Kolom Rehat
May Day, Mayday, M'aidez
Semakin malam hujan semakin deras. Sebagian massa mulai beranjak pulang saat Samuel Fielden, melakuan orasi yang semakin liar,
Oleh: ARIF ER RACHMAN
HAYMARKET Square, Chicago, 4 Mei 1886. Matahari baru saja terbenam diiringi gerimis. Sekitar 3.000 orang yang sebagian besar adalah imigran Jerman dan Irlandia berkumpul dalam unjuk rasa mendukung para buruh yang mogok menuntut diberlakukannya waktu kerja hanya 8 jam sehari tanpa adanya potongan gaji.
Demo yang juga merupakan reaksi dari insiden sehari sebelumnya saat moncong senjata polisi menewaskan dua buruh yang mogok menuntut kesejahteraan itu awalnya berlangsung damai.
Satu per satu orang bicara di atas kereta yang dijadikan sebagai mimbar, termasuk Albert Parsons, wartawan berfaham anarkis yang juga pendiri Asosiasi Buruh Internasional (International Working People's Association/IWPA).
Tujuannya adalah memberikan gambaran situasi umum terbaru mengenai gerakan menuntut diberlakukannya '8 jam kerja' dan insiden-insiden terkait tuntutan tersebut.
Sejumlah polisi yang sedang tidak bertugas hanya ikut menyaksikan unjuk rasa sambil sesekali menaikkan kerah mantel mereka tanpa niat membubarkan unjuk rasa. Walikota Chicago, Carter Harrison Sr, pun hanya mampir sebentar dan segera pulang karena melihat suasana aman dan terkendali.
Semakin malam hujan semakin deras. Sebagian massa mulai beranjak pulang saat Samuel Fielden, seorang sosialis asal Inggris, melakuan orasi yang semakin liar dan membakar-bakar dengan anjuran-anjuran pada kekerasan.
Beberapa saat setelah Fielden selesai berorasi sekitar pukul 22.30, ratusan polisi bergerak membentuk formasi ke arah mimbar. Komandan mereka meminta massa segera bubar meski Fielden berkeras bahwa unjuk rasa itu berlangsung damai.
Tiba-tiba saja sebuah bom buatan tangan berisi bubuk dinamit dilemparkan ke arah polisi dan langsung meledak. Beberapa polisi tewas seketika disusul dengan saling tembak antara polisi dan demonstran.
Kericuhan ini berlangsung singkat. Tak lebih dari lima menit lapangan Haymarket langsung sepi kecuali tubuh-tubuh korban. Tujuh polisi dan sedikitnya empat buruh tewas. Tak kurang dari 70 lainnya luka-luka.
Insiden ini sempat membuat kata 'buruh' menjadi buruk dan dikaitkan dengan kekerasan. Beberapa organisasi dan pengusaha memberikan dukungan pada polisi. Razia semakin sering dilakukan pada perkumpulan buruh berfaham anarki yang diduga sebagai pembuat bom.
Tapi insiden ini pula yang membuat perjuangan buruh semakin dilihat dan diperhitungkan. Insiden ini dijadikan landasan oleh Second International -- organisasi partai-partai buruh dan sosialis dari seluruh dunia yang dibentuk di Paris pada 1889 -- sebagai Hari Buruh Internasional yang diperingati tiap 1 Mei, yang kemudian dikenal sebagai May Day.
Hingga saat ini May Day terus diperingati di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, dengan aksi unjuk rasa massal dan kegiatan-kegiatan lain.
Pada masa senja jabatannya tahun lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahkan menjadikan May Day sebagai hari libur nasional.
