Gempa dan Tsunami Sulteng

Kisah Korban Likuefaksi di Palu 'Dalam Hati Saya Harus Tetap Hidup'

saya pikir tak mungkin ini tsunami karena rumah kan jauh dari laut. Saya lihat pohon dan tiang listrikk ini bergerak dan seperti berjalan

Kisah Korban Likuefaksi di Palu 'Dalam Hati Saya Harus Tetap Hidup'
Tribun Kaltim/Samir
Cendy, Korban Gempa di Palu 

TRIBUNKALTIM.CO - Wajah Cendy (47) tampak ceria. Ia selalu melempar senyum setiap orang yang berjabat tangan.

Cendy merupakan satu dari puluhan pengungsi korban gempa dan tsunami serta likuefaksi di Sulawesi Tengah, di sementara tinggal di rumah kerabatnya di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Sementara istri, Andi Ulfa dan anak semata wayang, Aira (12) sampai sekarang belum ditemukan dan diduga menjadi korban likuifaksi.

Saat menghadiri penyerahan bantuan sembako kepada korban, di Halaman Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kamis (18/10/2018) menuturkan, pada awalnya ia bersama istri dan anaknya sedang berada di rumah menjelang Magrib.

Tak lama kemudian, tiba-tiba terjadi gempa dan memutuskan untuk keluar rumah dan duduk di halaman untuk menghindari bangunan roboh.

Hanya berselang lima menit, tiba-tiba tanah bergerak termasuk pohon kelapa dan tiang listrikdan rumah warga bergerak seperti berjalan.

Baca: Stok Makanan Kian Menipis, Pengungsi Gempa Palu Khawatirkan Kondisi Anak-anak dan Bayi

Saat itu ia mendengar suara gemuruh namun belum tahu penyebabnya.

"Tapi saya pikir tak mungkin ini tsunami karena rumah kan jauh dari laut. Saya lihat pohon dan tiang listrikk ini bergerak dan seperti berjalan. Saya baru sadar setelah atap rumah mulai roboh dan akhirnya saya tarik tangan istri dan anak untuk berlari. Tapi kami sudah terlambat untuk menyelamatkan diri," ujarnya.

Setelah itu, ia berhenti di tembok yang sudah runtuh untuk berlindung. Namun tak lama lagi terjadi gempa dan kemudian ia langsung melompak masuk ke rawa-rawa di Perumahan Graha Estetika, Kelurahan Petono, Kota Palu, Sulteng. Saat masuk di rawa-rawa ia mengira istrik dan anaknya juga ikut terjun ke rawa-rawa.

Tak lama kemudian badannya masuk ke dalam tanah dan tertimbun. Namun saat itu, ia selalu berusaha agar bisa terus hidup.

"Dalam hati saya, harus tetap hidup, Harus hidup sehingga saya terus berjuang agar bisa terus hidup," kataya.

Baca: Kisah Heroik Anggota Basarnas, Rela Kehilangan Istri demi Selamatkan Korban Gempa Palu

Setelah itu, Cendy mulai sadar melihat cahaya dan lama-lama semakin terang. Kemudian ia mengangkat tangan dan tak lama kemudian ada warga yang menolong. Puluhan orang yang berada di lobang bersama dirinya kemudian diangkat satu persatu ke atas untuk diselamatkan. Awalnya ia mengira bersama dengan istri dan anaknya.

"Saya kira anak dan istrik ikut ternyata setelah semua naik, baru sadar anak dan istri tak ada. Kemudian teriak di lokasi untuk mencari karena belum sadar bahwa saya terseret dalam tanah," katanya.

Ia mengatakan, sudah mendapat daftar para korban likuifaksi dan terterah nama istrinya. Untuk saat ini, masih berharap mayatnya ditemukan apalagi masih melakukan komunikasi dengan keluarga yang bertugas membantu para korban.

Setelah ditinggal istri dan anak, Cendy mengaku ikhlas karena sudah menjadi kehendak Allah SWT. Mengenai rencana pulang ke Palu, ia mengatakan rencana untuk kembali memang ada, apalagi hak istrinya sebagai PNS guru di SMPN 1 Palu pasti akan diberikan pemerintah. "Tapi sementara belum karena masih ada trauma. Tapi saya akan kembali ke sana, ujarnya.

Penulis: Samir
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved