Opini
Menjaga Denyut Ekonomi Perbatasan: Refleksi Peredaraan Rupiah di Kalimantan Utara
Akhir tahun selalu menjadi periode yang unik bagi lanskap ekonomi Indonesia, tidak terkecuali di Kalimantan Utara ( Kaltara ).
Oleh: Dr. Ana Sriekaningsih.,S.E.,S.Th.,M.M *)
TRIBUNKALTIM.CO - Akhir tahun selalu menjadi periode yang unik bagi lanskap ekonomi Indonesia, tidak terkecuali di Kalimantan Utara ( Kaltara ).
Di balik angka-angka statistik perbankan, terdapat dinamika arus uang yang mencerminkan perilaku konsumsi dan optimisme masyarakat.
Mengutip Laporan Perekonomian KPw Bank Indonesia Kalimantan Utara, pada 11 Maret 2026, data terbaru pada triwulan IV 2025 menunjukkan fenomena net outflow yang signifikan di wilayah ini, sebuah indikator bahwa roda ekonomi riil sedang berputar kencang.
Aliran uang kartal mencatatkan Net Outflow atau meningkatnya kebutuhan uang tunai, berbanding lurus dengan peningkatan daya beli.
Terjadinya net outflow (uang yang keluar dari Bank Indonesia ke masyarakat lebih banyak daripada yang masuk) adalah hal yang wajar di akhir tahun. Ini dipicu oleh faktor musiman seperti libur Natal, Tahun Baru, dan pencairan anggaran proyek di penghujung tahun.
Meningkatnya kebutuhan uang tunai (net outflow) menjadi bensin bagi sektor retail, transportasi, dan pariwisata lokal di Kaltara selama masa libur panjang.
Terjadinya net outflow, di mana jumlah uang tunai yang keluar dari Bank Indonesia lebih besar daripada yang masuk, bukanlah sebuah anomali, melainkan sinyal positif.
Baca juga: Bank Indonesia Balikpapan Sediakan Rp2 Triliun Uang Tunai Jelang Lebaran 2026
Di Kaltara, peningkatan kebutuhan uang kartal ini sejalan dengan persiapan masyarakat menyambut hari besar keagamaan, libur akhir tahun, serta realisasi belanja pemerintah di penghujung tahun anggaran.
Kenaikan permintaan uang tunai ini membuktikan bahwa daya beli masyarakat tetap solid.
Meskipun tren digitalisasi terus berkembang, uang kartal tetap menjadi instrumen vital dalam transaksi harian, terutama di pasar-pasar tradisional dan wilayah pelosok yang menjadi jantung ekonomi kerakyatan Kaltara.
Namun, tugas menjaga stabilitas ekonomi tidak berhenti pada ketersediaan jumlah uang saja. Kualitas uang yang beredar memegang peranan yang sama pentingnya.
Melalui implementasi Clean Money Policy (CMP), distribusi Uang Layak Edar (ULE) terus diakselerasi di seluruh penjuru Kaltara.
Mengapa uang layak edar itu penting? Di wilayah perbatasan seperti Kaltara, Rupiah bukan sekadar alat tukar, melainkan simbol kedaulatan negara.
Memastikan masyarakat memegang uang dalam kondisi baik adalah bentuk penghormatan terhadap identitas bangsa.
Uang yang lusuh atau rusak tidak hanya menyulitkan transaksi, tetapi juga menurunkan marwah mata uang nasional di mata daerah tetangga.
Upaya menjaga kualitas uang tersebut dibungkus dengan edukasi "Cinta, Bangga, Paham" (CBP) Rupiah.
Langkah ini merupakan strategi fundamental untuk membangun literasi keuangan masyarakat.
Edukasi CBP (Cinta Bangga Paham) Rupiah secara tidak langsung memperkuat kedaulatan ekonomi di wilayah perbatasan yang berbatasan langsung dengan Malaysia.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kalimantan Utara memiliki tantangan unik dalam mengedukasi masyarakat terkait Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah, mengingat letak geografisnya yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.
Baca juga: Tinjau Perbatasan Apau Kayan, Wagub Kaltara Ingkong Ala Soroti Kerusakan Jalan, Jembatan, hingga RS
Di wilayah ini, Rupiah bukan sekadar alat tukar, melainkan simbol kedaulatan negara.
Cinta: Mengenali keaslian dan merawat uang agar tidak cepat rusak.
Bangga: Memahami bahwa Rupiah adalah alat pembayaran sah yang menyatukan bangsa.
Paham: Mengerti fungsi Rupiah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan cara bijak dalam berbelanja.
Upaya Strategis BI Kaltara Mengedukasi CBP Rupiah
Mengingat Kaltara memiliki banyak wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Terpencil), BI Kaltara bekerja sama dengan TNI AL menggunakan kapal perang untuk menjangkau pelosok.
Kas Keliling Pesisir: Memberikan layanan penukaran uang lusuh dengan Uang Layak Edar (ULE) agar masyarakat di perbatasan tidak lagi menggunakan mata uang asing atau uang yang sudah rusak parah.
Edukasi Langsung: Di setiap titik singgah, dilakukan sosialisasi cara mengenali keaslian uang Rupiah (5 Jari) kepada masyarakat lokal dan aparat desa.
BI Mengajar: Program ini masuk ke sekolah-sekolah dan universitas di Kaltara untuk menanamkan jiwa "Bangga Rupiah" sejak dini. Siswa diajarkan bahwa menjaga fisik uang (tidak dilipat, tidak dicoret, tidak distapler) adalah bentuk cinta tanah air.
Edukasi ke Toko/Pedagang Pasar: Sosialisasi dilakukan langsung di pasar-pasar tradisional (seperti di Tarakan, Bulungan, atau Nunukan) untuk membantu pedagang memahami aspek "Paham Rupiah", yakni bagaimana bertransaksi secara bijak dan mengenali fungsi Rupiah dalam menjaga stabilitas inflasi.
Upaya-upaya ini bertujuan menciptakan Kedaulatan Rupiah di Perbatasan.
Dengan masyarakat yang semakin paham, ketergantungan atau penggunaan mata uang asing di wilayah perbatasan (seperti Nunukan dan Sebatik) dapat diminimalisir, sehingga stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga di bawah naungan mata uang tunggal, Rupiah.
Meskipun penggunaan sistem nontunai terus didorong, ketergantungan pada uang tunai di akhir tahun tetap tinggi, yang menunjukkan bahwa ekonomi riil di pasar-pasar tradisional Kaltara masih sangat berdenyut kencang.
Baca juga: Bank Indonesia Balikpapan Bakal Hadirkan Edukasi Cinta Rupiah di Mata Pelajaran PAUD hingga SMP
Dampak ekonomi dari sinergi antara ketersediaan likuiditas dan edukasi ini sangat terasa di Kaltara.
Pertama, terjaganya kelancaran sistem pembayaran memastikan tidak ada hambatan dalam rantai pasok barang dan jasa.
Kedua, masyarakat semakin terlindungi dari risiko peredaran uang palsu berkat meningkatnya pemahaman terhadap ciri-ciri keaslian uang.
Ke depan, tantangan ekonomi wilayah ini akan semakin kompleks. Namun, dengan fondasi sistem pembayaran yang terjaga dan masyarakat yang semakin paham akan nilai Rupiah, kita boleh optimis bahwa stabilitas ekonomi Kaltara akan tetap kokoh di tengah transisi menuju ekonomi digital yang lebih inklusif. (*)
*) Direktur Politeknik Bisnis Kaltara/ Anggota Forum Komunikasi Akademisi Penulis Populer Kebijakan BI
| Pengabdian Panjang di Titik Terakhir: Mundur dari Sekretaris YJI Kaltim setelah 24 Tahun Menjabat |
|
|---|
| Rupiah Bukan Sekadar Uang, Ini Makna Kedaulatan di Setiap Transaksi |
|
|---|
| Di Balik Pengangkatan Sekda Neneng Chamelia: Penerapan Manajemen Talenta untuk Promosi Jabatan |
|
|---|
| Catatan 40 Tahun Berkarir sebagai PNS: Merintis Camat Babulu hingga Dua Jabatan Kepala Dinas Baru |
|
|---|
| Menatap Masa Depan ASN Status PPPK: Imbas TKD Turun, Ancaman PHK pada 2027? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Ana-Sriekaningsih.jpg)