Harga Pertamax Naik
Harga Pertamax Naik, Driver Online di Balikpapan Terjepit Beban Operasional
Bagi para mitra pengemudi, kenaikan harga yang mencapai lebih dari Rp4.000 per liter ini bukan sekadar penyesuaian harga
Penulis: Zainul | Editor: Budi Susilo
Ringkasan Berita:
- Kenaikan harga Pertamax di Balikpapan memberatkan pengemudi transportasi daring;
- Biaya operasional membengkak sementara tarif penumpang cenderung stagnan;
- Pengemudi terpaksa lebih selektif dalam menerima pesanan demi menjaga penghasilan;
- Sebagian pengemudi mulai mempertimbangkan untuk beralih profesi akibat tekanan ekonomi.
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Kenaikan harga BBM jenis Pertamax menjadi Rp16.650 per liter di Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, memicu gejolak bagi para pengemudi ojek dan taksi online.
Di tengah ketatnya persaingan tarif dan maraknya potongan harga dari aplikasi, lonjakan biaya operasional ini membuat mereka semakin terimpit ekonomi.
Bagi para mitra pengemudi, kenaikan harga yang mencapai lebih dari Rp4.000 per liter ini bukan sekadar penyesuaian harga, melainkan pemangkasan langsung terhadap penghasilan bersih harian mereka.
Satu di antaranya, Mohammad Andika (42), pengemudi taksi online di Balikpapan, mengakui bahwa pola kerjanya kini berubah drastis.
Baca juga: Harga Pertamax Naik, Pendapatan Penyedia Mainan Odong-odong Balikpapan Anjlok hingga 70 Persen
Ia harus selektif menerima order, terutama untuk jarak jauh.
Dulu, kata dia, isi Pertamax Rp200 ribu bisa untuk dua hari. Sekarang, belum sampai satu setengah hari sudah habis.
"Sementara tarif penumpang stagnan, bahkan sering terpotong promo aplikasi," keluhnya, Jumat (12/6/2026) di Balikpapan.
Andika mencontohkan, untuk rute Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan ke Balikpapan Baru, pendapatan bersih yang diterima pengemudi semakin menipis setelah dikurangi biaya potongan aplikasi dan konsumsi BBM yang kini jauh lebih mahal.
Dilema Tarif dan Sepinya Order
Keluhan senada datang dari Parman (35), pengemudi ojek online di kawasan Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Menurutnya, masalah utama bukan sekadar kenaikan harga Bahan Bakar Minyak non-subsidi, melainkan ketidakseimbangan antara biaya operasional dan pendapatan di lapangan.
"Tarif tidak naik, malah banyak diskon dari aplikasi. Penumpang tentu senang karena murah, tapi beban di lapangan sepenuhnya ditanggung kami," ungkap Parman.
Baca juga: Dampak Kenaikan BBM Pertamax, UMKM Balikpapan Berjuang Pertahankan Harga Jual via Gas Subsidi
Dalam sehari, ia menghabiskan 4 hingga 5 liter Pertamax.
Dengan harga baru, pengeluaran BBM hariannya membengkak hampir Rp20 ribu.
Baginya, angka tersebut sangat signifikan saat kondisi order sedang sepi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260612_Ojol-Balikpapan-Terbebani-Harga-BBM.jpg)