel memberikan dampak positif bagi perekonomian domestik.
"Turunnya harga minyak mentah dunia dibawah 80 dolar AS per barel akan menjadi faktor positif bagi domestik karena diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap defisit APBN, membuat pememerinta senang dan ketegangan berubah menjadi kegembiraan," tutur Ibrahim kepada Wartawan, Senin (15/6/2026).
Selain itu, pasar juga menyoroti potensi efisiensi anggaran pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta rencana penurunan target pembangunan Koperasi Desa Merah Putih sebesar 50 persen.
Ibrahim menilai stabilnya kondisi global turut mendorong masyarakat untuk melepas kepemilikan dolar AS dan beralih ke rupiah.
Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan imbauan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad yang meminta masyarakat menukarkan dolar AS ke rupiah guna membantu menjaga stabilitas nilai tukar.
"Langkah ini diharapkan dapat membantu menstabilkan nilai tukar rupiah yang sebelumnya sempat menyentuh rekor terendah di kisaran Rp 18.200 per dolar AS. Langkah tersebut tepat dilakukan karena pemerintah tengah menyiapkan sejumlah strategi khusus untuk menguatkan rupiah," ucap Ibrahim.
Baca juga: 3 Faktor Pemicu Rupiah Menguat Terhadap Dollar AS, Modal Asing Kembali Masuk
Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar kini menantikan hasil rapat Bank Indonesia pada pekan ini.
Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026. Dengan kenaikan tersebut, total pengetatan suku bunga sejak Mei mencapai 75 basis poin.
Menurut Ibrahim, kebijakan tersebut merupakan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global sekaligus menahan potensi keluarnya modal asing dari pasar domestik.
Sentimen positif lainnya datang dari perkembangan geopolitik Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pejabat Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu jalur utama distribusi energi dunia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260607_rupiah_dollar-AS_prediksi-nilai-tukar-rupiah-Senin-8-Juni-2026.jpg)