Jumat, 29 Mei 2026

Berita Samarinda Terkini

Kisah Napi Lapas Samarinda Sulap Lahan Sempit Jadi Lumbung Pangan

Bagi sebagian besar orang, dinding-dinding itu adalah simbol dari ruang gerak yang mati. Sebuah tempat di mana manusia dikurung 24 jam

Tayang:
TRIBUNKALTIM.CO/Gregorius Agung Salmon
KETAHANAN PANGAN -  Area bagian belakang dan samping kiri kanan Lapas Kelas II A Samarinda yang dioptimalkan menjadi area ketahanan pangan yang luar biasa. (TRIBUNKALTIM.CO/GREGORIUS AGUNG SALMON) 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Dari luar, gedung itu tampak kokoh sekaligus tampak terlihat mengintimidasi.

Pagar tinggi berbalut kawat duri menjadi sekat pemisah yang tegas dengan dunia luar. 

Berdiri di atas lahan yang terbilang mungil untuk ukuran tempat penahanan hanya sekitar 1.500 meter persegi, Lapas Kelas IIA Samarinda yang berada di jalan Jenderal Sudirman itu, benar-benar terjepit di tengah padatnya pemukiman penduduk serta diapit oleh megahnya bangunan Gereja Katedral dan kompleks sekolah.

Bagi sebagian besar orang, dinding-dinding itu adalah simbol dari ruang gerak yang mati. Sebuah tempat di mana manusia dikurung 24 jam penuh tanpa bisa berbuat apa-apa.

Namun, jika melangkah lebih dalam ke bagian belakang dan samping kiri kanan lapas, asumsi itu seketika runtuh. Di atas lahan sempit yang lebarnya hanya berkisar satu hingga dua meter, bahkan permukaannya sudah tertutup semenisasi itu kehidupan justru sedang berdenyut dengan cara yang unik.

Keterbatasan ruang nyata-nyatanya tidak memasung kreativitas.

Baca juga: Terima 48 WBP Baru, Lapas Samarinda Kelebihan Penghuni hingga 300 Persen

Di bawah instruksi Kepala Lapas Yohanis Varianto, lorong-lorong sempit yang tersisa dioptimalkan menjadi area ketahanan pangan yang luar biasa.

Di samping kiri dan belakang, instalasi hidroponik berdiri rapi, memamerkan hijaunya sayur pakcoy dan seledri yang segar, berdampingan dengan rimbunnya tanaman lombok yang baru.

Disisi yang sama, terdapat kolam-kolam ikan minimalis yang menjadi rumah bagi sekitar 2.000 ekor bibit ikan lele.

Sementara di sudut bagian belang terdengar riuh suara 50 ekor ayam petelur yang setiap harinya produktif menghasilkan sekitar 35 butir telur.

Tak hanya itu, mereka juga sedang bangun kandag ayam kampung sepanjang sisi kana Lapas itu.

"Kami mengoptimalkan lahan yang ada atas perintah Bapak Kalapas," ujar Gunawan, Kasi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Samarinda.

Sistem pengelolaannya pun dibuat rapi. Hasil panen sayur, ikan, dan telur ini nantinya dipasarkan untuk kebutuhan internal lapas. 

"Kita ada dapur yang bekerja sama dengan pihak ketiga, jadi kita setor ke sana. Kalau panennya sedang sedikit, kita distribusikan lewat koperasi lapas untuk dikonsumsi sendiri," tambah Gunawan.

Seluruh roda produktivitas di gang sempit ini digerakkan oleh jemari para warga binaan. Ada tujuh narapidana yang terpilih, dua orang di peternakan, dua di hidroponik, dan lainnya lagi di bagian perikanan.

Tentu saja, mereka tidak bekerja sendirian. Pengawasan ketat dan pembinaan melekat dari petugas lapas menjadi menu wajib setiap hari, baik dari segi keamanan maupun edukasi teknis. Petugas turun langsung memberikan arahan tentang kebersihan kandang, dosis vitamin, hingga formula nutrisi tanaman.

"Tujuan utamanya adalah bekal. Kami mempekerjakan warga binaan di sini supaya nanti setelah masa pidananya selesai dan mereka bebas, mereka bisa mengaplikasikan keterampilan ini di tengah masyarakat," jelasnya.

Salah satu warga binaan yang mendapat berkah dari program ini adalah Wahyu Rahmadi.

Sehari-hari, Wahyu bisa kita sebut sebagai manajer bagi puluhan ayam petelur di lapas. Berteman dengan bau pakan dan riuhnya peternakan mini menjadi caranya menghabiskan waktu dengan cara yang positif.

"Tiap hari tugasnya kasih makan, minum, kasih vitamin, dan bersihkan kandang biar ayamnya tidak kena virus," ungkapnya.

Merawat ayam sebenarnya bukan hal baru bagi Wahyu. Jauh sebelum mengenakan baju tahanan, ia mengaku pernah memelihara ayam bangkok di rumahnya.

Namun, ilmu peternakan modern dan higienis justru baru ia dapati di balik jeruji besi ini.

"Di sini kami dilatih dari awal. Sekarang, saya bahkan bisa tahu ayam itu sehat atau sakit cuma dengan melihat bola matanya dan posisi kepalanya," ujarnya.

Baca juga: 48 WBP Baru Dipindah ke Lapas Samarinda, Jalani Skrining dan Mapenaling

Bagi Wahyu, program ini adalah oase di tengah masa hukuman yang menjemukan. Alih-alih merasa terkurung dan frustrasi, ia justru menemukan kedamaian baru di gang sempit itu.

"Senang pak, bahagia rasanya menjalani peternakan ini. Tenang karena ada kegiatan yang positif. Insya Allah, kalau nanti sudah keluar, saya mau kembangkan lagi peternakan seperti ini di luar," tutupnya. (*)

 

 

 

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved