Virus Corona di Kaltara
Bandara Juwata Tarakan Belum Berlakukan Pembatasan Penerbangan Kala Pandemi Corona
Bandara Juwata Tarakan Kalimantan Utara belum berlakukan permintaan Walikota Tarakan, dr. Khairul di tengah pandemi covid-19 atau Corona.
Penulis: Risnawati | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Berkenaan dengan surat yang diajukan Pemerintah Kota Tarakan terkait pembatasan penerbangan, Bandara Juwata Tarakan Kalimantan Utara belum berlakukan permintaan Walikota Tarakan, dr. Khairul di tengah pandemi covid-19 atau virus Corona.
Diketehui Walikota Tarakan, dr. Khairul meminta pembatasan penerbangan yakni hanya 1 penerbangan dalam sehari.
Alasan pembatasan tersebut, agar jumlah penumpang yang masuk ke kota Tarakan dapat berkurang. Sehingga hal tersebut dapat mengurangi jumlah pantauan yang ditangani oleh pemerintah kota Tarakan melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan covid-19 Kota Tarakan, Kalimantan Utara.
Tak hanya mengurangi pantauan penumpang yang turun di Kota Tarakan, menurutnya hal itu juga dapat mengurangi resiko pertambahan jumlah pasien positif di kota Tarakan.
Kepala Bandara Juwata Tarakan, Agus Priyanto mengatakan pihaknya belum bisa memenuhi permintaan dari Walikota Tarakan, dr. Kahirul. Mengingat perlu terlebih dahulu mendapatkan izin dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.
BACA JUGA:
• Pasien Positif Covid-19 Tambahan di Samarinda, Bukan dari Kluster Manapun, Riwayat ke Acara di Bogor
• Lawan Covid-19, Warga Pesona Bukit Batuah dan Taman Sari Balikpapan Resmi Karantina Wilayah
• Karantina Wilayah Pesona Bukit Batuah dan Taman Sari Balikpapan, Begini Penerapan Sistem Keamanannya
"Pak Walikota menghendaki untuk flight itu hanya1 flight, nah ini yang diajukan pak walikota kepada pak menteri perhubungan tapi saya tidak tahu apakah kebijakan pak menteri perhubungan yang akan di sampaikan.
Dari pak wali ( Walikota Tarakan ) langsung ke Menteri (Perhubungan) saya dapat tembusan tadi. Jadi sampai sekarang kami masih berjalan sesuai dengan skenario kami," ujarnya, Kamis (9/4/2020).
Ia menuturkan cukup sulit untuk menyikapi permintaan dari Walikota Tarakan, Kalimantan Utara.
Meski demikian, pihaknya telah membatasi jumlah destinasi dalam tiap harinya.
"Jadi kita sudah melakukan pembatasan itu maksimal kita bisa melakukan pembatasan itu dengan flight 1 hari 1 tempat destinasi, tapi kalau 1 pesawat agak sedikit gimana ya agak sedikit susah untuk kita menyikapinya.
Misalkan kita menentukan 1 flight dimana tujuan dari pengeriman spesimen itu ke Surabaya, pada saat di Surabaya tidak ada demand, ya ndak diterbangkan ya kan, spesimen yang dari situ kita tidak bisa tunggu dari Surabaya," ungkapnya.

Ia mengkhawatirkan jikalau memberlakukan 1 penerbangan dalam sehari, itu dapat berpengaruh dengan spesimen covid-19 yang harus dikirimkan ke Surabaya, karena jika tidak ada penumpang yang menuju kota Tarakan atau sebaliknya, maka tidak akan ada penerbangan.
"200 penumpang itu bisa 1 flight, cuma sekarang hubungannya dengan demand, kalau kita mempertahankan 1 flight apakah demand 1 flight itu terpenuhi? kalau tidak ada demand nanti 1 flight ini tidak akan bisa diterbangkan oleh Airline, efeknya apa? spesimen covid-19 yang harus kita kirimkan ke surabaya atau ke tempat lain ndak ada flight lagi, itu kayak saling berhubungan satu dengan yang lain.
Jadi kalau dibatasi 1 flight nanti 1 flight itu tidak ada demand ya tidak terbang, nanti tidak ada pengiriman spesimen lagi lewat udara, lewat laut dengan menggunakan kapal kargo berapa hari kita bisa sampai ke tempat tujuan. Kira-kira itu," jelasnya.
IKUTI >> Update virus Corona
IKUTI >> Update virus Corona di Kaltara
( TribunKaltim.co/Risnawati )