Senin, 27 April 2026

Opini

Refleksi Hari Buku Sedunia: Minat Baca Masih Sangat Rendah

Mengapa buku itu penting? Sampai-sampai UNESCO menetapkan tanggal 23 April sebagai Hari Buku Sedunia dan sejak kapan Hari Buku Sedunia diperingati?

Editor: Sumarsono
TRIBUNKALTIM.CO/IST/DOK PRIBADI
PENULIS: Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps., Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim. 

Oleh: Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps., Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim. *)

TRIBUNKALTIM.CO - Kamis lalu, tanggal 23 April 2026 adalah hari yang istimewa bagi masyarakat internasional.

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), atau Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang bermarkas di Kota Paris, Perancis telah menetapkan tanggal 23 April sebagai Hari Buku Sedunia.

Mengapa buku itu penting? Sampai-sampai UNESCO menetapkan tanggal 23 April sebagai Hari Buku Sedunia dan sejak kapan Hari Buku Sedunia diperingati?

Berdasarkan penelusuran informasi yang penulis cari di internet, salah satu alasannya adalah faktor historis, di mana pada tanggal 23 April 1616 ada 3 sastrawan legendaris yang meninggal dunia pada tanggal, bulan dan tahun yang sama.

Mereka adalah William Shakespeare. Seorang sastrawan Inggris, penulis naskah Romeo dan Juliet, Hamlet.

Selain Shakespeare, penulis Spanyol, Miguel de Cervantes, dengan karya novel yang terkenal “Don Quixote”.

Ketiga, Inca Garcilaso de la Vega,seorang penulis dari Peru dan sejarawan Amerika Latin.

Alasan kedua, adalah Tradisi Sant Jordi di Catalonia, Spanyol, sejak abad 15, di mana setiap tanggal 23 April orang Catalonia merayakan Diada de Sant Jordi atau Hari St. George.

Di mana seorang lak-laki memberikan bunga mawar ke perempuan, dan seorang perempuan memberikan buku kepada laki-laki.

Sekarang tukar menukar buku dan mawar ini di Barcelona, Spanyol dalam waktu satu hari, yaitu pada tanggal 23 April bisa terjual 1,5 juta buku dan 6 juta bunga mawar.

Ungkapan “buku itu adalah jendela dunia”, menunjukkan betapa pentingnya sebuah buku.

Buku tidak akan memberikan manfaat apa-apa, jika buku tersebut hanya dijadikan pajangan di rak buku dan tidak pernah dibaca.

Dengan membaca buku, kita bisa melihat, memahami, dan menjelajahi dunia tanpa harus pergi ke mana-mana.

Baca juga: 10 Provinsi dengan Minat Baca Tertinggi di Indonesia Tahun 2024, Kaltara Unggul dari Kaltim!

Dengan membaca buku, wawasan kita menjadi bertambah. Misalnya membaca buku tentang Mesir Kuno, maka kita bisa melihat “piramida”. Piramida merupakan salah satu dari 7 (tujuh) keajaiban dunia.

Di Giza saja ada 3 (tiga) piramida. Sebenarnya ada 18 peninggalan piramida dan lokasinya tersebar di di berbagai tempat. Tetapi yang terkenal dan sering dikunjungi wisatawan ada di Giza, tidak terlalu jauh dari Kota Cairo.

Tiga piramida yang ada di Giza memiliki ukuran yang berbeda-beda. Terbesar adalah Piramida Khufu (piramida agung), kedua Piramida Khafre, dan ketiga Piramida Menkaure.

Piramida di Mesir, khususnya Piramida Giza, mulai dibangun sekitar tahun 2580 SM dan selesai sekitar tahun 2565 SM, selama pemerintahan Pharaoh Khufu.

Satu batu yang terlihat kecil dari kejauhan besarnya seperti batu bata.

Ternyata setelah didekati satu buah batu tingginya melebihi tinggi manusia, dan beratnya lebih dari satu ton.

Piramida  disusun dari jutaan batu. Piramida-piramida ini merupakan makam bagi firaun dan permaisuri mereka, dan merupakan contoh arsitektur kuno Mesir yang luar biasa.

Dengan membaca buku, Anda bisa membayangkan bagaimana tingkat kesulitan mengumpulkan, membawa dan menyusun jutaan batuan tersebut sebelum ada teknologi modern.

Jadi hingga saat ini, piramida tersebut  telah berusia tidak kurang dari 4.500 tahun.

Selain membuka dan menambah wawasan, dengan membaca buku, kita bisa melampaui batas fisik.

Misalnya Anda tinggal di Samarinda, Anda bisa ke London, ke Mars, ke masa kejayaan jaman Majapahit. Jadi dengan membaca buku bisa tembus ke ruang dan waktu yang berbeda.

Baca juga: Minat Baca Masyarakat Meningkat, Paser Masuk 3 Besar Literasi Kaltim

Buku merupakan sumber perspektif baru. Tiap buku satu jendela.

Makin banyak buku dibaca, makin banyak jendela di rumah Anda. Anda jadi mengerti cara pandang atau sudut pandang orang lain.

Cara pandang petani, nelayan, buruh, majikan, raja, rakyat jelata, korban perang, korban penindasan, tentu ada perbedaan. Dunia menjadi tidak sempit ketika Anda banyak membaca buku.

Jendela bukan hanya untuk lihat keluar, tapi juga membuat Anda sadar. “Oh ternyata dunia seluas ini”. Dari situ akhirnya muncul sebuah kesadaran.

Muncul rasa keingintahuan, muncul sikap kritis menyikapi keadaan dan dorongan untuk lebih giat lagi belajar. Muncul keinginan untuk meraih prestasi terbaik (need achievement).

Ketika menulis artikel ini, saya jadi teringat ketika buku novel “Laskar Pelangi”, yang ditulis oleh Andrea Hirata diterbitkan pertama kali pada Tahun 2005 oleh Penerbit Bentang Pustaka, Yogjakarta yang hampir 300 halaman. Dalam 3  hari selesai saya baca.

Bahkan, buku lanjutannya sebagai bagian dari Tetralogi Laskar Pelangi, yaitu “Sang Pemimpi”, “Edensor”, dan Maryamah Karpov semua saya beli.

Namun sayangnya buku-buku tersebut saat ini tidak satupun saya temukan, entah di mana.  

Sangking banyaknya kawan yang pinjam, sampai saya sendiri sebagai pemilik buku lupa, siapa yang meminjam terakhir kali.

Buku Laskar Pelangi secara singkat menggambarkan kisah nyata tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan SMP) di Sekolah Muhammadiyah Belitung yang penuh keterbatasan.

Mereka, termasuk Andrea Hirata sekolah dan belajar pada kelas yang sama dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP. Mereka, menamakan dirinya sebagai Laskar Pelangi.

Kalau melihat realita sehari-hari, nampaknya minat membaca buku di Indonesia masih relatif rendah.

Baca juga: Minat Baca Kalimantan Timur: Peringkat 19 Nasional, Mahakam Ulu Terendah

Ini terbukti jika dibandingkan dengan negara-negara di dunia, Indonesia masih tergolong rendah.

Kepala Perpustakaan Nasional, Aminuddin Azis, menyampaikan data bahwa rata-rata waktu yang dihabiskan masyarakat Indonesia untuk membaca buku per tahun hanya 129 jam (periskop.id/nasional. Diakses tanggal 26 April 2026, pukul 10.57 Wita).  

Lebih lanjut, ia menilai budaya baca warga di Tanah Air masih sangat rendah.

Bayangkan Indonesia dengan India saja sudah kalah jauh.

Budaya baca warga India per tahun 352 jam. India meraih peringkat kedua dunia, setelah Amerika Serikat yang 357 jam.

Di Negara Tetangga, misalnya Singapura menghabiskan waktu 155 jam untuk baca buku per tahun.

Dengan Thailand saja kita kalah. Thailand menghabiskan waktu untuk membaca 149 jam per tahun (data diambil dari CEOWROLD Megazine 2024, berdasarkan survey pada 102 negara).

Maka pantaslah dalam beberapa hal kemajuan Indonesia kalah dengan Thailand, misalnya di bidang pertanian.

Tema Peringatan Hari Buku Sedunia Tahun 2026 adalah “Read Your Way”.

Tema ini sangat menarik, karena memberikan kebebasan kepada setiap individu untuk menikmati bacaan sesuai selera masing-masing.

Tema ini memberikan pesan penting kepada kita semua bahwa membaca buku itu tidak harus kaku atau formal.

Minat Baca Jauh Dibandingkan Buka Medsos

Membaca buku tidak harus menghadirkan secara fisik sebuah buku. Apalagi di tengah perkembangan teknologi komunikasi dan informasi.

Minat membaca buku di Indonesia sangat berbeda jauh dibandingkan dengan minat membuka media sosial (medsos).

Dalam satu hari warga masyarakat Indonesia rata-rata hanya menghabiskan waktu baca buku selama 21 menit.

Sementara waktu yang dihabiskan untuk melihat medsos per hari 3 jam 14 menit atau 194 menit.

Berarti dalam waktu satu tahun masyarkat Indonesia menghabiskan waktu di medsos sebanyak 1.181 jam atau setara dengan 43 hari non-stop.

Indonesia berada pada peringkat ketiga dunia dalam hal menghabiskan waktu untuk bersosial media.

Baca juga: 5 Daerah di Kalimantan Timur dengan Minat Baca Terendah versi BPS

Jadi tantangan kita terbesar adalah bagaimana Pemerintah dalam semua tingkatan lebih mendorong meningkatkan literasi baca buku, karena data menunjukkan di negara-negara maju, budaya membaca buku sangat tinggi dibandingan dengan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain itu, tingkat korupsi di negara-negara yang tinggi minat bacanya jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara yang minat bacanya rendah.

Idealnya kalau kita misalnya sebagai seorang sarjana ekonomi, maka harus memiliki buku-buku tentang ekonomi sampai ratusan buku.

Kalau sarjana pemerintahan, di rumah harus memiliki buku-buku tentang pemerintahan ratusan judul buku.

Jika sarjana sastra harus memiliki buku-buku tentang kesusastraan ratusan judul buku. Demikian seterusnya.

Tentu saja ini belum cukup. Berdasarkan pengalaman, untuk menumbuhkan minat baca buku pada masa anak-anak harus dibelikan buku sesuai dengan usianya.

Anak seusia 6-7 tahun tidak mungkin tertarik, misalnya membaca buku “budidaya ikan lele” atau “analisis hasil usaha tani pepaya”.

Biarkan mereka berkembang dengan imajinasinya. Belikan buku yang banyak gambarnya, dibandingkan teksnya.

Tetapi tentu saja kalau sudah remaja atau bahkan dewasa, tidak cocok lagi membaca buku komik yang lebih banyak gambarnya daripada narasinya. (*)

*) PENULIS adalah: Mantan Kepala Biro Humas dan Kepala Diskominfo, serta mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Prov Kaltim, dan mantan Pjs. Bupati Kutai Timur.

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved