Mutiara Ramadhan
Prof Nasaruddin Umar - Berdamailah dengan Musibah
Musibah itu ujian, jangan takut menghadapi ujian karena hanya dengan ujian martabat kita bisa meningkat.
Musibah dan penderitaan yang seharusnya menjadi sesuatu yang merepotkan, mengecewakan, menyakitkan, dan memalukan tetapi ada orang yang berhasil menjadikannya sebagai suatu kenikmatan.
Penyakit yang mendera Nabi Ayyub, di sekujur badannya dikerumuni belatung membuatnya dibuang di sebuah gua di pegunungan di luar perkampungan.
Ia tiba-tiba mengatakan kepada para belatung di sekujur tubuhnya, kalian dulu makhluk yang paling aku benci, di mana-mana saya mencari tabib untuk memusnahkanmu tetapi kalian tetap betah di tubuhku.
Sekarang kalian bersenang-senanglah, karena ternyata kalian adalah sahabat setiaku.
Satu-satunya yang bisa menemaniku di kegelapan gua ini hanya kalian.
Ayub tidak lagi merasa sakit dari gigiran belatung-belatung itu.
Penderitaan, rasa sakit, kecewa, malu, menderita, dan tertekan hanyalah masalah psikologis.
Musibah bisa diajak berkompromi. Musibah bisa dijadikan batu loncatan untuk naik lebih tinggi dari tempat semula.
Baca juga: Prof Nasaruddin Umar: Ramadan sebagai Bulan Pertobatan, Semoga Kita Meraih Taubat Istijabah
Banyak contoh dalam kehidupan kita musibah dijadikan sebagai hikmah untuk lebih maju, kreatif, dan berhasil.
Jangan memusuhi musibah karena pasti terasa lebih sakit.
Jangan memusuhi penyakit karena pasti penyakit itu lebih terasa mendera.
Nikmati penderitaan itu, niscaya kadar rasa sakitnya akan berkurang secara signifikan. Demikian pendapat para ahli anastesia.
Penderitaan atau musibah sesungguhnya adalah “surat cinta Tuhan”.
Tuhan merindukan hamba-Nya tetapi undangannya berupa kenikmatan dan kemewahan tidak digubris, maka Tuhan mengubah surat undangannya dalam bentuk musibah.
Musibah adalah ujian keburukan (balaun sayyiah) tetapi mengangkat martabat kemanusiaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250302_Menteri-Agama-dalam-Ramadhan-2025.jpg)