Kamis, 28 Mei 2026

Mutiara Ramadhan

Menggapai Pribadi Qana'ah

Qana'ah berasal dari akar kata qani'a-yaqna' berarti merasa puas apa yang ada, rela menerima jatah kenyataan yang datang dari Allah SWT

Tayang:
Editor: Amalia Husnul A
TRIBUNNEWS.COM/RISMAWAN
NASARUDDIN UMAR - Foto arsip Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA, Imam Besar Masjid Istiqlal saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (19/5/2023). (TRIBUNNEWS.COM/RISMAWAN) 

Oleh: Menteri Agama, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA

DALAM bahasa Indonesia sudah umum dipahami bahwa qana'ah ialah orang-orang yang sudah merasa cukup yang ada pada dirinya.

Qana'ah berasal dari akar kata qani'a-yaqna' berarti merasa puas apa yang ada, rela menerima jatah kenyataan yang datang dari Allah SWT, apa pun adanya kenyataan itu.

Para ahli hakekat memahami qana'ah sebagai sikap tenang di dalam menghadapi hilangnya sesuatu yang biasa ada.

Dikatakan juga merasa cukup dengan yang sedikit.

Ada juga yang mengatakan merasa kaya dengan yang ada.

Lawan dari qana'ah ialah rakus.

Rakus ialah orang-orang yang tidak pernah merasa puas, sebanyak apa pun harta yang dimilikinya. Hanya penampilan wujudnya yang kelihatan mewah tetapi di dalam hati dan pikirannya betul-betul sangat miskin.

Baca juga: Berlatih untuk Diam

Ikrimah dan beberapa ulama tafsir mempunyai beragam pendapat tentang ayat: Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. al-Nahl/16:97).

Yang dimaksud hayatan thayyibah (kehidupan yang baik) dalam ayat ini adalah qana'ah.

Demikian juga dalam ayat: Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. (Q.S. al-Hajj/22:58).

Yang dimaksud rizqan hasanan (rezki yang baik) dalam ayat ini adalah qana'ah, sebagaimana ditegaskan juga di dalam ayat lain: Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (Q.S. al-Ahdzab/33:33).

Yang dimaksud kata al-rijz dalam ayat ini ialah kekikiran dan kerakusan.

Sedangkan kalimat wayuthahirakum tathhiran (membersihkan kamu sebersih-bersihnya) ialah dengan cara dermawan dan qana'ah.

Baca juga: Kekuatan Imajinasi Spiritual

Ada juga yang berpendapat, maksudnya dengan cara dermawan dan lemah lembut.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved