Sosok
Resah, Doa dan Bendera, Kisah Nisya di Balik Upacara 17 Agustus di Bontang
Naisya Vidya Al Safira Putri berdiri di tepi lapangan, menggenggam erat baki. Dalam hati ia berbisik lirih: “Mampu nggak aku menjalankan tugas ini?”
Penulis: Muhammad Ridwan | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO,BONTANG – Langit Stadion Bessai Berinta Kota Bontang, Kalimantan Timur pagi itu, tampak muram.
Awan kelabu bergelayut, hujan turun perlahan, membasahi tanah lapangan.
Jantungnya berdegup tak beraturan. Nafas serasa berat, tangan dingin, dan pelipis basah oleh rintik hujan.
Naisya Vidya Al Safira Putri berdiri di tepi lapangan, menggenggam erat baki. Dalam hati ia berbisik lirih: “Mampu nggak aku menjalankan tugas ini?”.
Ribuan pasang mata duduk menanti di tribun, Minggu 17 Agustus 2025, sebagai lain membiarkan rintik membasahi wajah.
Di tengah suasana sendu itu, hentakan kaki pasukan pengibar bendera menggema.
Baca juga: Neni Pimpin Ucapara HUT RI di Stadion Bessai Berinta Bontang di Tengah Hujan Deras
Irama langkah seragam itu seperti genderang perang, menyapu keresahan dan memanggil setiap anggota untuk bersiap.
Bagi Naisya, siswi SMAN 1 Bontang, momen itu adalah puncak dari perjalanan panjang, setelah sebulan penuh ia dan 40 rekannya digembleng di asrama.
Hari-hari dilalui dengan disiplin keras, teriakan pelatih TNI/Polri. Latihan fisik tanpa henti, koreksi tajam setiap gerakan.
Peluh, air mata, dan kelelahan seakan jadi makanan sehari-hari. Semua itu hanya untuk satu detik sakral, membawa Sang Merah Putih ke angkasa.
Kini detik itu benar-benar tiba. Nafasnya ia tahan, kakinya melangkah. Satu, dua, tiga… irama langkahnya berpadu dengan detak jantung yang berdentum kencang.
Senyumnya berusaha ia bentangkan, tapi matanya tak bisa menahan kaca. Di telinganya, suara orang tua seperti terngiang jelas.
“Jangan kecewakan pelatih, senior, dan keluarga. Berikan yang terbaik," kata Naisya.
Baki berisi bendera di serahkan. Lalu, perlahan, Sang Merah Putih mulai naik. Tetes hujan jatuh membasahi wajah para peserta upacara, tapi tak ada yang peduli.
Semua mata tertuju ke langit. Bendera pusaka berkibar gagah, bergelombang bersama angin. Dan di baliknya, Naisya berdiri tegak, senyumnya pecah, membubarkan keresahan yang sejak lama menghantui.
“Alhamdulillah, akhirnya bisa menyelesaikan tugas. Saya ingin memberikan yang terbaik,” ucapnya dengan suara bergetar.
Baca juga: Pemkot Bontang Yakin MK Kabulkan Pengalihan Sidrap dari Kutai Timur
Bagi remaja itu, menjadi pembawa baki bukan akhir, melainkan awal. Ia menyimpan mimpi besar untuk menjadi Polwan, abdi negara yang sejak lama ia cita-citakan.
Tahun ini, 41 putra-putri terbaik Bontang terpilih melalui seleksi ketat menjadi anggota Paskibraka. Mereka bukan sekadar mengibarkan bendera, melainkan wajah harapan generasi muda kota ini.
Harapan yang lahir dari keringat, doa, dan tekad yang tak kenal menyerah.
Dan pagi itu, di bawah hujan yang syahdu, Bontang menyaksikan Sang Merah Putih berkibar dengan gagah.
Senyum Naisya menjadi simbol: bahwa keresahan bisa ditaklukkan, dan tugas seberat apa pun bisa diselesaikan asal ada keyakinan, doa, dan kerja keras. (*)
| Sosok Juni Sitorus, Bos Baru Pelni Balikpapan, Pernah Hadapi Tantangan Berat di Papua |
|
|---|
| Sosok Ferlita Ananda, Ketua KNPI Perempuan Pertama di Kutai Barat |
|
|---|
| Prajurit Kodam VI/Mulawarman Praka Ibnu Sidik Naik Podium Kemala Run, Kalahkan 11 Ribu Pelari |
|
|---|
| Profil H Syamsi Sarman , Dari Tukang Cuci Piring hingga Pernah Difitnah dan Diancam |
|
|---|
| Sosok Neneng Chamilia Santi, Perjalanan 24 Tahun hingga Jadi Sekda Samarinda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250817-Naisya-Vidya-Al-Safira-Putri.jpg)