Kamis, 14 Mei 2026

Ramadhan 2026

Bubur Peca Masjid Tua Samarinda Seberang, Warisan Budaya Tak Benda yang Hangatkan Ramadhan

Di Samarinda, terdapat satu tradisi berbuka puasa yang tak lekang oleh waktu, yakni sajian Bubur Peca di Masjid Shiratal Mustaqiem, Samarinda Seberang

Tayang:
TRIBUN KALTIM/Mohammad Fairoussaniy
TRADISI BUBUR PECA - Suasana buka puasa bersama di Masjid Shiratal Musthaqiem (Masjid Tua) yang terletak di Jalan Pangeran Bendahara, Kelurahan, Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), Kamis (19/2/2026). Disini ada hidangan Bubur Peca dengan resep turun temurun dihidangkan oleh ibu–ibu sekitar masjid tua, tradisi ini terus dirawat oleh masyarakat membuat suasana setiap Ramadan yang sederhana, penuh makna. (TRIBUNKALTIM.CO/ MOHAMMAD FAIROUSSANIY) 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Bulan suci Ramadhan selalu menghadirkan keunikan di setiap sudut kota.

Di Samarinda, terdapat satu tradisi berbuka puasa yang tak lekang oleh waktu, yakni sajian Bubur Peca di Masjid Shiratal Mustaqiem, Samarinda Seberang.

Masjid yang berdiri sejak tahun 1881 ini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga penjaga tradisi kuliner yang melegenda.

Setiap sore, warga dan musafir berkumpul untuk mencicipi Bubur Peca, hidangan khas yang telah memasuki generasi kelima.

“Tradisi memasak bubur peca ini sudah berlangsung turun-temurun sejak masa nenek buyut. Kami hanya melanjutkan amanah agar tradisi buka bersama ini tetap lestari,” ujar Mardiana, Ketua Tim Dapur, Kamis (19/2/2026).

Mardiana telah menjadi juru masak utama selama 22 tahun. Nama "Peca" diambil dari bahasa Bugis yang berarti lembek.

Baca juga: Manisnya Amparan Tatak Resep Warisan, Jadi Primadona di Pasar Ramadhan Balikpapan Permai

Teksturnya yang halus memang dirancang agar ramah bagi lambung setelah seharian berpuasa.

Proses memasak dimulai sejak pukul 08.00 WITA menggunakan tungku besar.

Bahan dasarnya terdiri dari:

Beras (sebanyak 25 kilogram per hari)

Santan kental & kaldu ayam kampung

Rempah-rempah: jahe, kayu manis, bawang merah, dan bawang putih.

Adonan ini diolah menjadi sekitar 300 hingga 400 porsi setiap harinya. Biasanya, bubur disajikan dengan pendamping lauk ayam bistik atau telur bumbu merah.

Uniknya, hidangan ini tidak diperjualbelikan; semua tersedia gratis berkat gotong royong dan sumbangan warga sekitar.

Keistimewaan Bubur Peca kian dipertegas dengan statusnya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang ditetapkan Pemerintah Kota Samarinda pada tahun 2025 lalu.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved