Opini
AI dan Riuh di Kerumunan
Tulisan ini tentang Internet Platform, AI System, dampaknya ke media massa dan publik, serta apa yang mesti kita lakukan.
AI juga bisa memahami gambar (images), suara, dan suara-gambar (audio-visual). Informasi yang masuk ke “pancaindra” AI itu diolah, dibuat polanya, dan dibuat prediksinya (prediksi inilah jawaban yang di-trigger oleh prompt).
Jadi, mesin AI, yang dilatih berjalan, bisa sambil berjalan, melihat, mengenali, memproses informasi dan menghasilkan informasi baru.
Dia entitas, yang seperti manusia, memiliki kemampuan mencari, mengolah, dan mendistribusikan informasi baru.
AI bisa membuat keputusan sendiri, menghasilkan keputusan yang sebelumnya tidak diprogram.
Internet Platform, sementara itu, hanya retrieve, menarik informasi yang sudah tersedia di jaringan internet.
Hasil Google Search, misalnya: hanya mencari informasi yang sudah ada.
Google Search tidak membuat kalimat sendiri. Dia tidak bisa berpikir sendiri, membuat keputusan sendiri.
Google Search, dengan demikian, hanya melayani manusia. Dia tidak bersaing dengan manusia.
Jadi, ketika kita berbicara tentang AI, penting dipahami: Kita sedang membicarakan satu entitas yang memiliki kecerdasan, yang kecerdasan bisa self improve, yang bisa mengalahkan kecerdasan manusia (karena dia tidak tidur, dia bekerja 24 jam, dan karena dia bekerja dengan belajar dari seluruh data dan informasi yang publicly accessible).
AI belajar (learning), kemudian memiliki kemampuan bernalar (reasoning) dan membuat keputusan (make a decision) dari data dan informasi yang bisa diakses secara publik: website, buku (bayangkan tentang buku serius karya Einstein, sastra seperti karya Shakespeare), hasil penelitian, lukisan (misalnya, lukisan Monalisa), video, bahkan laporan keuangan dalam bentuk Excel.
Yang ingin dikatakan adalah AI tidak hanya mengelola informasi di website berita. Sumber “bacaannya” lebih kaya, lebih luas, lebih dalam dibandingkan dengan Internet Platform yang hanya mengandalkan website.
AI tidak dalam kerumunan seperti Internet Platform. Dia tidak suka crowd, noise, keributan.
Dia tenang, sistematis, logik, serius, terpola.
AI ini seperti seorang profesor di ruang konferensi. Kacamatanya tebal, mukanya terlihat tegang, mimik serius, dan kalimat-kalimat demi kalimat yang dia ucapkan berbobot akademis.
Audiensnya pun “orang yang serius” atau orang yang mengharapkan sesuatu yang “berbobot”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/mata-lokal-memilih-kaltim.jpg)