Berita Samarinda Terkini
MTI Kaltim Yakin BRT Mampu Ubah Kebiasaan Pelajar Bawa Motor di Samarinda
Dorongan untuk menghadirkan transportasi massal bagi pelajar di Kota Samarinda, Kalimantan Timur semakin menguat
Penulis: Sintya Alfatika Sari | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO,SAMARINDA — Dorongan untuk menghadirkan transportasi massal bagi pelajar di Kota Samarinda, Kalimantan Timur semakin menguat.
Kehadiran moda transportasi yang aman, murah, dan terintegrasi dipandang penting guna menekan tingginya angka pelajar yang menggunakan sepeda motor ke sekolah.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Kaltim, Tiopan Henry Manto Gultom, yang menilai Bus Rapid Transit (BRT) adalah solusi paling realistis dan cepat untuk menjawab kebutuhan tersebut sekaligus memperbaiki pola mobilitas perkotaan.
Menurutnya, prinsip utama transportasi massal adalah adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
Dengan kondisi Samarinda saat ini, BRT menjadi moda paling memungkinkan diwujudkan dalam jangka pendek.
“Bahwa prinsip untuk transportasi massal itu kan dia juga harus adaptif terhadap permintaan, dengan melihat kondisi seperti ini di Kota Samarinda untuk jangka pendek yang paling memungkinkan adalah BRT, mengenai mekanisme pengoperasian dan segala macam,” ujar Tiopan.
Baca juga: Dishub Samarinda Gelar Forum Diskusi, Bedah Wacana Transportasi Massal untuk Mobilitas Pelajar
Ia meyakini Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda sudah melakukan kajian teknis untuk rencana tersebut.
Namun jika pun kajian belum maksimal, MTI siap menjadi mitra diskusi agar transportasi massal segera dihadirkan.
Selain BRT, ia menyinggung opsi transportasi sungai melalui Karangmumus yang sebelumnya juga pernah diusulkan Disperkim.
Namun moda tersebut dinilai membutuhkan tahapan panjang karena keterbatasan infrastruktur, mulai dari jembatan yang harus ditinggikan hingga persoalan kualitas air.
“Kemudian mungkin ada beberapa daerah yang mungkin airnya masih bau, mungkin tidak akan nyaman. Itu harus ada perbaikan dulu, mulai ada pembuatan talud normalisasi, kemudian haltenya juga direncanakan lagi. Prosesnya masih lebih panjang, kajiannya masih akan lebih panjang,” jelasnya.
Dengan pertimbangan itu, BRT dipandang lebih siap dijalankan. Menurut Tiopan, keberadaan angkot tidak harus dihapuskan, melainkan bisa difungsikan sebagai feeder untuk BRT.
Artinya, angkot dapat berperan sebagai moda pengumpul penumpang dari permukiman padat menuju halte-halte utama BRT.
“Kalau menurut saya yang sekarang memungkinkan bisa cepat itu adalah BRT untuk dalam kota. Angkutan kota yang sekarang tidak hilang, tapi dia jadi bagaimana bisa menjadi feeder, jadi dia menyiapkan atau mau sebagai pengumpul untuk mengangkut ke stasiun halte-halte BRT,” katanya.
Tiopan juga mencontohkan kawasan padat seperti Bengkuring dan Sempaja Lestari yang belum terlayani angkutan kota.
| Penganugerahan Apresiasi Kinerja Pemerintah Daerah Berprestasi 2026, Samarinda Raih 2 Penghargaan |
|
|---|
| Kuasa Hukum Tersangka Mutilasi di Sempaja Utara Upayakan Keringanan Hukuman Kliennya |
|
|---|
| 140 Lapak Sementara Pasar Segiri Samarinda Rampung, DPUPR Serahkan Pengelolaan ke Disdag |
|
|---|
| Dishub Samarinda Sisir Parkir Liar Pelajar, Ada Motor Tersembunyi di Gang hingga Halaman Rumah Warga |
|
|---|
| Parkir Liar di Teras Samarinda Meningkat, Dishub Siapkan Solusi dan Evaluasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/2025103-sosialisasi-polisi.jpg)