Kamis, 14 Mei 2026

Opini

Jas Krem di Tengah Lautan Jas Gelap

Di tengah dominasi jas hitam dan biru gelap para pemimpin ASEAN, Presiden Prabowo Subianto tampil dengan jas krem. Sekilas mungkin tampak sederhana.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Sumarsono
TRIBUNKALTIM.CO/HO/Tribun Kaltim
PENULIS - Enny Fathurachmi, penulis merupakan dosen Hubungan Internasional yang mengajar Diplomasi Praktik dan Kajian Protokoler Internasional di Samarinda. 

Oleh: Enny Fathurachmi *)

TRIBUNKALTIM.CO - Di tengah dominasi jas hitam dan biru gelap para pemimpin ASEAN, Presiden RI, Prabowo Subianto tampil dengan jas krem.

Sekilas mungkin tampak sederhana. Namun dalam dunia diplomasi internasional, penampilan tidak pernah benar-benar sekadar soal pakaian.

Dalam forum antarnegara, simbol sering kali berbicara lebih keras daripada pidato.

Posisi duduk, urutan berbicara, bentuk jabat tangan, hingga warna jas merupakan bagian dari bahasa non-verbal diplomasi.

Sebagai pengajar mata kuliah Diplomasi Praktik, saya kerap menjelaskan kepada mahasiswa bahwa protokoler internasional bukan sekadar tata acara resmi.

Protokol adalah cara negara menunjukkan penghormatan, kesetaraan, sekaligus citra politiknya di hadapan dunia.

Karena itu, dress code dalam forum internasional memiliki makna tersendiri.

Prabowo KTT Asean
HADIRI KTT ASEAN - Presiden RI Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Filipina mengenakan jam krem. Dalam pertemuan bersama para pemimpin negara anggota forum BIMP-EAGA, Presiden membahas penguatan kerjasama ekonomi serta perkembangan isu global dan regional.

Baca juga: Prabowo Serukan Dialog untuk Selesaikan Ketegangan Thailand dan Kamboja di KTT ASEAN 2026

Jas gelap telah lama menjadi standar diplomasi modern. Warna hitam, navy, atau abu-abu tua diasosiasikan dengan stabilitas, formalitas, dan kontrol diri.

Dalam forum multilateral, keseragaman visual juga menciptakan kesan kolektivitas dan kesetaraan antar pemimpin.

Di titik inilah jas krem Prabowo menjadi menarik.

Ia langsung menciptakan diferensiasi visual di tengah “lautan jas gelap” para pemimpin lainnya.

Kamera media secara otomatis menangkap sosok yang paling berbeda.

Dan memang, publik lebih cepat membicarakan warna jas dibanding substansi forum BIMP-EAGA itu sendiri.

Apakah penampilan itu melanggar protokol? Saya kira tidak.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved