Rabu, 27 Mei 2026

Mutiara Ramadhan

Prof Nasaruddin Umar - Menggapai Ketenangan Batin

Ada dua beban hidup yang tidak bisa satu atap dengan ketenangan, yaitu beban rasa bersalah dan beban rasa berdosa.

Tayang:
Editor: Syaiful Syafar
DOK KEMENAG RI
MENTERI AGAMA - Foto arsip Menteri Agama RI Nasaruddin Umar yang dipublikasikan oleh Kementerian Agama RI. 

Oleh: Menteri Agama, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA

KITA bisa dengan mudah menasehatkan ketenangan batin kepada orang lain, tetapi kita sendiri kadang sulit mengamalkannya.

Kesulitan tidak terletak pada bagaimana memahami hakikat ketenangan itu, tetapi bagaimana bersahabat dengan kenyataan apa pun yang dialami
setiap hari.

Ketenangan batin lebih merupakan akibat daripada sebuah proses.

Sebagian orang mengemukakan bahwa ketenteraman batin merupakan anugerah Tuhan. Karena itu kita perlu memahami kiat-kiat mempertahankannya.

Kondisi batin yang paling perlu diwaspadai ialah ketika kita sedang dalam keadaan normal, yaitu ketika semua kebutuhan tercukupi dan mungkin berlebihan. 

Musibah, hajat, dosa besar, dan berbagai kesulitan dan kekecewaan hidup lainnya lebih sering mendorong seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT ketimbang kondisi batin yang sedang berkecukupan, baik dari segi kuantitatif maupun segi kualitatif.

Baca juga: Prof Nasaruddin Umar - Berdamailah dengan Musibah

Memang tingkat kebutuhan hidup setiap orang berbeda-beda.

Islam pun memperkenalkan beberapa tingkatan kebutuhan.

  1. Kebutuhan dharury, yakni kebutuhan pokok atau basic needs seperti kebutuhan akan makan, minum, dan berhubungan suami-istri. 
  2. Kebutuhan hajjiyat, yakni kebutuhan yang penting tetapi belum menjadi kebutuhan pokok, seperti kebutuhan akan sebuah tempat tinggal, kedaraan, dan alat komunikasi. 
  3. Kebutuhan tahsiniyyat, yakni kebutuhan yang bersifat pelengkap (luxury), seperti perabotan yang bermerek, aksessoris kendaraan, dan telepon genggam canggih. 

Seseorang yang berada dalam tingkat kedua dan ketiga perlu berhati-hati karena perjalanan spiritual dalam kondisi seperti ini seringkali jalan di tempat. Bahkan berpeluang untuk diajak turun oleh berbagai daya tarik dan godaan dunia.
 
Berbeda jika seseorang sedang dirundung duka, sedang diuji dengan kebutuhan mendesak, atau sedang dilanda penyesalan dosa yang mungkin agak resisten terhadap godaan-godaan yang bersifat materi.

Baca juga: Prof Nasaruddin Umar - Puasa Menghilangkan Stres

Ada dua beban hidup yang tidak bisa satu atap dengan ketenangan, yaitu beban rasa bersalah dan beban rasa berdosa.

Beban rasa berdosa terjadi jika seseorang rajin menumpuk dosa dan pelanggaran perintah dan ajaran Tuhan, seperti berzina, berbohong, korupsi, dan membicarakan aib orang lain. 

Rasa bersalah terjadi jika seseorang sering berbuat kesalahan kepada saudaranya sendiri, seperti tidak menepati janji, khianat, menzalimi, memfitnah, dll.

Selama rasa berdosa dan rasa bersalah ini tidak dibersihkan, tidak akan pernah ada ketenangan abadi. 

Bulan suci Ramadhan datang untuk mensucikan kita.

Baca juga: Prof Nasaruddin Umar - Mengontrol Tabungan Spiritual

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved