Kamis, 11 Juni 2026

Opini

Pertamax Naik, Pukulan Telak Bagi Masyarakat Kelas Menengah

Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.500 per liter bukan sekadar penyesuaian harga, tetapi menambah tekanan bagi jutaan keluarga kelas menengah.

Tayang:
HO/PRIBADI
KENAIKAN HARGA PERTAMAX - Dosen Ekonomi Universitas Mulia Balikpapan, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd. Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.500 per liter dinilai bukan sekadar penyesuaian harga energi, tetapi juga menambah tekanan bagi jutaan keluarga kelas menengah dan pelaku usaha kecil. (HO/PRIBADI) 
Ringkasan Berita:
  • Harga Pertamax yang naik lebih dari 30 persen berdampak langsung pada pengeluaran masyarakat.
  • Guru, ASN, pegawai swasta, pelaku UMKM, hingga pekerja profesional menghadapi tekanan ganda akibat kenaikan biaya transportasi di tengah meningkatnya harga kebutuhan pokok dan layanan lainnya.
  • Selain mendorong efisiensi dan peningkatan sumber pendapatan, pemerintah dinilai perlu memperkuat transportasi publik, pengendalian inflasi, dukungan UMKM, dan penciptaan lapangan kerja.

Oleh: Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd 
(Doktor Pendidikan Ekonomi, Universitas Mulia Balikpapan)

BALIKPAPAN - Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.500 per liter di Kalimantan kembali menjadi kabar yang membuat banyak keluarga harus menghitung ulang pengeluaran bulanannya.

Kenaikan ini terjadi di seluruh wilayah Indonesia per hari ini, 10 Juni 2026 dalam kisaran Rp 16.250 – Rp 16.650 dalam satu kali penyesuaian harga, Pertamax naik lebih dari 30 persen dibandingkan harga sebelumnya. 

Bagi sebagian orang mungkin ini hanya angka.

Namun bagi jutaan masyarakat yang setiap hari bergantung pada kendaraan bermotor untuk bekerja, mengantar anak sekolah, berdagang, atau menjalankan usaha kecil, kenaikan ini akan langsung terasa di kantong.

Harga Pertamax Hari Ini Naik, Daftar Harga BBM Rabu 10 Juni 2026 di Kaltim dan Seluruh Indonesia

Masalahnya, masyarakat belum benar-benar pulih dari berbagai tekanan ekonomi yang datang silih berganti akhir-akhir ini.

Harga kebutuhan pokok naik, tarif berbagai layanan ikut menyesuaikan, dan kini biaya transportasi kembali bertambah.

Ketika penghasilan tidak bertambah secepat kenaikan pengeluaran, maka yang terjadi adalah semakin menyempitnya ruang bernapas bagi rumah tangga Indonesia.

Setiap awal bulan, jutaan keluarga kelas menengah di Indonesia melakukan ritual yang sama.

Menghitung gaji yang masuk, membagi anggaran untuk cicilan rumah, biaya sekolah anak, listrik, internet, kebutuhan dapur, transportasi, hingga tabungan darurat. 

Baca juga: Resmi Naik, Harga Pertamax Hari Ini Rabu 10 Juni 2026, Daftar Harga BBM Terbaru

Tidak sedikit yang harus menyusun anggaran secara cermat agar seluruh kebutuhan dapat terpenuhi hingga akhir bulan.

Kelompok inilah yang sering disebut kelas menengah.

Mereka bukan penerima bantuan sosial, tetapi juga bukan kelompok yang memiliki keleluasaan finansial.

Mereka adalah guru, dosen, ASN, pegawai swasta, pelaku UMKM, pekerja profesional, dan berbagai kelompok produktif yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian nasional. Sebagian besar kelas menengah ini menggunakan moda transportasi sepeda motor. 

Data Korlantas Polri menunjukkan sekitar 83,7 persen kendaraan bermotor di Indonesia adalah sepeda motor.

Baca juga: Akhirnya Terpaksa Pakai Pertamax? Pengamat Sebut Kelangkaan Pertalite Sinyal Penghapusan Bertahap

Artinya, lebih dari delapan dari setiap sepuluh kendaraan yang beroperasi di jalan raya adalah sepeda motor. 

Angka ini menunjukkan betapa besar ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan roda dua sebagai sarana mobilitas sehari-hari.

Terlebih di Kalimantan, mobilitas masyarakat masih sangat bergantung pada kendaraan bermotor karena keterbatasan transportasi publik yang terjangkau dan menjangkau seluruh wilayah.

Bagi masyarakat perkotaan maupun pedesaan, sepeda motor bukan lagi sekadar alat transportasi. Kendaraan ini telah menjadi alat produksi.

Guru menggunakannya untuk mengajar, pedagang untuk berjualan, kurir untuk mengantar barang, pekerja untuk berangkat ke kantor, hingga pelaku UMKM untuk menjalankan usahanya.

Baca juga: Ramai Beredar di Medsos Harga Asli Pertalite Lebih Mahal dari Pertamax, Penjelasan Pertamina

Ketika biaya bahan bakar naik secara signifikan, maka biaya aktivitas ekonomi masyarakat juga ikut meningkat.

Kita pernah melihat bagaimana kenaikan harga Dexlite berdampak pada meningkatnya biaya distribusi barang.

Ketika ongkos logistik naik, harga berbagai kebutuhan ikut terdorong naik. 

Kenaikan Pertamax kali ini memang tidak secara langsung menyasar sektor distribusi, namun tetap memberikan tekanan tambahan terhadap daya beli masyarakat yang sudah cukup tertekan sebelumnya.

Karena itu, masyarakat perlu mulai memperkuat ketahanan ekonominya.

Efisiensi pengeluaran menjadi penting, tetapi tidak cukup.

Baca juga: Kepala Disperindag Kutim Respons soal Kelangkapan BBM Jenis Pertamax, Distribusi ke Daerah Tersendat

Rumah tangga perlu mulai memikirkan sumber pendapatan tambahan, meningkatkan keterampilan, serta memanfaatkan peluang ekonomi yang tersedia. 

Di tengah situasi yang tidak mudah, kemampuan beradaptasi menjadi kunci untuk bertahan.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu hadir lebih nyata dalam melindungi kelompok produktif yang menjadi tulang punggung perekonomian.

Penguatan transportasi publik, pengendalian inflasi daerah, dukungan bagi UMKM, penciptaan lapangan kerja, serta berbagai program peningkatan produktivitas masyarakat menjadi langkah yang semakin mendesak untuk dilakukan.

Kenaikan harga Pertamax mungkin memiliki alasan ekonomi dan fiskal yang dapat dipahami.

Baca juga: BBM Naik, Pemkot Balikpapan Alihkan Kendaraan Dinas ke Pertamax dan Hybrid

Namun di balik setiap angka yang diumumkan, ada jutaan keluarga yang harus menyesuaikan kembali kehidupannya.

Karena pada akhirnya, yang paling menentukan ketahanan ekonomi bangsa bukan hanya harga energi, tetapi kemampuan masyarakat untuk tetap hidup layak dan produktif di tengah berbagai tekanan yang terus datang silih berganti. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved