TribunKaltim/
Home »

Opini

Opini

Potret Pembangunan Manusia di Kalimantan Timur

Pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial

Potret Pembangunan Manusia di Kalimantan Timur
Tribunkaltim/Ayuk Fitri
Ilustrasi 

Basran
Kasi Statistik Kesra - Bidang Statistik Sosial
BPS Provinsi Kalimantan Timur
basranbps@gmail.com

Manusia adalah kekayaan bangsa yang sesungguhnya. Pembangunan manusia menempatkan manusia sebagai tujuan akhir dari pembangunan, bukan alat dari pembangunan. Sedangkan tujuan utama pembangunan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan rakyat untuk menikmati umur panjang, sehat, dan menjalankan kehidupan yang produktif (United Nation Development Programme - UNDP).
Pengalaman pada dekade 1970-an menunjukkan adanya tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi gagal memperbaiki taraf hidup sebagian besar penduduknya. Pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi-institusi nasional.
Konsep pembangunan manusia muncul untuk memperbaiki kelemahan konsep pertumbuhan ekonomi karena selain memperhitungkan aspek pendapatan juga memperhitungkan aspek kesehatan dan pendidikan. Pembangunan manusia didefinisikan sebagai proses perluasan pilihan bagi penduduk (a process of enlarging people's choice).
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dapat menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. IPM diperkenalkan oleh UNDP pada tahun 1990 dan dipublikasikan secara berkala dalam laporan tahunan Human Development Report (HDR). IPM dibentuk oleh 3 (tiga) dimensi dasar, yaitu (1)Umur panjang dan hidup sehat (a long and healthy life) yang berupa Angka Harapan Hidup Saat Lahir (life expectancy) yang mencerminkan derajat kesehatan masyarakat. (2)Pengetahuan (knowledge) yang berupa Angka Rata-rata Lama Sekolah (mean years of schooling) dan Angka Harapan Lama Sekolah (expected years of schooling) yang bertujuan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang yang diharapkan dapat dicapai oleh setiap anak. (3)Standar hidup layak (decent standard of living) yang berupa Pengeluaran per Kapita yang disesuaikan dan ditentukan oleh pengeluaran per kapita dan paritas daya beli (purcashing power parity). IPM merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk). IPM dapat menentukan peringkat atau level pembangunan suatu wilayah/negara. IPM merupakan informasi strategis karena selain sebagai ukuran kinerja Pemerintah, IPM juga digunakan sebagai salah satu alokator penentuan Dana Alokasi Umum (DAU). Klasifikasi capaian IPM dibagi menjadi 4(empat) kategori yaitu: (1)Kategori Sangat Tinggi apabila capaian IPM diatas nilai 80, (2) Kategori Tinggi apabila nilai IPM berada direntang 70 hingga 79, (3) Kategori Sedang apabila berada direntang 60 hingga 69 dan (4) Kategori Rendah apabila nilai IPM dibawah 60.
Hasil penghitungan IPM tahun 2016 oleh Badan Pusat Statistik melalui analisis proyeksi penduduk hasil Sensus Penduduk 2010 (SP2010) dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan bahwa Provinsi Kalimantan Timur berada di posisi ketiga dengan skor 74,59, berada di bawah DKI Jakarta (1) dan DI Yogyakarta (2) namun berada di atas Provinsi Kepulauan Riau (4) dan Bali (5). Peringkat tersebut masih sama dengan peringkat di tahun 2015. Sedangkan Provinsi Kalimantan Utara yang merupakan pecahan dari Kalimantan Timur bertengger di posisi ke 20.
Menilik lebih dalam terhadap indikator yang membentuk IPM, kita boleh bangga dengan Angka Harapan Hidup (AHH) yang sudah mencapai 73,68 tahun dan Harapan Lama Sekolah (HLS) berkisar 13,35 tahun (setara dengan DI/DII), namun ada hal yang harus dibenahi dan ditingkatkan yaitu rata-rata lama sekolah yang masih dikisaran 9,24 tahun atau setara dengan kelas 1 SLTA. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) ini didefinisikan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal. Diasumsikan bahwa dalam kondisi normal rata-rata lama sekolah suatu wilayah tidak akan turun. Cakupan penduduk yang dihitung dalam penghitungan rata-rata lama sekolah ini adalah penduduk yang berusia 25 tahun keatas. Untuk meningkatkan angka rata-rata lama sekolah memang memerlukan waktu yang relatif cukup lama karena saat ini masih banyak penduduk yang berusia 50 tahun keatas yang tidak tamat SD atau SLTP.
Berdasarkan IPM tahun 2016 menurut kabupaten/kota yang ada di Kalimantan Timur, Kota Bontang menduduki peringkat teratas dengan skor 78,92 dan berbeda sangat tipis dengan Kota Samarinda dengan skor 78,91. Selanjutnya disusul oleh Kota Balikpapan (78,57), Berau (73,05) dan Kutai Kartanegara (72,19). Sedangkan Kabupaten Mahakam Ulu berada diposisi terakhir dengan skor 65,51.
Upaya untuk meningkatkan IPM tidak bisa hanya dengan keinginan Pemerintah Daerah, baik Pemerintah Provinsi maupun kabupaten/kota, partisipasi aktif masyarakat sangat dibutuhkan. Mereka harus mau diajak untuk meningkatkan jenjang pendidikan, masyarakat juga harus mau mengikuti pola hidup bersih dan sehat, serta mau bekerja keras untuk meningkatkan penghasilannya. Dalam meningkatkan IPM hakikatnya adalah meningkatkan kesejahteraan dan keadilan masyarakat, tentu saja bukan sebuah pekerjaan instan yang hasilnya bisa dilihat seperti membalik telapak tangan. Dibutuhkan waktu yang memadai untuk bisa melihat perubahan yang diinginkan yaitu dari 3 sampai 5 tahun kedepan. Dengan kata lain masyarakat harus paham, bahwa perubahan itu membutuhkan waktu. (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help