Kamis, 28 Mei 2026

Mutiara Ramadhan

Belajar dari Sifat-sifat Tuhan

Internalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri merupakan perjalanan spiritual anak manusia untuk mendekati Tuhannya.

Tayang:
Editor: Heriani AM
Tangkap Layar Youtube Masjid Istiqlal
SALAT TARAWIH PERDANA - Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menyampaikan tausiyah sebelum salat tarawih perdana Ramadan 1447 H/2026 M di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu malam (18/2/2026). Dalam pesannya bertema Ramadan Hijau, Sahabat Alam, ia mengajak jemaah meneguhkan niat puasa sekaligus menjaga harmoni dengan alam. 

Oleh: Menteri Agama, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA

SALAH satu hikmah dalam berpuasa ialah mencontoh dan meneladani sifat-sifat Tuhan.

Nabi pernah bersabda: Takhallaqu bi akhlaqillah (berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah SWT). 

Al-Qur'an menyebutkan huwa yuth’im wa la yuth’am (Tuhan memberi makan dan tidak diberi makan) (QS: 6:14) dan lam takun lahu shahibah (Tuhan tidak memiliki pasangan) (QS: 6:101). 

Internalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri merupakan perjalanan spiritual anak manusia untuk mendekati Tuhannya. 

Semakin dekat jarak seorang hamba dengan Tuhannya semakin mulia hamba itu.

Di dalam berpuasa kita tidak boleh makan, minum, dan berhubungan seks, sebaliknya kita diwajibkan berzakat fitrah, yaitu memberi makan kepada orang yang butuh. 

Harapan terakhir kita dengan menjalankan ibadah puasa agar kita mencapai kualitas muttaqin (orang-orang takwa), suatu kualitas spiritual yang paling mulia dan didambakan setiap orang, sebagaimana dijelaskan dalam ayat: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa". (QS: Al-Baqarah/2:183).

Baca juga: Menemukan Sahabat Spiritual, Renungan Prof Nasaruddin Umar

Kata muttaqin (orang-orang bertakwa) dalam ayat di atas sesungguhnya tidak lain adalah mengombinasikan sikap cinta, takut, dan segan kepada Allah SWT.

Muttaqin tidak tepat diartikan takut kepada Allah SWT, karena Allah SWT sebagaimana diperkenalkan kepada kita melalui al-asma' al-husnya-Nya, bukan sosok Maha Mengerikan untuk ditakuti,  tetapi lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Pencinta dan Maha Penyayang. Apalagi terhadap manusia yang Allah ciptakan dengan cinta.

Manusia satu-satunya yang ditegaskan diciptakan dengan kedua tangan-Nya: Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?". (QS: Shad/38:75).

Seluruh makhluk lain termasuk malaikat tidak ada penegasan seperti ini.

Seolah-olah manusia adalah ciptaan langsung (hand made) Allah SWT. 

Baca juga: Prof Nasaruddin Umar: Bahaya Ujaran Kebencian dalam Masyarakat

Makna "kedua tangan Tuhan" di bahas panjang lebar dalam kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab tasawuf, yang intinya Tuhan memiliki "dua tangan" dalam arti kekuatan maskulin (jalaliyyah) dan kekuatan feminim (jamaliyyah).

Kedua "Tangan Tuhan" digambarkan di dalam nama-nama indah-Nya yang dikenal dengan al-Asma' al-Husna.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved