Selasa, 14 April 2026

Mutiara Ramadhan

Meneladani Nabi dengan Amalan Sunyi Menahan Lisan di Bulan Ramadan

Puasa seperti apa yang pada puasa itu kita boleh menikmati makan dan boleh menikmati minum?

|
Editor: Amalia Husnul A
Tribun Jabar
MUTIARA RAMADHAN - KH. Miftah F. Rakhmat, Pembina Pondok Pesantren Darur Rahman. 

Fa kuli wasyrabi wa qarri ‘aina.

“Makanlah dan minumlah, dan tenangkanlah hatimu”

Dan kalau engkau melihat seseorang yang bertanya kepadamu karena ini pertanyaan yang akan sangat dihindari, sesuatu yang ditakuti, masalah yang besar

Katakanlah “Inni nadzartu lirrahmani shauman falan ukallima al-yauma insiyya”

Aku bernazar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berpuasa, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.

Dua kisah yang satu punya hajat ingin dipenuhi, yang satu punya kekhawatiran menghadapi tantangan kaumnya. Dua permasalahan, dua kekhawatiran.

Betul, Allah Ta’ala mengajarkan kita berdoa. Yang Al-Quran ajarkan juga adalah dorong doa itu dengan amalan:

Ilaihi yash‘adu al-kalimu ath-thayyib wal-‘amalu ash-shalihu yarfa‘uh.

Kepada Allah Ta’ala naik kalimat-kalimat yang baik, dan amal saleh mengangkatnya lebih tinggi lagi.

Kita bisa dorong doa dengan amalan-amalan ibadah lainnya. Tetapi ada satu amalan khusus yang dalam kisah Surah Maryam ini Allah Ta’ala jelaskan, yaitu menahan lisan.

Di bulan Sya’ban dan Ramadhan sekarang ini, angkatlah doa-doa kita dengan menjaga pembicaraan kita, dengan puasa bicara.

Ternyata dalam kisah Nabi Zakaria dan Siti Maryam ini, puasa bicara mendekatkan diri pada ijabah doa, pada pemenuhan apa yang kita harapkan. Puasa bicara juga membantu kita menghadapi permasalahan yang kita khawatirkan.

Mengapa demikian? Karena sebetulnya, Tribuners, manusia adalah makhluk yang tidak pernah dapat berhenti berbicara, bahkan pada dirinya sendiri.

Memang ada praktik meditasi ketika kita diminta fokus khusus, tetapi manusia tidak pernah betul-betul kosong tanpa kata-kata dalam dirinya.

Kata-kata yang berputar di dalam diri itulah yang kadang-kadang, dalam pemenuhan doa dan menghadapi masalah, memberikan kepada kita banyak kekhawatiran.

Ketika kita berhenti berbicara, berhenti riuh rendah di kepala kita, pada saat yang sama kita belajar untuk lebih berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menyerahkan diri kita pada Allah Ta’ala, menyerahkan segala ketentuan kepada-Nya.

Di bulan suci Ramadhan ini kita menahan rasa lapar. Pada saat yang sama, kata sebagian ulama, salah satu makna setan dibelenggu adalah kendali kita atas diri kita menguat.

Termasuk kalau kita mau menggunjingkan orang lain, membicarakan orang lain, apalagi sampai menyebarkan isu yang tidak benar, dan sebagainya itu melemah. Jadi lisan kita berkurang aktivitasnya. Pada saat lisan berkurang aktivitasnya, ruh kita menguat.

Sebagaimana Nabi Zakaria yang Allah Ta’ala minta untuk puasa bicara. Sebagaimana Siti Maryam salamullahi ‘alaiha yang Allah Ta’ala juga minta, melalui malaikat, untuk puasa bicara.

Selain kita di bulan suci Ramadhan menahan diri dari makan, minum, amarah, dan sebagainya, alangkah baiknya bila kita menyertakan puasa kita dengan menahan lisan kita menahan pembicaraan kita atau berbicara hanya yang perlu, yang baik, dan yang diridhai Allah Ta’ala.

Marilah kita belajar menjadi seperti Nabi Zakaria, menjadi seperti Siti Maryam, dengan menjaga lisan kita—puasa bicara itu.

Mudah-mudahan dengan itu kita didekatkan pada ijabah doa, sebagaimana Nabi Zakaria didekatkan dengan harapannya beroleh seorang putra.

Atau kita ditepiskan dari hal-hal yang kita khawatirkan dan takutkan, sebagaimana Siti Maryam ditepiskan dari segala kekhawatiran itu dengan berkata:

Inni nadzartu lirrahmani shauman falan ukallima al-yauma insiyya.”

Nah, konteks sekarang ini, di era digital, puasa bicara bukan hanya dengan lisan kita. Puasa bicara juga dengan jari-jemari kita.

Mari kita batasi apa yang kita tuliskan, apa yang kita publikasikan, unggah, dan sebarkan. Kita batasi pada hal-hal yang Allah Ta’ala berkenan. Dengan harapan, sekali lagi, didekatkan pada ijabah doa dan ditepiskan dari segala kekhawatiran kita.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkati Tribuners dan keluarga di hari-hari penuh berkah di bulan suci ini. Terima kasih atas segala perhatian. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Wassalallahu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi thahirin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Wa ma tawfiqi illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (*)

Ikuti berita populer lainnya di saluran berikut: Channel WA, Facebook, X (Twitter), YouTube, Threads, Telegram

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved