Berita Samarinda Terkini
3 Alasan Program Parkir Berlangganan di Samarinda Masih Sepi Peminat, Ada Diskon 50 Persen
Program parkir berlangganan yang diinisiasi Pemerintah Kota Samarinda sejak 2025 lalu belum menunjukkan taji.
Penulis: Raynaldi Paskalis | Editor: Budi Susilo
Ringkasan Berita:
- Program parkir berlangganan di Kota Samarinda sejak 2025 masih minim peminat dengan hanya 300 kendaraan terdaftar;
- Rendahnya partisipasi disebabkan oleh sifat program yang opsional, tekanan ekonomi warga, dan kurangnya sosialisasi efisiensi biaya;
- Pemerintah Kota Samarinda memberikan diskon 50 persen untuk kendaraan kedua dan ketiga guna menarik minat masyarakat;
- Dinas Perhubungan melakukan strategi jemput bola dengan membuka gerai pendaftaran di pusat keramaian seperti CFD dan CFN.
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Program parkir berlangganan yang diinisiasi Pemerintah Kota Samarinda sejak 2025 lalu belum menunjukkan taji. Meski ditawarkan sebagai solusi efisiensi bagi warga, minat masyarakat untuk beralih ke sistem ini masih tergolong minim.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu, mengakui bahwa implementasi program ini belum masif.
Hingga saat ini, baru tercatat sekitar 300 kendaraan yang terdaftar sebagai peserta parkir berlangganan.
Angka ini tentu masih jauh dari potensi ideal, mengingat total populasi kendaraan di Samarinda mencapai hampir 971 ribu unit.
Baca juga: Dishub Samarinda Evaluasi Program Parkir Berlangganan yang Sepi Peminat
Mengapa program ini belum mendapat sambutan hangat dari warga? Berikut adalah tiga faktor utama yang memengaruhi:
1. Sifat Program yang Masih Opsional
Manalu menjelaskan bahwa program parkir berlangganan saat ini masih bersifat pilihan (opsional), bukan kewajiban.
Karena tidak bersifat memaksa, masyarakat cenderung memilih pola bayar konvensional di tempat setiap kali memarkir kendaraan mereka.
2. Tekanan Ekonomi dan Pola Hidup Hemat
Faktor ekonomi menjadi kendala terbesar di lapangan. Manalu mengamati bahwa daya beli masyarakat tengah mengalami tekanan akibat tingginya biaya hidup dan kenaikan harga bahan bakar.
Akibatnya, warga kini cenderung lebih selektif dalam menggunakan kendaraan.
"Banyak warga yang mulai berhemat dan tidak memakai semua kendaraan mereka secara bersamaan. Inilah yang membuat target pendapatan parkir perlu dievaluasi sesuai kondisi nyata di lapangan," ujar Manalu.
3. Kurangnya Sosialisasi Efisiensi Biaya
Meskipun pemerintah telah berupaya mengedukasi masyarakat, kesadaran akan efisiensi biaya sistem berlangganan tampaknya belum tersampaikan dengan optimal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260309-kendaraan-terparkir.jpg)