Home »

Opini

Opini

Pentingnya Kurikulum Literasi Media Sosial

Di banyak negara maju, pendidikan literasi media sudah menjadi agenda yang penting dengan memasukkannya ke dalam satuan kurikulum

Pentingnya Kurikulum Literasi Media Sosial
THINKSTOCK
Ilustrasi 

Decky Diyan Kesuma
deckydiyankesuma@rocketmail.com

Tulisan ini penulis buat sebagai respon atas banyaknya kasus penyalahgunaan media sosial yang menimpa masyarakat di Indonesia. Tidak hanya dari kalangan biasa,para artis juga turut menjadi sumber pelanggaran etika di media sosial. Kasus yang menimpa komedian sekaligus pelawak tunggal (Stand Up) Uus dan Ernest Prakasa menjadi cerminan bahwa penggunaan media sosial harus dilakukan secara arif dan bijaksana. Kasus pelanggaran etika media sosial sangat sering kali terjadi. Menurut penulis, ada berbagai macam pelanggaran-pelanggaran etika di media sosial,yaitu: Menyebarkan berita hoax, pencemaran nama baik,membully di media sosial,berjudi/taruhan di media sosial,berbagi foto orang meninggal,mengumpat dengan kata-kata kasar untuk meluapkan amarah,berbagi foto anak kecil merokok,berbagi foto korban perang,berbagi foto orang kecelakaan, upload foto tidak senonoh, penipuan belanja online,mengarahkan pengguna medsos mengetik like atau amin dengan iming-iming ke surga, sindiran berbentuk meme yang isinya menghujat,melecehkan,dan merendahkan,dsb.
Ketiadaan literasi media sosial di tengah tingginya pertumbuhan pengguna internet yang mencapai 132,7 juta di Indonesia menjadi salah satu penyebab banyaknya pelanggaran etika di media sosial. Hal ini harus diantisipasi dikarenakan pelanggaran etika di medsos sudah menjadi isu utama yang harus dicari jalan keluarnya. Untuk itu literasi media sosial sangat penting diajarkan, disosialisasikan,dan dipahami oleh setiap orang agar setiap orang yang memiliki media sosial bisa menggunakannya secara arif dan bijaksana. Sayangnya Pemerintah Indonesia tidak memiliki kurikulum standar mengenai literasi media sosial. Faktanya saat ini pendidikan literasi media yang ada di Indonesia, masih sebatas gerakan-gerakan yang belum terstruktur. Gerakan-gerakan tersebut dilakukan melalui seminar, roadshow, dan kampanye-kampanye mengenai literasi media sosial. Literasi media sosial tidak cukup bila disampaikan hanya dalam seminar berdurasi dua jam, atau dalam kampanye selama seminggu. Akibatnya, upaya-upaya memperjuangkan pendidikan literasi media sosial belum dapat dirasakan oleh semua pihak secara luas.
Di banyak negara maju, pendidikan literasi media sudah menjadi agenda yang penting dengan memasukkannya ke dalam satuan kurikulum pendidikan. Inggris, Jerman, Kanada, Perancis, dan Australia merupakan beberapa contoh negara yang telah melaksanakan pendidikan literasi media di sekolah.
Permulaan abad 21 menandakan perkembangan minat terhadap pendidikan media di beberapa negara. Literasi media ini dibangun sebagai alat pendidikan untuk melindungi orang-orang dari dampak negatif media. Di tahun 1930, Inggris merupakan negara pertama yang memunculkan isu mengenai literasi media. Sedangkan pada tahun 1960, Kanada memulai pendidikan literasi medianya.
Kanada merupakan negara yang mewajibkan literasi media di kawasan Amerika Utara. Setiap Provinsi di negara tersebut telah ditugaskan untuk melaksanakan pendidikan media dalam kurikulum. Peluncuran pendidikan literasi media dilakukan karena rentannya masyarakat Kanada terhadap budaya pop Amerika. Konsep literasi media menjadi topik pendidikan yang pertama kali muncul di Kanada pada tahun 1978. Amerika Serikat juga akhirnya menyadari pentingnya terdapat pendidikan literasi media di negaranya. Frank Baker, salah satu konsultan pendidikan media di Amerika Serikat, melihat beberapa materi yang telah dikembangkan oleh Kanada, Inggris dan Australia sebagai poin awal yang sangat baik, terutama dalam hal dukungan serta kurikulumnya. Hal tersebut dijadikan suatu pengalaman untuk mengembangkan pendidikan literasi media di Amerika Serikat.
Berkaca dari pengalaman negara-negara maju, sudah saatnya Pemerintah Indonesia memiliki kurikulum literasi media sosial berbasis norma-norma kebangsaan yang selalu menjadi ajaran teguh nenek moyang kita seperti: Semangat gotong royong,sopan terhadap orang yang lebih tua, menghormati orang yang lebih muda,bertenggang rasa,tolong-menolong,dsb sebagai dasar bahwa pengguna media sosial di Indonesia bisa lebih mencerminkan adab orang Indonesia sebagai orang ketimuran. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help