Jumat, 8 Mei 2026

Salam Tribun

Krisis BBM di Lumbung Energi

Di tengah status sebagai lumbung energi nasional, warga Kalimantan Timur justru masih antre BBM dan terancam terputus logistik.

Tayang:
Penulis: Sumarsono | Editor: Doan Pardede
DOK PRIBADI
PEMRED TRIBUN KALTIM - Sumarsono, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim. Di tengah status sebagai lumbung energi nasional, warga Kalimantan Timur justru masih antre BBM dan terancam terputus logistik. 

Oleh: Sumarsono, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim/TribunKaltim.co

PERSOALAN kesulitan bahan bakar minyak (BBM) yang dirasakan masyarakat Kalimantan Timur sepertinya tak pernah ada ujung.

Antrean panjang kendaraan khususnya BBM solar dan pertalite masih menjadi pemandangan yang sering kita lihat di sejumlah SPBU.

Fenomena krisis BBM seharusnya tidak lazim terjadi di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim), karena daerah ini dikenal sebagai penghasil sumber daya alam minyak dan gas (migas).

Apalagi dengan keberadaan kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, yang konon merupakan kilang terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

Proyek RDMP yang baru saja diresmikan Presiden RI Prabowo Subianto membuat Kota Balikpapan, Kalimantan Timur menyandang gelar "lumbung energi" nasional.

Namun tragisnya, di tengah-tengah “lumbung energi”, tempat kilang minyak terbesar ini, pemandangan truk-truk yang mengular di SPBU masih saja terjadi.

Baca juga: 5 Fakta Angkutan Sungai Mahakam Lumpuh, tak dapat BBM Subsidi, Harga Sembako di Mahulu Terancam Naik

Bahkan, terbaru ancaman mogok massal kapal angkut di Sungai Mahakam, Samarinda menuju Mahakam Ulu mulai Sabtu, 24 Januari 2026 dipicu tidak tersedianya pasokan BBM subsidi untuk armada kapal.

Hal ini menjadi bukti adanya persoalan tata niaga BBM di Kalimantan Timur makin nyata.

Diresmikannya operasional RDMP Balikpapan pada 12 Januari 2026 lalu seharusnya menjadi jawaban atas dahaga energi di wilayah Timur Indonesia, khususnya Kaltim sebagai daerah penghasil dan pengolah bahan bakar minyak.

Fakta berkata lain, antrean BBM masih saja terjadi dan distribusi ke daerah pedalaman juga terkendala.

Peningkatan kapasitas pengolahan BBM di Kilang Balikpapan dari 260.000 menjadi 360.000 barel per hari, Kaltim secara teknis telah mengukuhkan diri sebagai jantung kedaulatan energi.

Keberadaan teknologi tinggi dan kapasitas raksasa ini terasa jauh dari jangkauan warga yang masih harus menghabiskan waktu berjam-jam di SPBU.

Di Balikpapan dan Samarinda, antrean BBM—terutama jenis Solar dan Pertalite—masih menjadi rutinitas yang menyesakkan.

Istilah "tikus mati di lumbung padi" berubah menjadi "warga antre di lumbung minyak," sebuah kritik tajam atas ketimpangan antara status sebagai produsen dan realitas distribusi di lapangan.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved