Mutiara Ramadhan
Menangis
Ada dua orang pernah melakukan penelitian disertasi tentang air mata. Seorang dari Jerman dan seorang dari AS.
Ia tidak tahu membayangkan bagaimana bisa terjadi tiba-tiba menangis terseduh-seduh merindukan Tuhannya.
Ia lupa dosanya, lupa juga surga dan neraka, yang ada dalam benaknya adalah Sang Maha Agung Allah SWT.
Kedua jenis air mata emas ini hanya bisa dialami oleh orang-orang yang mendapatkan anugerah dan hidayah dari Allah SWT.
Baca juga: Kekuatan Imajinasi Spiritual
Kita berharap dalam bulan Ramadan ini kita bisa mengoleksi kedua jenis air mata itu sebanyak-banyaknya.
Mestinya di bulan Ramadan ini kita lebih banyak menangis ketimbang ketawa, sekalipun penuh dengan lawak dan banyolan yang disuguhkan oleh media-media TV.
Jika air mata selalu kering di atas tumpukan dosa dan maksiat dan jika air mata kerinduan terhadap Tuhan tidak pernah lagi terurai, maka perlu kita melakukan introspeksi.
Apakah kita termasuk orang yang dilukiskan Tuhan sebagai "di dalam hatinya ada penyakit" (fi qulubihim maradh) atau sudah sampai kepada "Allah sudah menutup mati pintu hatinya" (khatamallah ’ala qulubihim).
Mari kita memeriksa mata kita, apakah sudah bersahabat dengan surga atau bersahabat dengan neraka? (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250302_Menteri-Agama-dalam-Ramadhan-2025.jpg)