Salam Tribun

Cula dan Manusia Tercela

Pada 2014, perburuan liar badak di Afrika diperkirakan kembali memecahkan rekor. Harga cula badak di pasar gelap kini jauh lebih tinggi dari emas.

TRIBUN KALTIM
Trinilo Umardini 

Trinilo Umardini
treumardini@gmail.com

BUMI semakin tua. Manusia bertambah banyak dan keseimbangan alam pun kian terdesak.

Dunia semakin sempit. Bukan saja oleh populasi manusia yang semakin melangit, tapi juga sikap serakah yang tak kunjung habis. Saat ini populasi manusia di planet bumi --berdasarkan Biro Sensus Amerika Serikat --pada 1999 mencapai 6 miliar.Proyeksi baru menunjukkan pada 2012 mencapai 7 miliar, dan pada 2044 bakal ada 9 miliar jiwa penduduk dunia.

Sementara sebaliknya, jumlah populasi hewan dan tumbuhan angkanya semakin kerdil. Perjuangan mereka untuk hidup semakin kompetitif. Lama-lama menjadi langka akibat ketamakan manusia.

Sebuah contoh dari satu habitat yang butuh kepedulian tinggi untuk bisa terus hidup adalah badak. Saat ini, cuma terdapat lima jenis badak yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya terdapat di Indonesia yaitu badak Jawa Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak Sumatera (Dicherorinus sumatrensis).

Baca: Mengharukan, Usaha Seekor Badak Menyelamatkan Anak Kuda ...

Kedua jenis satwa langka dan dilindungi ini dikategorikan dalam status kritis terancam punah (critically endangered species) oleh Daftar Merah IUCN. Populasi badak Jawa hanya tersisa sekitar 50 individu di alam, yaitu di Taman Nasional Ujung Kulon (Banten) – dengan jumlah individu yang kecil dan hanya berada dalam satu populasi yang sangat rentan terhadap kepunahan.


SATWA NET -- Badak Jawa

Sedangkan badak Sumatera hanya tinggal sekitar 200 individu, tersebar di Taman Nasional Gunung Leuser (Aceh), Bukit Barisan Selatan (Lampung), dan Waykambas (Lampung).

Di belahan dunia lain, jenis badak putih utara tersisa empat ekor. Tiga ekor betina dan satu ekor jantan. Satu ekor hidup di Kebun Binatang San Diego, AS dan tiga ekor lainnya di Konservasi Ol Pejeta, Kenya. Sub-spesies ini diambang kepunahan lantaran selama beberapa tahun diburu dan kehilangan habitat.

Pada 2014, perburuan liar badak di Afrika diperkirakan kembali memecahkan rekor. Harga cula badak di pasar gelap kini jauh lebih tinggi dari emas, dengan permintaan terbesar datang dari Vietnam.

Pemburu liar dari desa-desa termiskin di Mozambik menyusup ke Afrika Selatan, lengkap dengan senjata. Mereka datang untuk berburu badak. Uang yang mereka hasilkan dari hanya satu badak cukup untuk memberi makan keluarga selama berbulan-bulan. Imbalan yang setimpal dengan risikonya.

Antara 1990 dan 2007 pemburu liar membunuh rata-rata 14 badak per tahun di Afrika Selatan. Tahun 2013 jumlahnya lebih dari seribu, dan hingga pertengahan tahun ini 558 badak sudah dibunuh demi cula mereka di Afrika Selatan, untuk kemudian dijual di Asia.

Hanya perlu 48 jam untuk mengirim cula badak dari Afrika Selatan ke Asia. Banyak pembeli kaya di Asia yang gemar memamerkan kekayaan dengan cula badak dan gading gajah. Di Vietnam, yang menjadi pasar terbesar, kaum elit bahkan suka mencampur serbuk cula badak ke dalam minuman.

Demi status, gengsi, atau prestise, kaum kaya yang tak punya hati dan perikebinatangan ini seolah tak peduli dengan keberadaan badak. Lewat tangan orang lain – kaum miskin yang butuh makan – mereka menikmati cula seolah tak pernah mengetahui ada ribuan badak yang kesakitan begitu culanya diambil.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved