Selasa, 14 April 2026

Mutiara Ramadhan

Meneladani Nabi dengan Amalan Sunyi Menahan Lisan di Bulan Ramadan

Puasa seperti apa yang pada puasa itu kita boleh menikmati makan dan boleh menikmati minum?

|
Editor: Amalia Husnul A
Tribun Jabar
MUTIARA RAMADHAN - KH. Miftah F. Rakhmat, Pembina Pondok Pesantren Darur Rahman. 

Qala ayatuka alla tukalliman nasa tsalatsa layalin sawiyya.

Tanda untukmu itu adalah engkau tidak berbicara dengan manusia selama tiga hari.

Nah, ini yang sering disebut dengan puasa bicara.

Puasa yang kita boleh makan, kita boleh minum, tetapi yang kita tahan adalah lidah kita, yang kita tahan adalah lisan kita.

Kita ini, saudara sekalian, Tribunners rahimakumullah, adalah orang-orang yang punya berbagai macam permasalahan hidup.

Ada banyak hal yang memenuhi isi pikiran kita, menghimpit rongga dada kita. 

Dan Allah Ta’ala sebetulnya mengajarkan melalui kisah Nabi Zakaria ini, beliau yang berharap ingin punya putra, ingin punya keturunan, bertahun-tahun tidak kunjung memperolehnya.

Allah Ta’ala kemudian, dalam tanda petik, ajarkan untuk mulailah dengan tidak berbicara pada manusia illa ramza, dalam ayat Al-Qur’an yang lain, kecuali dengan isyarat saja. Ini menarik.

Dalam lanjutan ayat berikutnya yang mengisahkan tentang Sayyidatina Maryam salamullahi ‘alaiha.

Ketika Siti Maryam, ibunda Nabi Isa ‘alaihis salatu wasalam, itu kalau kuis berikutnya dalam pesantren kilat adalah sebutkan lima ciptaan Tuhan yang terlahir dalam keajaiban.

Misalnya Nabi Adam ‘alaihis salam lahir tanpa ayah dan ibu. Kemudian ada Nabi Isa ‘alaihis salam yang lahir tanpa kehadiran ayah.

Suatu saat datang malaikat yang menemui Siti Maryam salamullahi ‘alaiha, menyampaikan bahwa ia adalah hamba utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lalu ketika melahirkan Nabi Isa, karena akan menghadapi cobaan Siti Maryam akan berhadapan dengan masalah, ia beroleh putra tanpa seorang suami, tanpa ayah bagi anak itu.

Bayangkan, ia akan kembali ke kaumnya, kembali ke keluarganya, membawa anak yang tidak jelas siapa ayahnya. Ini tantangan, kendala, masalah yang sangat berat bagi Siti Maryam.

Malaikat utusan Allah Ta’ala kemudian menyampaikan, dalam Surah Maryam ayat ke-26:

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved