Mutiara Ramadhan
Prof Nasaruddin Umar - Menggapai Ketenangan Batin
Ada dua beban hidup yang tidak bisa satu atap dengan ketenangan, yaitu beban rasa bersalah dan beban rasa berdosa.
Disebut Ramadhan, artinya membakar, yaitu diharapkan mampu membakar hangus seluruh dosa-dosa yang pernah dilakukan.
Dengan demikian rasa berdosa bisa hilang seiring dengan banyaknya amal kebajikan yang dilakukan di dalam bulan Ramadhan.
Allah berfirman: Innl hasanat yudzhibnas sayyi’at (sesungguhnya perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa/Q.S. Hud/11:114).
Orang-orang yang mengoptimalkan amaliah Ramadhan diharapkan bisa mengikis habis dosa-dosa masa lampaunya.
Usai Ramadhan, yang bersangkutan seperti diungkapkan dalam hadis, kembali seperti bayi yang putih tanpa dosa.
Idul Fitri menjadi saksi adanya hamba yang kembali berbuka setelah menjalani masa puasa sebulan penuh.
Di samping itu juga menjadi tanda kembalinya seorang hamba ke dalam jati diri yang paling luhur.
Seusai Ramadhan, tradisi Indonesia dilakukan Halal bi Halal, sebuah upaya untuk menghilangkan rasa bersalah yang telah diperbuat terhadap saudara-saudaranya. Saling bersalam-salaman dan sekaligus saling memaafkan satu sama lain, diharapkan mengikis habis seluruh beban di pundak.
Rasa berdosa telah dibersihkan oleh Ramadhan dan rasa bersalah dibersihkan melalui Halal bi Halal.
Di sinilah indahnya bulan suci Ramadhan, mempromosikan ketenangan batin. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260224_Foto-Arsip-Menteri-Agama-Nasaruddin-Umar.jpg)