Citizen Journalism

(Robohnya) Jembatan Kami

Awalnya tak percaya. Karena semalam saya baru melewatinya. Saya juga membayangkan jembatan itu sangat susah roboh.

(Robohnya) Jembatan Kami
tribun kaltim/Nevrianto Hardi Prasetyo
Runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara

Lalu, di sepanjang jalan, saya membayangkan. Jika jembatan ini terputus, mungkin akan butuh dua atau tiga tahun untuk membangun kembali. Atau, jika keuangan Pemkab sedang sehat, mungkin perlu diambil langkah berani dengan membangun segera jembatan itu dengan pembiayaan tahun jamak. Dengan dana sebesar 7 triliun, Kukar bisa menganggarkan pembangunan jembatan kembali.

Selama terputusnya jembatan penghubung, tentu saja akan ada kepanikan massal, setidaknya hingga satu atau dua minggu ke depan. Terutama terkait transportasi yang selama ini memudahkan masyarakat dari dan ke Samarinda atau sebaliknya. Perlu ada langkah cepat dan taktis untuk mengngkut manusia, kendaraan dan keperluan masyarakat yang selama ini rutin diseberangkan lewat jembatan.

Pasca bencana, kemungkinan harga kebutuhan pokok dan yang lainnya akan mahal. Biaya hidup bisa jadi lebih tinggi dari sebelumnya. Bisakah Dinas terkait nanti melakukan operasi pasar dan atau membuat regulasi agar bahan-bahan kebutuhan rakyat tidak dipermainkan ya?. Yah, mudah-mudahan saja bisa. Sebab kalau tak bisa, yang kasihan tentu rakyat kecil. Seperti saya.
Saat diam dalam perjalanan itulah, tiba-tiba, mobil ambulans yang mengangkut korban lewat di samping saya. Dan hati saya menjadi miris, melihat kondisi mobil yang sudah sangat tua dan tak lagi lincah. Bisakah Pemkab Kukar mengganti mobil ambulans rumah sakit daerah yang tua itu? Penyediaan mobil ambulans adalah salah satu ciri kecil buruk atau tidaknya pelayanan publik di Kukar.

Bagaimana mungkin kita bisa menyakini bahwa pelayanan publik di Kutkar sudah demikian baik? Karena, jangankan di 17 kecamatan pelosok, di kecamatan Kota Tenggarong saja sudah sedemikian buruk.

Saya mendengar, ruangan inap Rumah Sakit Daerah di Tenggarong juga sangat kumuh sekali. Kontras dengan APBD nya yang sangat besar. Kontras dengan gaya hidup para petinggi-petingginya. Bagaimana dengan pelayanan publik yang lain?. Saya yakin nasibnya sama. Kan lucu, kalau pejabat akhirnya bukan jadi pelayan rakyat tapi malah jadi pelayan diri sendiri. Mungkin, yang tak kalah pentingnya adalah audit seluruh proses pembangunan fisik termasuk Jembatan dan yang lainnya di Kutai Kartanegara.

Audit ini penting agar menjadi rambu-rambu yang tegas bagi para pelaksana proyek dan pemberi anggaran. Saya membaca celoteh kawan saya di jejaring sosial, seperti Jembatan Ampera usianya hampir delapan puluh tahun, tapi masih kokoh. Satunya lagi berkata, "Jembatan Mahakam di Samarinda bisa kuat dan tahan lama karena dibangun orang yang profesional."
Satunya lagi lebih lugas, "Di Tenggarong, apa-apa dikorupsi sih."

Menyakitkan memang. Tapi sepertinya itu kenyataan. Saya melihat, banyak sekali proyek yang berjalan di Kutai Kartanegara yang tidak sesuai spesifikasi, tak berumur panjang dan penuh dengan kecurangan. Penguasaan proyek-proyek fisik baik besar atau kecil oleh sebuah tim kecil yang konon mewakili penguasa tentunya sudah menjadi rahasia umum dan menjadi perbincangan sehari-hari di semua SKPD. Saya hanya mengelus dada.

Ingat kan, kenapa Tuhan menutup jalan bagi Firaun setelah Laut Merah terbelah?. Penyebabnya hanya satu, Firaun terlalu angkuh menyandingkan kekuatannya dengan kekuatan Tuhan. Mungkin karena Firaun kaya, banyak uang, gagah dan berkuasa. Boleh jadi, Jembatan Kutai Kartanegara bisa runtuh karena makin menyeruaknya jiwa Firaun dalam diri kita.
Sementara jiwa-jiwa Musa makin larut atau makin cadel melebihi Musa, hingga tak mampu berkata-kata lantang dan benar lagi. Mungkin juga karena semua rakyat yang sadar, makin abai atas semua hal yang terjadi. Jembatan itu pengubung. Ia menjadi penyambung segala keperluan.

Mungkin saja, kita dianggap Tuhan sudah tak memerlukan jembatan itu lagi. Karena kita telah memutus penghubung diri kita dengan Tuhan. Mungkin saja, kita sudah tak memerlukan jembatan itu lagi, karena para pemimpin telah memutus penghubung dirinya dengan rakyatnya.

Saya berduka untuk korban di Jembatan Tenggarong. Informasi terakhir jumlahnya sudah sampai 4 orang. Lamat-lamat adzan maghrib mengudara di masjid-masjid. Saya pacu motor dengan kecepatan penuh. Mengantarkan air kelapa untuk obat alergi keluarga di rumah. Semoga saja, rakyat Kutai Kartanegara mulai alergi juga. Mulai gatal-gatal juga, karena "ikan" yang diberikan "tak lagi utuh" dan "tak lagi segar". Jadi semakin banyak yang mencari obatnya. Semakin banyak yang mencari obat sakit, semakin baik. Bupati pasti senang karena banyak yang membantunya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved