Tradisi Lokal Ramadan di Kaltim
Budayawan Soroti Perubahan Tradisi Ramadan di Samarinda, Laduman Sudah Jarang Terdengar
Menjelang Ramadan 2026, suasana di sudut-sudut Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, mulai terasa berbeda.
Penulis: Raynaldi Paskalis | Editor: Miftah Aulia Anggraini
Ringkasan Berita:
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Menjelang Ramadan 2026, suasana di sudut-sudut Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, mulai terasa berbeda.
Warga kian sibuk menghidupkan kembali beragam tradisi lama yang sudah menjadi rutinitas tahunan masyarakat di Kota Tepian.
Budayawan Kalimantan Timur, Syafruddin Pernyata, mengamati bahwa tradisi paling ikonik yang hingga kini masih bertahan adalah ziarah kubur.
Dia bilang, sepekan sebelum puasa, area pemakaman mulai dipenuhi peziarah yang datang untuk berdoa, hingga mencapai puncaknya sehari sebelum Ramadhan tiba.
Baca juga: Niat Mandi Wajib sebelum Puasa Ramadan 2026, Lengkap Tata Cara untuk Wanita dan Pria
Fenomena ini juga membawa berkah bagi para penjual bunga yang berjejer rapi di pintu masuk makam.
"Selain berdoa, para penziarah biasanya membersihkan makam. Biasanya, banyak orang berjualan bunga sebelum masuk ke kawasan makam," ujarnya kepada TribunKaltim.co, Selasa (17/2/2026).
Lebih lanjut, Syafruddin menjelaskan, tak hanya urusan makam, warga juga sibuk membenahi lingkungan.
Mulai dari membersihkan rumah pribadi hingga bergotong royong mempercantik masjid dan musala agar ibadah tarawih terasa lebih khusyuk.
Baca juga: Harga Daging di Pasar Segiri Samarinda Tembus Rp165 Ribu per Kg Jelang Ramadan
Di dapur, kaum ibu pun tak kalah sibuk menyetok bahan makanan untuk sahur dan keperluan takjil selama sebulan penuh.
Dia juga menyebut, ramadhan juga menjadi momen "mulang kampong" atau mudik bagi sebagian warga agar bisa berkumpul dengan keluarga besar.
Selain itu, ada tradisi berkumpul untuk mendoakan leluhur yang sekaligus menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antar kerabat.
Namun, Syafruddin mencatat ada beberapa hal yang mulai sulit ditemukan, salah satunya adalah permainan laduman atau meriam karbit.
Baca juga: Atraksi Sembur Api Curi Perhatian saat Pawai Obor Ramadan 2026 di Tarakan
Dulu, warga sekampung bahu-membahu membuat laduman dari kayu besar atau bambu yang dilubangi tengahnya.
Sayangnya, seiring sulitnya mencari bahan baku kayu dan bambu, suara dentuman khas ini mulai jarang terdengar.
"Sebagian generasi muda masih melaksanakan hal-hal yang berkaitan langsung dengan ibadah. Sementara kegiatan laduman, ziarah, sebagian generasi meninggalkannya. Hal ini karena bahan sudah semakin sulit didapatkan (laduman), sebagian karena terpisah jauh dengan keluarga (ziarah)," jelasnya.
| Ramadan 2026, Salimah Samarinda Bahagiakan 200 Anak Yatim Lewat Wisata Belanja |
|
|---|
| Kisah Haru Imam Masjid Al-Wustho, Berangkat Haji dari Nazar Pribadi Almarhum Imdaad Hamid |
|
|---|
| Manisnya Amparan Tatak Resep Warisan, Jadi Primadona di Pasar Ramadhan Balikpapan Permai |
|
|---|
| Kisah Ali, Pedagang Cendol Legendaris di Balikpapan, Bertahan Dua Dekade Sejak Era SBY |
|
|---|
| Manisnya Berbuka, Amparan Tatak dan Kakicak Jadi Primadona Takjil di Penajam Paser Utara |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/laduman-yang-ada-di-desa-jantur-kecamatan-muara-muntai-kukar.jpg)