TOPIK
Milisi Abu Sayyaf
-
Perasaan bingung dan kalut jadi satu saat mengetahui layar ponsel tertera nomor asing, yang bukan dari nomor asal Indonesia.
-
Pertemuan Menteri Pertahanan Indonesia, Malaysia, dan Filipina yang berlangsung di Bali Selasa (2/8/2016) menghasilkan sejumlah kesepakaatan
-
Dengan kondisi tersebut, para penyandera mengizinkan sandera untuk berkomunikasi dengan keluarga untuk menekan pemerintah membayar uang tebusan.
-
Mega menjelaskan, batas waktu yang diberikan penyandera 15 hari terhitung sejak 1 Agustus lalu.
-
"Agar keluarga tenang, dan membuktikan bahwa tim bekerja dengan maksimal mengupayakan sandera bisa segera bebas," tuturnya.
-
Ketiga keluarga sandera itulah yang setiap hari mendatangi posko guna berbagi informasi, hingga melaporkan ke pihak perusahaan.
-
udah 40 hari lamanya, 7 anak buah kapal (ABK) Tug Boat (TB) Charles 00 menjadi sandera kelompok bersenjata Abu Sayyaf di perairan Filipina Selatan.
-
"Kami terus lakukan pembicaraan mengenai permintaan keberangkatan ke Jakarta oleh pihak keluarga".
-
para penyandera yang mengaku dari grup Al Habsy tersebut juga sempat mengirimkan pesan singkat ke Mega dengan kalimat yang menegaskan percakapan
-
Hal itu pun sudah disampaikan oleh pihak keluarga saat mendatangi kantor operasional perusahaan yang terletak di kawasan Sungai Lais.
-
Keseluruhan kru kapal terdapat 13 orang, namun kelompok Islam ekstremis itu hanya menyandera 7 orang saja.
-
pemerintah Indonesia masih mempercayakan upaya penyelamatan tersebut ke pemerintah Filipina.
-
“Kami tidak tunggu koordinasi, kami tunggu perintah. Perintah laksanakan, kita selesaikan itu di sana,” ujar Pangkostrad.
-
Pasukan militer Filipina telah membunuh sekitar 40 militan Abu Sayyaf dalam serangan yang digencarkan selama lebih dari sepekan yang lalu.
-
Pemberitaan media, kata dia, bisa digunakan penyandera untuk menekan pemerintah.
-
hingga saat ini pemerintah Filipina belum memberikan izin kepada militer Indonesia untuk masuk dan membebaskan sandera
-
Sebanyak empat anak buah kapal (ABK) yang selamat dari penculikan di perairan Sabah diketahui merupakan warga Indonesia dan Filipina.
-
Penyanderaan pertama tercatat di Pulau Sipadan- yang saat itu masih disengketakan Indonesia dan Malaysia, April 2000 dengan sasaran 25 wisatawan.
-
Ryamizard mengatakan, saat ini tentara Filipina sudah melakukan pengepungan di lokasi yang diketahui tempat Abu Sayyaf dan para sanderanya berada.
-
Pihaknya mengaku informasi yang diterima dirinya saat ini sangat terbatas, kendati 7 orang tersebut merupakan pekerja yang berkerja di perusahaannya
-
Akhirnya keenam anak buah kapal (ABK) TB Charles yang selamat dari insiden penyanderaan di sekitar perairan Filipina dipulangkan ke Kota Samarinda.
-
Meskipun harus menempuh risiko melintas di kawasan konflik yang telah ditetapkan dua negara yakni, Indonesia dan Filipina.
-
Sementara kawanan mereka naik ke anjungan kapal, lalu menjarah barang-barang officer serta alat-alat navigasi kapal.
-
Tak mau kejadian pertama terulang lagi mereka memutuskan untuk melepas tali tongkang untuk menambah laju kapal.
-
Hal tersebut memperkuat bahwa informasi yang diterima oleh keluarga korban merupakan penipuan atau hoax semata.
-
Lanal Balikpapan melakukan pendalaman maraton terkait peristiwa penyanderaan yang dialami TB Charles ketika berada di perairan Filipina.
-
"Tetap saja khawatir, karena kami tidak bisa dengar langsung dari mereka, hanya omongan saja dari perusahaan," tuturnya.
-
Namun pada kenyataannya, ada belasan juta pelaut di Indonesia banyak diperlakukan tidak adil.
-
Para istri dan keluarga Anak Buah Kapal (ABK) Tug Boat (TB) Charles masih menanti kedatangan para ABK di mes perusahaan.
-
Kivlan menjelaskan kepentingan kelompok yang menyandera Anak Buah Kapal (ABK) TB Charles 001 dan TK Robby 152 untuk kepentingan bisnis semata.
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved