Ketua DPRD Banjarmasin Jadi Tersangka, KPK Amankan Uang Tunai Rp 48 Juta

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Ketua DPRD Banjarmasin Iwan Rusmali dan Wakil Ketua DPRD, yang juga Ketua Pansus Perda Penyertaan Modal

Ketua DPRD Banjarmasin Jadi Tersangka, KPK Amankan Uang Tunai Rp 48 Juta
HARIAN SURYA/AHMAD FAISOL
Salah satu foto Fuad Amin Imron saat ditangkap penyidik KPK di kediamannya yang beredar luas di jejaring sosial, Selasa (2/12/2014). 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Ketua DPRD Banjarmasin Iwan Rusmali dan Wakil Ketua DPRD, yang juga Ketua Pansus Perda Penyertaan Modal PDAM Andi Effendi sebagai tersangka. Mereka disangka menerima suap terkait persetujuan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) penyertaan modal Kota Banjarmasin kepada PDAM sebesar Rp 50,5 miliar.

"KPK meningkatkan status penanganan perkara sekaligus menetapkan empat orang tersangka," ucap Wakil Ketua KPK Alexander Marwata, di Kantor KPK, Jumat (15/9). Tersangka lainnya, Direktur Utama PDAM Bandarmasih Muslih dan Manajer Keuangan PDAM Bandarmasih Trensis.

Muslih dan Trensis diduga memberikan suap kepada Iwan dan Andi untuk menyetujui raperda itu."(Suap) untuk memuluskan persetujuan raperda penyertaan modal Kota Banjarmasin kepada PDAM," sebut Alexander. KPK menyita uang Rp 48 juta yang merupakan bagian dari Rp 150 juta sebagai bukti transaksi.

Alexander Marwata mengatakan uang suap Rp150 juta yang diterima Iwan berasal dari rekanan PDAM, PT Chindra Santi Pratama (CSP). Diketahui, PT Chindra Santi Pratama pada 11 September 2017 menyerahkan uang Rp 150 juta tersebut kepada Muslih.

Pada 12 September 2017, uang itu disimpan di dalam brankas milik Muslih. Selang dua hari kemudian Muslih memerintahkan Trensis untuk mengambil uang di brankas sebesar Rp 100 juta, lalu meminta Rp 5 juta untuk dirinya sebagai pengganti pemberian terdahulu kepada Iwan.

Pada pukul 11.00 WIB, Trensis memberikan uang kepada Andi sebesar Rp 45 juta di kantor DPRD Kota Banjarmasin. Siang harinya, Andi menemui Trensis di kantor PDAM untuk mengambil sisa uang yang belum diberikan sebesar Rp 50 juta.

"Dalam OTT ini KPK amankan uang tunai Rp 48 juta. Uang itu diduga bagian dari Rp150 juta, yang diterima Dirut PDAM dari pihak rekanan," ujar Alexander. Ia menduga uang yang diserahkan Muslih itu sudah dibagi-bagikan kepada anggota DPRD Banjarmasin lainnya.

Iwan Rusmali dan Muslih tiba di kantor KPK, Jakarta, sekira pukul 14.50 WIB setelah diterbangkan dari Banjarmasin. Iwan tampak mengenakan kemeja biru dan jaket berwarna hijau, membawa satu koper hitam.

Sedangkan Muslih mengenakan kemeja abu-abu dan menenteng tas ransel warna hitam. Mobil kedua membawa Andi Effendi dan Manajer Keuangan PDAM Bandarmasih Trensis. Para tersangka terkena operasi tangkap tangan (OTT) menjelang tengah malam, Rabu (14/9).

Editor: Sumarsono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved