Berita Samarinda Terkini
BMKG Samarinda Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Waspada Karhutla
Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda memprediksi musim kemarau 2026 di Kaltim akan datang lebih awal dengan karakter curah hujan di bawah normal
Penulis: Sintya Alfatika Sari | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA — Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda memprediksi musim kemarau 2026 di Kalimantan Timur (Kaltim) akan datang lebih awal dengan karakter curah hujan di bawah normal.
Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan di sejumlah wilayah.
Kepala BMKG Kota Samarinda, Riza Arian Noor, menegaskan bahwa informasi prediksi musim kemarau bukan sekadar data rutin, melainkan memiliki peran strategis dalam mendukung berbagai sektor.
“Jadi ini bukan sekedar data statistik rutin. Informasi cuaca dan iklim yang akurat tentu menjadi kunci dalam mendukung ketahanan pangan, serta langkah preventif dalam mitigasi bencana karhutla serta kekeringan,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Ia menambahkan, pihaknya melalui Stasiun APT Pranoto Samarinda terus berupaya meningkatkan pemahaman bersama terkait dinamika atmosfer yang akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Baca juga: Antisipasi Sejak Dini Musim Kemarau, PT ITCI Hutani Manunggal Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan
Terkait fenomena iklim global, Riza menegaskan bahwa BMKG tidak menggunakan istilah populer yang kerap beredar di masyarakat, melainkan mengacu pada klasifikasi ilmiah.
“Kami dari BMKG tidak mengenal istilah El Nino Godzila yang kami kenali adalah El nino dengan intensitas tertentu yaitu lemah, moderator dan tinggi,” tegasnya.
Berdasarkan hasil monitoring dinamika atmosfer hingga awal April, BMKG mencatat kondisi IOD (Indian Ocean Dipole) dan ENSO (El Nino Southern Oscillation) masih berada pada fase netral. Namun, dalam beberapa bulan ke depan diprediksi akan terjadi perubahan.
“BMKG memprediksi kondisi ENSO akan berkembang menjadi Elnino lemah di periode Mei Juni-Juli, dinamika ini akan mempengaruhi prediksi musim di Kaltim,” jelasnya.
Dari sisi pembagian zona musim, Kaltim memiliki 20 zona musim, dengan karakteristik yang berbeda.
“16 zona musim yang mempunyai dua musim yakni musim hujan dan panas. Dan 4 zona merupakan wilayah hujan sepanjang tahun, ini bagian Kaltim bagian barat, yakni Kabupaten Mahulu dan sebagian Kutai Barat (Kubar),” paparnya.
Secara umum, awal musim kemarau di Kaltim diprediksi terjadi pada periode Juni hingga Agustus, dengan sebagian wilayah mulai memasuki kemarau lebih awal.
“Jadi kalau dilihat secara umum awal kemarau di Kaltim diprediksi Juni Juli Agustus dimana 40 persen wilayah zona musim diprediksi mulai di Juni, jadi teman teman BPBD dan BWS bisa ambil langkah-langkah mitigasi yang akan dilakukan,” ujarnya.
Jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis selama 30 tahun terakhir, kemarau 2026 diperkirakan datang lebih cepat di sejumlah wilayah.
“Diprediksi lebih maju dari kondisi normalnya dimana 45 persen wilayah zona musim sama dengan kondisi rata-rata nya dan 35 persen musim kemaraunya maju atau lebih awal dari kondisi rata-rata nya,” ungkapnya.
| Samarinda Graphic Memoir Exhibition 2026, Hadirkan 200 Karya dari 20 Kreator Asal Kota Tepian |
|
|---|
| Pemkot Samarinda Akui Kekeliruan Kontrak Sewa Defender, Andi Harun: Siap Hentikan dan Audit |
|
|---|
| Kendala Operasional Insinerator Samarinda, Gaji Operator Rp2,5 Juta per Bulan |
|
|---|
| Samarinda Masuk 7 Kota Paling Maju di Indonesia Versi BRIN IDSD 2025 |
|
|---|
| Samarinda Waspada Kemarau Ekstrem, Walikota Terbitkan Imbauan Kesiapsiagaan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260417-musim-kemarau.jpg)